
"Mulai hari ini, terbiasa lah hidup sendiri Kinara. Karena ke depannya belum tentu ada yang akan menolongmu. Kecuali orang-orang yang benar-benar tulus menyayangimu sepenuh hatinya. Kakak memang masih kecil dibandingkan dengan yang lain. Tetapi Kakak sudah mendapat amanah dari almarhum ayah saat beliau meninggal enam tahun yang lalu."
"Yang mana beliau berpesan untuk menjaga semua adik-adikku yang se ayah dengan ku. Bahkan ayah mengatakan jika ketiga adik ku nantinya tidak bisa menharapkan Abang sulung mereka yang sudah terlanjur kecewa karena ketika kecil dulu pernah hampir mati di cekik oleh almarhum ayah."
"Astaghfirullah ya Allah.." lirih Ummi Siti dan Abi Husen bersama.
"Jika dibandinagkn dengan Bang Lana, aku lah yang lebih parah. Saat dilahirkan hingga aku besar ayah tidak pernah sekalipun memberikan kasih sayang padaku. Papi. Papi lah orang yang selama ini begitu menyayangiku. Siapa aku untuknya waktu itu? Anak bukan, saudara apalagi. Hanya seorang bayi kecil yang begitu merindukan kasih sayang seorang ayah. "
"Walaupun begitu, aku tidak pernah merasa sakit hati sama ayah. Malahan aku sengaja mencari tau keadaan ayah saat aku sudah besar hingga pertemuan itu pun terjadi. Pertemuan yang tidak pernah kalian tau. Pertemua setelah aku sudah kelas satu SMP waktu itu. Ayah menangis meminta maaf karena tidak bisa memberikan kasih sayang untukku. Beliau bahkan sampai bersujud di kaki ku. Tetapi aku seorang anak, mana mungkin bisa membiarkannya begitu saja. Manusia tidak boleh di sembah selain dari Allah SWT."
"Aku tak pernah marah dan dendam kepada beliau. Malahan aku sangat senang karena memiliki dua ayah. Kenapa bagi kamu sangat sulit untuk memaafkannya Bang Lana? Hingga kamu mengabaikan semua adik kamu? Bisa kamu jelaskan? Kenapa? Kenapa kamu lebih mementingkan istri kamu dibandingkan kami adik-adik kamu?"
"Bang Tama juga punya adik kok dari Mama yang lain. Tetapi ia tidak mengabaikan kedatangan adiknya saat ia butuh bantuan walau dulu adiknya pernah hampir membunuhnya. Tanya sama bang Tama. Apa dia mengabaikan adik kandung berbeda ibu dengan nya?"
Tama mendekati Annisa dan memeluknya, karena Kinara sudah masuk ke kamarnya dan mengurung diri disana.
__ADS_1
"Sudah.. Tidak baik menghukum saudara sendiri karena kesalahan yang ia perbuat. Biarkan ia melakukan apapun yang ia mau. Dan kalian pun melakukan apa yang kalian mau. Lebih baik berdamai dan memaafkan satu sama lainnya. Jika memang kamu merasa keberatan dengan kehadiran kami, kamu boleh kok tidak menganggap kami sebagai saudara. Lagi pun, kamu sudah menikah dan sudah punya keluarga sendiri. Tak apa. Dahulukan mana yang harus didahulukan. Abang pun gitu kok. Sudah, ayo kita sarapan pagi. Sarapan yang sudah terlewat untuk pagi ini. Sudah sayang. Jangan di perpanjang. Ayo!" ucap Tama pada Lana sekaligus mengajak Annisa dan diangguki olehnya.
Kinara yang sudah selesai bersiap pun keluar. Hari ini ia akan kuliah sekalian periksa kehamilan nya.
Ia akan pergi sendiri tanpa di temani oleh siapa pun. Mulai hari ini, ia tidak akan meminta bantuan siapa pun untuk mengurus dirinya.
Ia ingin hidup mandiri. Dan hidup di jalan masing-masing. Tidak ada siapa pun yang Kinara harapkan saat ini.
Orang satu-satunya yang bisa ia andalkan kini tidak tau rimbanya kemana. Ali. Pemuda yang penuh dengan kasih sayang dan juga sangat peduli dengan saudaranya.
Benar. Rasa sakit yang di tanggung Maura tidak sebanding dengan Kinara yang saat ini kehilangan suaminya.
Jika Maura dulunya hamil tetapi masih bisa mendengar suara Lana saat mereka bersua melalui sambungan video call.
Tetapi Kinara?
__ADS_1
Lagi, kedua orang itu merasa bersalah karena telah mengabaikan Kinara.
Selesai sarapan Pagi, Kinara segera melaju meninggalkan beberapa orang yang memanggilnya karena harus pergi dengan salah satu keluarga.
Tetapi Kinara tidak peduli. Ia hanya membawa Gading bersama nya. Pagi ini Kinara akan ke rumah sakit terlebih dahulu untuk periksa seperti kata Kak Ira kemarin sore.
Baru setelahnya ia akan kuliah dan Gading ia titipkan di Ibu kantin yang selama ini Kinara minta tolong untuk menjaga Gading dan dibayar dengan uang jika Gading tidak ke sekolah.
Berbeda jika ke sekolah, Kinara akan menitipkannya pada walli kelas dan akan menjemputnya setelah ia selesai dari kuliahnya.
Saat tiba di rumah sakit Kak ira, ia sudah di tunggu oleh bang Raga dan kak Ira yang begitu mencemaskannya.
Mereka berdua begitu khawatir dengan keadaan Kinara yang membawa motor sendiri tanpa di temani oleh siapa pun dari keluarga mereka.
Kak Ira menggerutu sambail berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Kinara dan Bang Raga tertawa saja.
__ADS_1
Mulai hari ini, Kinara akan hidup sendiri. Hidup masing-masing tanpa bantuan dari orang lain. Dan masalah tanah yang di beli Papi itu, Kinara sudah memikirkan caranya seperti apa.