Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kebersamaan di pondok belakang rumah


__ADS_3

Ummi Siti menatap Kinara dengan dalam. "Beneran?'' Kinara diam. Ia masih saja terisak.


Abi Husen terkekeh lagi saat ummi Siti menatap putra sulungnya itu dengan tatapan membunuhnya.


''Apa sih Ummi? Aa' nggak ngelakuin apapun kok. Beneran?'' ucap Ali meyakinkan Ummi Siti.


''Awas saja kamu kalau sampai ummi dengar kamu nyakitin mantu sulung ummi ini! Ummi pecat kamu jadi anak!'' ketus Ummi Siti tiba-tiba kesal pada Ali.


''Eh? Kiky gitu? Mana ada Aa' nyakitin Nara, ummi... Aa' itu sayang padanya. Mana mungkin Aa' menyakitinya. Lagi pun selama setahun lebih ini Aa' selaku Merindukan nya? Masa' iya batu saja bertemu dua Minggu ini i Aa' udah nyakitin istri Aa' sendiri! Mana ada kayak gitu!'' Bantah Ali lagi hingga membuat suasana di sore hari itu semakin hangat karena perdebatan ibu dan anak itu.


Nara yang tadinya membagi perlu waktu sedikit untuk meluapkan kekesalannya pada dirinya sendiri, kini akhirnya terkekeh mengikuti seluruh keluarga sang suami.


Ali mendekati Nara dan mengusap lembut wajah ayu Kinara yang semakin chubby saja saat ini. Bara tersenyum padanya begitu pun dengan Ali.


''Ummii.. Abang nggak nyakitin Teteh kok. Aa' baik sama Teteh. Udah.. Ummi tidak usah khawatir ya? Teteh keseringan gini ummi. Nggak tau aja tiba-tiba ingin makan. Tiba-tiba jadi gak dan tiba-tiba juga nangis kayak tadi. Nggak tau aja Ummi. Teteh pun bingung!'' ucap Kinara menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Ummi Siti melirik Abi Husen. Kedua paruh baya itu saling mental kemudian tersenyum. ''Ya sudah, Teteh lapar? Ayo kita masak! Tadi siang sih ummi udah masak semur ayam kesukaan kamu. Tapi kamu dan Aa' kan nggak makan sedari siang? Makanya kita masak lagi. Ayo! Teteh mau sayur apa?'' tanya ummi seraya bangkit dan menuju tumpukan sayur yang begitu banyak dan hijau tumbuh subur di hadapan pondok kecil rumah Abi Husen.


Kinara menatap Ali. ''Abang belum makan? Kenapa nggak makan? Nanti Abang bisa masuk angin! Ayo, adek siapin makanan Abang!'' ucap Kinara semabri menarik tangan Ali dan membawa nya berjalan.


Tetapi yang ditarik malah menariknya kembali. ''Eh? Lah, loh? Kok ditarik gini sih?'' gerutu Kinara saat Ali memeluk tubuh chubby nya.


Ketiga adik Ali terkekeh, begitupun dengan ummi Siti yang tersenyum melihat tingkah menantu dan putra sulungnya itu.


i terkekeh, ''Nanti saja sayang. Kamu mau makan apa? Ayo, pilih dulu sayurnya?'' ucap Ali sembari melepaskan tubuh Kinara dari dekapan nya.

__ADS_1


Kinara melihat ummi Siti dan ketiga adik Ali yang kini sibuk memetik sayur kangkung dan juga bayam. Tetapi Kinara tidak ingin sayur itu .


Ia menatap sekeliling. Matanya tertuju pada satu pohon yang berbuah lebat dan sudah ada yang matang.


Kinara berjalan dengan menarik tangan Ali ikut serta. Ali yang ditarik pun ikut saja. Kinara menunjuk pohon pepaya yang tumbuh dengan subur.


Buahnya banyak sekali. Ada juga yang sudah matang. Kinara ingin sekali makan buah masak dan juga buah itu yang dimasak.


''Adrk ingin makan sayur pepaya! Hemm.. enak kali ya?'' ucapnya sambil menunjuk pepaya matang.


Ali mengernyit, ''Itu kan udah matang sayang?''


