
''Jangan main-main dengan saya tuan Kevin! Anda salah, jika berurusan dengan keluarga saya! Jangan sekali-kali anda menghina Abang saya! Karena anda tidak tau apapun tentang nya! Yang anda tau, bahwa dia lah penyelamat komandan Jaya saat anda membunuhnya! Cih! Lempar batu sembunyi tangan anda tuan Kevin!''
Deg!
Deg!
Lagi, wajah paruh baya komandan Kevin semakin pucat. Seperti tidak di aliri darah. Ibu Amanda semakin takjub dengan adik bungsu Lana ini.
Putri bungsu dari Mami Alisa. Seorang pengusaha sukses di bidang kuliner terutama kue basah dan juga kue lainnya yang saat ini begitu digemari oleh seluruh masyarakat Medan.
Maura mendekati Nara dan merangkul nya. ''Kamu hebat!'' bisiknya di telinga Nara.
Nara menoleh namun tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk saja. Lana pun mendekati nya. Begitu juga dengan Ali. Ia berdiri tepat di sebelah Lana.
Lana mengecup kening adiknya dengan sayang. Nara memejamkan kedua matanya. Rasa aman itu selalu jika ia berada di dekat Lana.
Ali terkekeh kecil melihat komandan Kevin tiba-tiba saja nyali nya menciut saat berhadapan dan mendengar ucapan Nara. Istri kecilnya. Ia ketakutan setengah mati.
''Kenapa anda diam, Tuan? Bukannya tadi Anda begitu Keukeh ingin berdebat dengan saya? Sekarang kenapa diam?! Ayo lawan lagi! Saya tunggu! Saya siap melayani kemarahan Anda! Saya pun ingin lihat setangguh apa komandan Kevin Aprilio Diningrat ini?! Bermental baja? Ataukah bermental tempe?! Yang hanya bicara dengan menuduh! Tanpa tau ada buktinya atau tidak!''
Deg!
Lagi dan lagi, jantung komandan Kevin semakin menciut melihat keberanian Kinara. Adik kandung Lana.
Ia yang tadinya berniat ingin menyerang dan mempermalukan Lana, malah jadi sebaliknya. Pria paruh baya sebaya Papi Gilang itu menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan.
Walaupun begitu, ia tetap berdiri dihadapan mereka semua. Ia tidak ingin di anggap kalah sebelum berperang. Ia menatap angkuh pada Nara dan juga Lana.
Namun semua itu terpatahkan saat suara seseorang yang begitu ia kenal menghampiri rumah komandan Kevin dan Ibu Amanda.
''Heh! Saya tidak takut padamu! Kau hanya anak kecil! Jadi jangan coba-coba menakuti ku! Kau tidak tau apapun tentang saya! Jadi jangan coba-coba untuk mengancam saya!''
__ADS_1
''Siapa yang diancam Kevin?!''
Deg!
Jantung Komandan Kevin serasa ingin keluar dari tempatnya saat melihat sang Papi. Ayah mertuanya berdiri menjulang di depan pintu rumah mereka. Amanda tersenyum.
''Assalamu'alaikum, Papi ..'' sapa Ibu Amanda
Jendral Sudirman tersenyum melihat putrinya. ''Waalaikum salam, nak. Sedang ada tamu ya? Papi ganggu kah??'' tanya nya pada Ibu Amanda.
Ibu Amanda tersenyum, ''Nggak Pi, mereka sudah ingin pulang kok. Ayo, masuk!'' ajaknya pada pria paruh baya yang masih terlihat kegagahan nya.
Ia berjalan mendekati empat orang yang berdiri tidak sedikitpun menoleh padanya. Jendral Sudirman mengernyitkan dahinya saat melihat Lana dan Kinara ada di sana.
''Loh? Maulana? Sedang apa disini, nak? Kinara juga??''
Lana yang namanya disebut begitu juga dengan Nara, menoleh. Mereka tersenyum melihat Jendral Sudirman.
''Assalamu'alaikum, Paman... lama tidak bertemu ya?'' sapa Kinara.
Lana dan Kinara terkekeh. Jendral Sudirman menoleh pada Komandan Kevin. Ia menatap datar pada menantu nya itu. ''Siapa yang mengancam dan diancam tadi? Bisa kamu jelaskan? Saya sedang tidak main-main Kevin! Jelaskan!'' titahnya tak terbantah kan.
