Penantian Kinara

Penantian Kinara
Firasat buruk


__ADS_3

Sementara Ali berperang dengan musuh, Kinara saat ini sedang kuliah. Ia dan kedua sahabat barunya kini sedang makan di kantin.


Mereka sibuk mengobrol dengan di iringi canda tawa. Tetapi saat Kinara minuim jus alpukat kesukaan Ali dan dirinya, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak.


Kinara sulit untuk bernafas saat itu. Rasanya sakit sekali. Nggak bisa dibayangkan seperti apa rasa sakitnya.


Wajahnya merah padam. Kedua sahabatnya itu tidak menyadari keadaan Kinara saat ini. Karena mereka berdua sibuk dengan ponsel dan memasang headset di telinga mereka. Semakin lama semakin sakit. Mata Kinara terpejam erat.


"Allahu Akbar... Bang Ali..." lirih Kinara dengan leher tercekat.


Di dalam mata yang terpejam terlihat jelas jika ali saat ini sedang terjatuh dari tebing tinggi hingga masuk ke dalam jurang.


Ali hanya bisa menahan rasa sakit di tubuhnya dari setiap hempasan tubuhnya yang mengenai tebing bebatuan yang terjal itu saat tubuh itu merosot mengikuti curamnya tebing jurang itu.


Nafas Kinara semakin sesak saja saat melihat Ali jatuh ke dasar laut yang begitu dalam. Sekuat tenaga Kinara ingin melepaskan diri dari rasa sakit yang kini terus mendera dirinya.


Kinara memegang gelas itu dengan kuat hingga gelas itu jatuh ke lantai.


Cliiingg..


Pyyyyaarrrrr...


"Aaaakkhhtt... Bang Aliiiiii... Aaaaaaaa...."pekik Kinara sekuat tenga saat merasakan rsa yang seperti apa itu lepas dari tubuhnya. Tetapi karena tidak konsen, Kinara sampai jatuh ke bawah.


Greep!


"Adek!!" seru Algi yang memang sengaja datang untuk menemui saudara kembarnya itu.

__ADS_1


Sedangkan nan jauh di dalam tebing curam itu, Ali menjerit kuat memanggil nama Kinara hingga air matanya menetes.


"Tidaaaaaaakkkkk... Aliiiiii...." pekik Lana lagi saat melihat Ali yang sudah jatuh ke dalam tebing yang tidak berdasar dan bermuara kan laut lepas disana.


"Kiiinaaaraaaaaaaaaaa... Aaaaaaaaa...."


Byuuurrr!!!


"Tidaaaaaakkkk.... Aliiiii... Tidaaaaakkk... Adikuuuuuuuu..." pekik Lana meraung di tebing curam itu.


Sementara Fatir ia melepaskan dirinya ingin turun mengejar Ali yang sudah jatuh ke dalam laut lepas. Tetapi tertahan karena tim Lana sudah lebih dulu turun untuk menyelamatkannya.


Fatir yang dipegangi memberontak tidak ingin untuk dibawa kwe atas. "Lepas!! Abangku jatuh ke bawah! Biarkan aku yang menyusulnya!! Lepas!!!" serunya kepada dua orang yang kini memegangi tubuhnya dengan kuat.


Fatir tetap memberontak. Lana terdududuk di tepian tebing itu dengan wajah basah air mata.


Hingga Kinara tidak sanggup menggapai dengan tangannya. Kinara menangis. Air matanya semakin banyak menetes dan mengalir di sudut kedua matanya yang terpejam.


Algi panik dibuatnya. "Bangun dek! Kamu kenapa?!" tanya Algi dengan gusar karena melihat Kinara yang terus menangis dengan mata terpejam dan tangan seperti melambai dan ingin memegang sesuatu.


"Bangun Dek!! Kinaraaaaa!!!"


Deg!


Deg!


Kedua sahabat itu baru terkejut saat melihat sahabat mereka jatuh di pelukan saudara kembarnya sendiri.

__ADS_1


"Astgahfirullah!! Kinara kenapa Bang?!" seru Amel dan Fatia bersamaan.


Mereka mendekati Kinara yang kini sedang terpejam erat dengan tangan terus melambai seperti ingin mengambil sesuatu tetapi tidak tau apa yang ingin di ambil.


Sementara disana, tidak ada apapun yang bisa ia gapai. Fatia memegang tangan Kinara dengan erat.


Klep. Klep, klep.


Mata berbulu lentik mirip papi Gilang itu Terbuka. Nafasnya memburu. "Alhamdulillah dek! Kamu udah sadar! Emang kamu kenapa sih dek?" tanya Algi sembari mengangkat tubuh saudara kembarnya untuk duduk di kursi lagi seperti tadi.


Suasan kantin yang lumayan ramai, membuat semua orang panik saat melihat salah satu mahasiswa terpintar disana tiba-tiba saja kejang-kejang tidak jelas seperti itu.


Pemilik kantin datang. Ia menyerahkan minum kepada Algi untuk diberikan kepada Kinara. Dengan segera ia menenggak habis minuman itu untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering setelah tadi melihat sang suami tenggelam hingga ke dasar laut.


Kinaar melihat Algi dengan mata berkaca-kaca. Algi dengan segera memeluknya. "Sabar... Doakan saja agar suamimu selamat ya? Kalaupuan ada apa-apa, 'kan ada bang Lana disana??" ucap Algi menenangkan Kinara yang kini tersedu di dalm pelukannya.


Kinara tidak menjawab. Tetapi Ia semakin erat memeluk erat tubuh kurus Algi yang tidak sebanding dengan Papi Gilang, bang Lana, dan Ali. Suaminya sendiri.


Algi terus mengusap lembut punggung adiknya. "Ya Allah.. Firasat buruk apa ini? Kenapa adikku juga harus merasakan sakit yang sama seperti ku?? Ya Allah.. Engkau yang maha tau akan segala sesuatunya. Hamba berserah diri padamu ya Robb.." batin Algi berkecamuk saat memeluk erat tubuh Kinara yang semakin tidak menentu saat merasakan tubuh Kinara semakin bergetar dan tersedu.


*****


Sambilan nunggu adek Nara update, mampir yuk kesini👇



Noh. Cus kepoin!

__ADS_1


__ADS_2