
Pukul sebelas siang mereka bertiga sudah berangkat dari bandara Kuala namu menuju Jakarta. Dalam pesawat Nara tetap memilih diam. Ia memilih diam dan memejamkan kedua matanya.
Rasa dihatinya begitu tidak tenang. Mana kedua sahabatnya tidak lagi ingin berbicara padanya. ''Huuffttt...'' Nara menghela nafas sesak.
Papi Gilang menoleh. Begitu juga dengan Mami Alisa. ''Ada apa nak?''
Nara menggeleng, ''Tidak ada apa-apa Pi. Adek cuma ngantuk saja. Rasanya mual,'' sahutnya dengan segera ia memejamkan kedua matanya agar tidak terlalu banyak pertanyaan yang diajukan oleh kedua orang tuanya itu.
Papi Gilang dan Mami Alisa menghela nafas sesak. Selalu saja begitu tiap kali mereka bertanya. Dua paruh baya beda usia itu hanya bisa pasrah dengan kelakuan putrinya itu.
Butuh waktu dua jam agar mereka bisa tiba di bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Dan saat ini mereka sudah tiba disana setelah dua jam lamanya mengudara di langit biru nan jauh sana.
Nara berjalan sempoyongan karena ia begitu lama terlelap di dalam pesawat. Ia terbangun saat kedua orang tuanya membangun kan nya karena sudah tiba di bandara.
Dari bandara butuh waktu dua jam lagi untuk Sampai kerumah sakit dimana Gading di rawat saat ini. Abi Husen dan ummi Siti sudah menunggu Nara dirumah sakit dimana Gading dirawat dan sudah dinyatakan sehat dan sembuh total oleh dokter Renaldi.
__ADS_1
Sampai dirumah sakit milik keluarga Renaldi, Nara dan Papi Gilang langsung saja menemui bocah kecil yang belum genap tujuh tahun itu. Sedangkan Mak Alisa memilih duduk sebentar dan berbicara dengan besannya itu.
Maklum. Sudah tua, kondisi tubuh pun tidak sevit dulu lagi. Saat ini umur Mak Alisa sudah memasuki usia kepala lima. Dan sudah tidak kuat lagi untuk bisa melahirkan. Berbeda dengan Papi Gilang.
Tubuh paruh baya itu masihlah segar saat ini. Karena ia masih kepala empat berbeda sedikit dari Mak Alisa.
Nara berjalan cepat saat dari kejauhan melihat sang putra angkat juga sedang tertegun memandangi dirinya saat ini yang sedang berlari menuju ke arahnya.
''Assalamu'alaikum Sayang...'' sapa Nara
Putra angkat Ali itu berdiri mematung. Ia masih tertegun melihat Nara yang masih begitu muda dan sangat cantik dimatanya sebagai seorang anak kecil berusia enam tahun lebih.
Nara terkekeh melihat mata bulat bening dari anak kecil yang begitu ingin ia peluk itu sedang berkaca-kaca menatapnya saat ini.
Tes.
__ADS_1
Tes.
Air mata itu jatuh juga di kedua pipinya. Nara tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya dan berjongkok dihadapan Gading yang kini hanya berjarak satu meter saja darinya.
''Tidakkah kamu ingin memeluk Mami, Nak??''
Gading terisak, ia tersedu. Nara tertawa. ''Hiks.. hiks.. huaaaa... Mamiiii... Abang mau Mami iiii...'' pekiknya begitu kuat.
Dokter Renaldi, Papi Gilang dan Nara tertawa melihat tingkah Gading yang begitu menggemaskan menurut mereka.
''Huaaaaa.. Mamiiii... hiks.. Abang mau Mamiiii...'' pekiknya lagi membuat Nara semakin tertawa.
Ia mendekati putra angkat nya itu yang juga kini tengah berlari ke arahnya.
Grep!
__ADS_1
''Mami datang untuk menjemput mu. Kita pulang??''
Gading tidak menyahut, tapi ia semakin erat memeluk tubuh baru milik Maminya itu. Mami pengganti setelah ummi nya pergi dua tahun yang lalu.