
Seakan takut Kinara akan pergi lagi, Lana semakin erat memeluk tubuhnya. Kinara pun demikian.
Lana sesegukan,
"Kenapa?" bisik Lana di telinga Kinara yang saat berada di ceruk leher Lana.
"Karena adek sangat menyayangi Abang. Abang seseorang yang penting di dalam hidup Adek. Abang orang kedua setelah Papi yang adek sayangi. Apakah adek salah membuat Abang bahagia dengan keluarga klita? Hiks.." balas Kinara masih dengan berbisik.
Air mata tidak berhenti untuk berjatuhan. Bu Hasna melirik si kembar. Mereka sangat anteng di pelukan Kakek dan Neneknya.
Orang tua Ali. Sedang si bungsu berada di pangkuan Gading yang saat ini sedang di sofa menghadap Mami dan Uwaknya yang saat ini sedang menangis.
Seakan si kembar tau, jika inilah yang di inginkan oleh sang Mami.
Lana masih sesegukan, semua orang tidak ada yang berani masuk ke dalam rumah Kinara terkecuali keluarga Ali saja.
Dalam sesegukan itu Lana berbicara lagi, "Tapi nggak dengan menghindari Abang sayang!" rajuknya pada Kinara yang hanya mereka berdua saja yang mendengarnya.
"Maaf.. Adek hanya ingin melihat seluruh keluarga kita berkumpul bersama dirumah Abang tanpa adek-,"
__ADS_1
"Tapi Abang membutuhkan mu sayang! Taukah kamu? Selama seminggu ini Abang sudah seperti orang gila mencari keberadaan mu! Hiks.. Tega kamu sama Abang!" potong Lana yang membuat Kinara semakin mengeratkan pelukannya di tubuh tegap Lana.
"Maaf.. hiks.. Adek melakukan semua ini karena sangat menyayangi Abang. Sangat menyayangi Abang.. Adek rela berkorbab asalkan Abang bahgia. Abang sudah terlalu banyak berkorban untuk Adek. Dari Adek kecil hingga Adek sudah menikah hiks. Abang selalui mengalah asal Adek bahagia. Tetapi sekali ini Adek sengaja mengalah karena ingin membuat semua saudara kita sadar. Bahwa Abang itu hiks.. Sangat menyayangi Adek. Nggak salah 'kan jka Adek berkorban sedikit? Terbukti 'kan semuanya? Mereka bahagia dengan kelahiran bayi Abang. Mereka bersuka cita."
"Walau tanpa Adek, mereka bisa bahagia. Coba Abang pikirkan. Kalau seminggu yang lalu, Adek memberi tahu mereka semua, otomatis keluarga kita akan melihat Adek saja dan melupakan Abang. Adek nggak ingin Abang dan Kakak Ipar sedih, maka dari itu adek mengalah. Mengalah sedikit tetapi mendapatkan banyak 'kan lebih baik??" seloroh Kinara di sela-sela tangisnya.
Lana semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Kinara. "Maaf.. Jika selama seminggu ini Adek menghindar. Adek nggak pergi kok. Adek tetap dirumah ini? Adek hanya ingin memberikan kesempatan untuk Abang bisa berbahagia dengan keluarga kita. Mereka sempat marah sama Abang lantaran Abang lebih mementingkan Kakak ipar daripada Adek. Adek nggak marah kok sama Abang. Bang Ali berpesan sama Adek, katanya,"
Kinara menghela nafasnya yang terasa sesak, "Adek nggak boleh marah sama Abang. Bagi kalian seorang lelaki akan sulit untuk memilih. Tetapi kalian akan mendahulukan yang mana harus di dulu kan. Walau harus salah satu berkorban disana. Jangan meminta kami untuk memilih. Karena kami tidak bisa meilih salah satu dari kalian semua. Begitu katanya," bisik Kinara yang semakin membuat Lana tersedu bahkan suara isakan nya itu begitu jelas terdengar.
Hingga membuat seseorang yang baru saja datang dan berdiri di depan pintu mematung melihat sang suami yang begitu menyayangi Kinara lebih dari dirinya.
Annisa, Kak ira, Algi dan bang Raga segera masuk dan memeluk keduanya dengan erat. Bang Tama pun ikut disana.
Ibu lima orang anak itu sangat tertegun dengan ucapan Kinara baru saja. Ia baru tau Kinara ternyata sengaja mengalah agar bisa membuat sang suami bahagia denga keluarga nya yang selama beberapa bulan ini renggang dan tidak saling bersua akibat suami Kinara menghilang dan juga karena keegoisan dirinya yang hanya menginginkan Lana untuknya saja.
Entah apa yang merasuki hati dan pikirannya hingga membuat Ibu lima anak itu merasa iri dengan Kinara yang merupakan adik iparnya.
Adik kecil kesayangan suaminya. Ia tidak menyangka, jika kebahagiaan Lana juga terletak pada Kinara.
__ADS_1
Pantas saja ia sering melihat Lana sering termenung dan duduk di balkon seorang diri jika sudah selesai sholat tahajud.
Bahkan ketika sholat tahajud pun ia sering menangis dan sesegukan. Ia pikir, Lana bahagia cukup dengan dirinya dan juga ke lima anaknya.
Ternyata Maura salah. Kasih sayang Lana begitu luas. Ia menyayangi saudaranya lebih dari apapun. Walaupun Lana selalu di dekat nya dan kelima anaknya.
Tetapi Lana pasti merasa sedih setiap kali sendiri. Contohnya tadi malam. Masih terlihat olehnya jika Lana sengaja duduk di balkon kamar mereka sengaja untuk melihat rumah Kinara yang sepi.
Tes.
Tes.
Buliran bening itu mengalir di pipinya. Ia salah menilai Kinara. Ia pikir Kinara ingin memiliki suaminya karena suaminya saat ini tidak ada.
Ia pikir kinara akan merebut perhatian suaminay karena sat ini Kinara juga sednag hamil dn kehilangan sosokpenting di dalam hidupnya.
Ternyata... Maura salah. Kinara tidaklah seperti itu.
"Hiks.. Maaf.. Maafkan Kakak Kinara.. Maafkan Kakak, dek.." lirihnya seperti desauan angin.
__ADS_1
Kinara dan Lana yang tau mereka berdua tersenyum walau masih di dalam pelukan seluruh saudaranya.
"Terimakasih sayang.. Kamu sudah menyadarkan kami dan juga kakak ipar kita. Maaf.. Jika Kakak sempat memarahi Abang karena Kakak mengira kalian egois.." ucap Annisa setelah pelukan itu terlepas.