Komandan Kevin mendadak menciut mendengar ucapan Ayah mertuanya ini. ''E-enggak Pi. Kami sedang tidak sedang membahas apapun. Hanya sedang bergurau saja. Hehehe.. iya bergurau.'' Jawabnya dengan menunduk salah tingkah.
Jendral Sudirman menatap tajam pada menantunya ini. ''Kau jangan macam-macam dengan keluarga Bhaskara, Kevin! Kau belum kenal siapa keluarga itu! Kau tidak akan tau apa Yang akan diperbuat oleh Gilang Bhaskara, Jika kau berani macam-macam dengan putra dan putrinya! Berhenti membuat masalah Kevin Aprilio Diningrat! Saya cukup tau seperti apa sepak terjangnya mu selama ini! Jadi .. cukup kau diam dan jangan memperkeruh suasana! Saat tau siapa Mereka! Mereka Tidak berkata yang bukan-bukan, Jika bukan kau yang memulainya! Ingat Kevin, rahasia mu ada di tangan saya dan keluarga Bhaskara!!''
Deg!
Deg!
Deg!
__ADS_1
Komandan Kevin semakin pucat pasi wajahnya. Nara menatap nya dengan datar. Ia menoleh pada Ali dan Lana.
''Ayo, Bang. Tugas kita sudah selesai disini. Paman, kami permisi pulang ya? Sudah malam juga. Dan saya pun sudah mengantuk.'' celutuk nya.
Membuat jendral Sudirman tertawa. ''Kalau saja Paman punya putra kecil Sebaya denganmu, pastilah Paman akan sangat bahagia jika bermenantu kan dirimu. Hah. Tapi sayang, Paman tidak memilikinya!''
Semua yang ada disana terkekeh-kekeh. Tapi tidak dengan Ali. Wajah itu datar. Nara tau itu. Tapi tidak bisa berbuat apapun sat ini. Jika sampai ketahuan, maka Nara yang menanggung resikonya.
''Baiklah, titip salam untuk Papi mu ya? Katakan padanya, Paman menunggu nya untuk tanding golf lagi Minggu ini! Sangat setuju jika ia ikut. Apalagi Mami kamu. Hahaha...'' Jendral Sudirman tertawa terbahak mengingat Papi Gilang dan Mak Alisa.
Nara dan Lana terkekeh kecil. ''Ya sudah, kami permisi. Terimakasih jamuan nya ibu Amanda.'' kali ini Maura yang berbicara sambil tersenyum tulus.
''Sama-sama Maura. Saya yang seharusnya lebih banyak mengucapkan terimakasih karena kamu bersedia membuat para kawanan itu akhirnya tertangkap. Jasa mu tidak akan pernah kami lupakan!''
Maura tertawa. Begitu juga dengan ibu Amanda. Mereka berempat pamit dari rumah ibu Amanda.
Mereka berempat jalan kaki untuk pulang kerumah masing-masing. Ali tidak ingin bergabung dengan mereka bertiga. Hatinya sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Lana Terkekeh saat menyadari jika rekan sekaligus ipar nya itu sedang cemburu. Hatinya panas saat jendral Sudirman tadi menggoda Kinara. Istrinya.
Tiba didepan rumah Lana, mereka berdua berpisah. ''Kami pulang ya Bang? Udah malam juga. Besok adek sekolah. Dan ada piket pula besok!'' katanya pada Lana dan Maura.
Lana terkekeh lagi saat melihat wajah datar Ali yang begitu terlihat rasa tidak sukanya akan ucapan jendral Sudirman tadi.
Nara yang tau langsung saja memeluk pinggang Ali. Ali menoleh, dan.. Cup!
Ali melototkan matanya. Nara tertawa. ''Tenang Abang.. adek tidak akan tergoda dengan rayuan pria tua itu. Walaupun ia menyuguhkan seratus pria tampan dihadapan ku. Adek tidak akan mau! Yang adek mau, cuma Abang! Jangan marah ya?'' pintanya dengan tersenyum manis menatap Ali.
Ali menghela nafasnya. ''Baiklah...'' ucapnya pasrah. Nara tertawa. Ia semakin mengeratkan rangkulan nya di pinggang Ali. Ali pun demikian.
Lana dan Maura yang melihat Ali dan Nara dari pintu rumah mereka akhirnya bisa bernafas lega. Sempat takut tadi. Tapi akhirnya, Nara bisa meluluhkan Ali.
__ADS_1
💕💕💕💕
Noh, aman kan? hehehe..