''Iya, bush matang itu pun adek mau. Tapi buah mengkal itu yang ingin adek masak dan dijadikan sayur. Bisa Abang ambilkan? Nanti adek yang masak! Hemm.. ingin banget makannya!'' artinya dengan mata berbinar.


Semua yang ada disana keheranan. Terkecuali ummi Siti dan Abi Husen. Mereka tersenyum dengan leher mengangguk pelan.


Ali mengangguk setuju. Pohon pepaya ya g berbuah lebat setinggi Ali itu, ia ambil cukup dengan memetiknya saja. Tangga tubuh Ali setara dengan Lana. Yaitu 178 centimeter.


Sedangkan Kinara hanya 159 saja. Sangat jauh terlihat. Tetapi tubuh Kinara sangat ramping. Tingginya pun tinggi di atas rata-rata. Gen Papi Gilang turun padanya.


Ali memetik buah pepaya itu tiga buah yang mengkal dan empat buah yang matang. Yang Menag akan di petik sore ini oelh Abi Husen untuk mereka makan.


Kinara mengambil satu dan mengambil pisau yang sudah terletak disana. Ia membelah dan mengupas kulit pepaya itu dan memakannya dengan cepat. Ali melongo melihat nya.


''Sayang! Baca bismillah dulu! Nggak baik ah, makan tanpa mengucap bismillah??'' tegur Ali pada Kinara.

__ADS_1


Kinara yang sudah menghabiskan dua potong pepaya mask itu pun nyengir kuda. ''Hehehe.. saking ingin nya Bang! Iya adek ulang. Ehem, Bismillah aawalihi wa fii akhirirhii..'' lalu ia memakan lagi buah pepaya itu tanpa melihat Gading yang kini kebingungan melihat tingkahnya.


Ali terkekeh, dengan segera ia mengambil pisau satu lagi yang memang di sediakan di pondok itu dan membelah bush peosta satu lagi dan ia berikan kepada gading setelah di potong-potong d. dikupas terlebih dahulu kulitnya.


Ali membaginya pada Ummi Siti, Abi Husen dan ketiga adiknya. Ada Delia, Yulia, dan Amir. Adik bungsu Ali yang begitu menyukai Kinara pertama kali mereka bertemu.


Amir berusia sepuluh tahun saat ini. Sedang Yulia berumur delapan belas. Dan Delia berumur dua puluh lima tahun. Jarak yang sangat jauh untuk ketiga adik Ali. Kinara diatasi Yulia. Kinara sudah tamat sedang Yulia masih kelas tiga dan baru saja naik kelas tiga.


Mereka makan bersama buah pepaya yang begitu manis itu. Kinara menghabiskan satu setengah buah pepaya hingga terdengar sendawa dari mulutnya. Kinara menutup mulutnya karena malu.


Semua yang disana tertawa karena ulahnya. ''Sudah kenyang?'' tanya ummi Siti


''Hehehe.. Alhamdulillah sudah Ummi. Yuk, sekarang teteh yang akan masak! Ayo Dek! Bantuin teteh ya? Ummi duduk aja! Jangan menolak!'' tegas Kinara membuat Ummi Siti terkekeh.


''Tentu nak. Ummi akan duduk saja. Bukankah sudah menjadi kebiasaan mu kalau kamu berkunjung kesini kamu tidak boleh mengijinkan ummi untuk masak?''


''Ya! Ummi sudah tua. Dan tidak boleh capek-capek! Apa gunanya ada menantu dan anak gadis dua orang? Mereka ini harus apa coba? Masa' iya cuma nonton doang ummi masak?'' ucap Kinara membuat adik iparnya itu tertawa karena melihat wajah Kinara mendadak kesal pada mereka.


''Ya nggak gitu atuh Teh.. kamu kok yang masak. Ummi mah cuma duduk doang atuh Teh?'' ujar Delia sambil terkekeh kecil.


''Hooh. bener itu. Teteh pun gitu kok. Iya kan Teh?'' katanya pada Delia.


Kinara mencebik, ''Iya, iya! Berarti kalian masih ingat kan ya pesan Teteh?''


''Tentu dong..'' sahut kedua sambil berjalan tidak ria.

__ADS_1


Semuanya tertawa bersama. Kebersamaan setelah sekian lama baru bisa Kinara rasakan lagi.


__ADS_2