Penantian Kinara

Penantian Kinara
Bersikap Aneh


__ADS_3

''Maafkan Abang, sayang .. maaf..'' lirih Lana merasa bersalah ketika melihat wajah ayu Kinara mendadak masam. Dan tidak bersahabat padanya.


''Nggak ada yang perlu dimaafin! Adek ini siapa Abang?? Bukan siapa-siapa kan?? lepaskan aja rasa rindu Abang Sama istri abang! Adek nggak Pa-pa kok. Lebih baik sendiri daripada punya saudara tetapi tidak peduli! Betul kata orang, kalau saudara lelaki dan perempuan sudah menikah pastilah mereka melupakan adiknya. Adik yang dulu selalu ia peluk dan ia sayangi. Kemana pun pergi selalu dibawa. Sekarang? Semua itu sudah tidak ada lagi! Kalian semua sama! Lebih mementingkan istri dibanding kan dengan saudara sendiri! Aku sadar diri jika kalian sudah memiliki kehidupan sendiri! Tetapi tidak bisakah aku bertemu bertatap muka dan sapa walau hanya lima menit saja??''


Deg!


Deg!


Lana dan Maura mencelos mendengar ucapan Kinara. Wajah itu menunduk. ''Maaf sayang-,''


''Kalau ku tau Abang ku dan saudaraku yang lain berubah setelah menikah, pastilah aku tidak pernah mengijinkan kalian semua! hanya satu orang! Satu orang saja hingga sampai saat ini masih mengingatku! Yang lainnya sibuk dengan kehidupan rumah tangganya! Kecewa.. aku benar-benar kecewa! Adek mau pulang bang Ali! Adek mau bertemu Gading dirumah Kak Annisa. Kakakku yang satu itu tidak pernah melupakan ku walau ia sudah menikah dengan bang Tama! Ia selalu menanyakan kabarku! Enggak dulu saat ia jauh sekarang pun tetap sama. Sedang yang lain? kalian tidak pernah bertanya tentang keadaanku!''


''Sekali aku datang kerumahnya, pintu kamar itu selalu tertutup rapat! Seolah-olah kalau aku sudah menikah, hubungan persaudaraan kita terputus karena lebih memilih istri dibandingkan hanya dengan melihat saudara! Baru aku paham, inilah tujuan Abang menikahkan ku dengan bang Ali! Agar Abang bisa puas menikmati hari-hari Abang bersama istri Abang! Selamat! Selamat buat kalian berdua! Ayo bang, kita pulang! Adek udah nggak betah disini! Yang terlihat disini hanya rasa kecewa..''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Lana dan Maura tersentak mendengar nya. Begitupun dengan Papi Gilang, Mami Alisa dan Algi. Pemuda tampan mirip Mami Alisa itu pun terpaku di tempat karena pernyataan Kinara.


Ali terkejut melihat wajah Kinara mendadak berubah. Dengan segera ia memeluk Kinara. ''Sssssttt.. nggak boleh ngomong gitu sayang.. bagaimana pun Abang Lana dan kakak ipar itu saudara kita...'' peringat Ali pada Kinara.


Kinara menyentak pelukan Ali. ''Saudara ketika ia belum menikah! Tetapi sudah menikah, semuanya berubah! Tidak ada yang sama lagi! Abang mau antar adek tidak? Kalau Abang nggak mau, adek pulang sendiri!'' jawabnya dengan wajah datar dan dingin.

__ADS_1


Ali menghela nafasnya. ''Baiklah kita pulang. Kamu tenang dulu ya? Abang panggil Papi dulu.''


''Terserah Abang!'' ketus Kinara masih terlihat sekali wajahnya memendam rasa kecewa terhadap Lana dan ketiga saudaranya yang lain.


Papi Gilang mengangguk, ''Hah... capek euuyy! Udah sore. Ayo kita pulang??'' ucap Papi Gilang mencoba mengurai ketegangan diantara keempat anaknya ini.


''Adek pulang sendiri aja Pi. Kami pulang naik angkot aja. Kami pulang langsung kerumah Kak Annisa. Ia meminta kami untuk menginap di sana!'' ketus Kinara pada Papi Gilang.


Pemuda tampan yang sudah cukup matang itu menghela nafasnya. Melihat Kinara sama seperti melihat sang istri. Mami Alisa.


''Nak... dari sini jauh loh..'' cegat Papi Gilang mencoba menahan Kinara


Ali menggeleng, ''Ya sudah. Kita pulang. Kita naik angkot ya?''


''Ya, ayo!'' ajaknya pada Ali


Semua orang disana tertegun melihat sikap Kinara yang mendadak berubah setelah Lana berbicara tadi. Ali mengernyit bingung saat menyadari jika ada yang aneh dengan Kinara.


Emosinya berubah-ubah. Tadi sangat baik, sekarang? Berubah menjadi mellow dan mendadak emosian. Aneh, menurut Ali.


Kinara keluar dengan menjinjing rantang miliknya. Di ikuti Ali di belakang nya. Ali mengangguk menenangkan Mami Alisa yang sudah terlihat panik karena melihat perubahan yang terjadi pada Kinara. Putri bungsunya.

__ADS_1


Lana, Algi dan Maura tidak bisa berkata. Ucapan Kinara begitu menusuk hati mereka yang memang benar adanya kalau mereka berubah karena mereka sudah menikah.


Lana menatap sendu pada Kinara. Tuan putrinya. Masih terngiang tadi ucapan Kinara yang membuatnya begitu tertampar. Ia berjalan gontai menuju mobilnya.


Di ikuti Papi Gilang, Mami Alisa, Algi dan Mbak Sus pun ikut merasakan keanehan pada diri Kinara. Adik majikannya ini.


Biasanya kalaupun marah tidak sampai segitu marahnya. Tapi ini? Kinara seperti orang lain terlihat.


Seluruh keluarga itu pulang dengan membawa hati lara. Apalagi Lana, wajah itu begitu sendu. Maura saja tidak berani membujuknya.


Terkecuali...


''Abang!''


''Iya Pi..'' sahutnya lesu.


''Kita butuh bicara! Kamu juga Algi! Nanti Papi hubungi Abang kamu dan juga kakak kamu, Kak Ira! Kita berkumpul dirumah. Biarkan adek tenang dulu dirumah Annisa!''


''Iya Pi.. sahut kedua orang itu. Maura merasa bersalah pada Kinara. Ia tidak menyangka kalau adik ipar nya berubah seperti itu padanya.


''Maafkan Kakak , Dek..'' batin Maura merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2