
"Assalamu'alaikum Ummi.. Abi.." Ucap Kinara dengan segera menggamit tangan kedua paruh baya itu dan dibalas pelukan hangat oleh kedua nya dengan air mata bercucuran.
Kinara pun ikut menangis. "Hiks.. Ummi.. Abi..." isak Kinar dalam pelukan kedua paruh baya yang kini sedang memeluknya dengan erat.
Mami Alisa pun ikut menangis melihat nya. Ia kemudian mendekati Kinara dan besannya itu.
"Mari masuk, Besan. Nggak enak di lihat tetangga. Kami belum memberitahukan hal ini kepada siapa pun. Ayo, Mari masuk Nak." Ajak mami Alisa pada besan serta ipar Kinara yang kini juga sedang tersedu karena melihat kedua orang tua mereka tersedu.
Kinara mengurai pelukannya dan segera membawa masuk mereka berdua masih dengan saling berpelukan.
Tiba di dalam rumah, kedua paruh baya itu masih saja memeluk erat Kinara. Mami Alisa dan Papi Gilang terharu melihatnya.
"Maafkan kami Besan. Kami semua tidak bisa menyusul kalian tadi ke Bandara." Ucap Papi Gilang merasa bersalah.
Abi Husen mengurai pelukannya dari tubuh Ummi Siti dan Kinara yang kini masih tersedu. "Tak apa besan. Tidak masalah. Kinara lebih membutuhkan kalian semua daripada kami. Sungguh, ini hal yang sangat mengejutkan untuk kami sekeluarga. Yang sabar ya, Nak?" ucapnya pada Papi Gilang dan Kinara yang saat ini masih tersedu
Kinara mengurai pelukannya. "Hiks.. nggak Abi. Teteh nggak pa pa kok. Teteh hanya merindukan Abang itu aja sih." Jawab Kinara dengan segera ia mengusapkan seluruh wajah nya dengan tisu yang terletak diatas meja.
__ADS_1
"Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa sampai Ali yang terjun ke laut? Ali di dorong atau memang jatuh sendiri?" tanya ummi Siti
Sengaja untuk memastikan lagi apa yang ia dengar dari Abi Husen tadi sore benar atau tidak kebenarannya.
Papi Gilang, Tama, Annisa dan Kinara saling pandang. "Maaf Ummi. Bang Lana yang lebih tau pastinya seperti apa. Teteh belum sempat bertanya tadi," lirih Kinara dengan menunduk.
Ummi Siti memeluknya lagi. "Tak apa, Nak. Kalau begitu mana Lana? Ummi ingin menanyakan nya secara lansung pada nya.''
Annisa mendengus tak suka, Tama memegang lembut tangan sang istri dan menggeleng. Tetapi Annisa tetaplah Annisa. Mana bisa di bantah.
"Abang lagi ngelonin istrinya yang saat ini sedang hamil muda! Adek Nara pun hamil kok. Tapi tidak manja yang kayak Kakak ipar lakukan sekarang ini. Heran aja sama kelakuan Abang. Sedari dulu hingga sekarang, tidak pernah berubah. Ia tetap saja seperti dua bulan yang lalu. Yang lebih mementingkan istri dibandingkan adik kandung nya yang sedang berduka saat ini. Kakak kecewa sama Abang. Sangat Kecewa!" ucap Annisa dengan segera pergi meninggalkan mereka semua yang kini tertegun dengan ucapan Annisa.
"Benar nak. Teteh sedang hamil saat ini?"
Kinara yang ditanya pun menoleh pada Ummi Siti dan mengangguk. Abi husen dan ketiga anak yang lain tersenyun bahagia.
"Ya Allah.. Sungguh besar karunia mu. Hilang satu malah diberikan ganti yang lain.. Ya Allah.. Cucuku..." lirih Abi Husen dengan menagis lagi.
__ADS_1
Ia tidak menyangka jika kepergian Ali meninggalkan benih nya di rahim Kinara yang saat ini sedang tumbuh dengan baik disana.
"Teteh..." panggil ketiga adik Ali dengan wajah yang basah air mata lagi.
Kinara tertawa saat Ari adik bungsu Ali mengecup lembut perut Kinara. Ia memeluk erat tubuh adik ipar yang selama ini begitu dekat dengan Ali dan dirinya.
Saking dekatnya, Ari pernah tidur bersama Kinara dan Ali dalam satu tempat tidur yang sama. Jangan tanya Ali marah atau tidak.
Yang jelas Ali tetap kesal kepada adik bungsunya yang masih SD itu. Kinara memeluk erat ketiga adik Ali.
Sungguh senang hati Kinara, karena keluarga sang suami sangat menyayangi nya hingga sedalam itu.
Mereka tahan langsung ke Medan saat mendengar kabar jika Ali tewas dalam bertugas.
Sedangkan seseorang diluar sana tertegun mendengar setiap ucapan yang para orang itu ucapkan.
Ia sudah sedari tadi di luar saat Ummi Siti bertanya disaat itulah ia ingin masuk. Tetapi berhenti karena ucapan Annisa yang mengingatkan dirinya tentang kejadian dua bulan silam tentang dirinya yang selalu mengabaikan Kinara. Adik kecil kesayangn nya.
__ADS_1
"Maafkan Abang, Dek.. Maaf.." lirihnya dengan segera berlalu pulang kembali kerumahnya dengan wajah basah air mata.