Penantian Kinara

Penantian Kinara
Gubuk Cinta, Abang!


__ADS_3

Satu jam lebih dua puluh lima menit mereka tiba di tempat yang dituju. Nara dan Ali tertegun melihat tempat itu. Begitu asri dan sejuk.


Banyak pohon mangga, jambu kelutuk, jambu madu, rambutan, bahkan duku pun ada berdiri kokoh disana. Semua itu untuk penyejuk lokasi saat para wisatawan datang untuk berkunjung.


Mata dan Ali begitu takjub. Dan ternyata, Lana dan Maura juga baru tiba. Mereka tersesat ternyata. Beruntung nya Papi Gilang share lokasi padanya. Bagi mereka dengan mudah menemukan tempat itu.


Turun dari mobil Lana dan Maura sama seperti Nara dan Ali. Mereka berdua tertegun. Pemandangan yang begitu menyejukkan mata. Di setiap sisinya semua di tanami pohon berbuah manis.


Sedangkan di tengah-tengah ada sawah yang menghijau. Bukan menguning. Cantik sekali. Hawa angin sepoi-sepoi nya menyejukkan mata bagi siapa saja yang memandang nya.


Lana dan Nara berdiri di depan mobil mereka. Lana merangkul bahu Maura dengan erat. Mata mereka lurus ke depan menatap sawah yang ada tanaman padi menghijau.


Begitu juga dengan Ali dan Nara. Bahkan pasangan beda usia itu langsung menuju ke pohon buah rambutan dan duku. Nara sangat ingin makan rambutan itu. Sebelum mengambilnya, Ali meminta ijin terlebih dahulu pada pemilik tempat itu.


Mereka mengijinkan dengan syarat, ambil yang bagian bawah dan yang sudah matang saja. Hanya khusus untuk keluarga mereka saja gratis. Tidak untuk keluarga yang lain.


''Yeee.... makan rambutan euuyy!! Aseekkk.. uhuuyy!'' celutuk Nara membuat Ali dan Papi Gilang tertawa.


''Ck. Dasar tukang gratis! kalau gratis kamu cepat banget! Coba kalau beli??'' sewot Algi yang sedang menggendong Zia di tangannya.


Nara mencebik. ''Biarin!'' ketus Nara.


Papi Gilang dan Mak Alisa tertawa. ''Jangan ribut. Semua ini memang gratis. Wong Papi dan Mami yang tanam nya. Makanya gratis!''


''Eh? Papi sama Mami??'' tanya Nara begitu terkejut.


Mak Alisa tertawa. ''Iya sayang. Papi kamu yang tanam. Dulu, tempat ini hanya sawah dan pondok saja. Lokasinya pun panas sekali. Nggak ada pepohonan rindang seperti ini. Entah apa yang terjadi dengan Papi kamu itu. Hingga ia nekad kembali di bulan berikutnya dengan membawa puluhan bibit rambutan, jambu kelutuk, jambu madu dan duku. Katanya untuk di tanam disini. Supaya udara disini bertambah sejuk. Dan ya, sejuk kan sekarang??''

__ADS_1


''Hooh. Benerr! sejuk banget udaranya. Nggak kayak dijalan tadi. Suam! Panas!'' sahut Nara


Ali terkekeh saja. Ia dan Lana sedang sibuk mengambil buah rambutan dan juga jambu madu permintaan Maura.


''Hahaha.. kalian suka kan tempat ini??'' tanya Papi Gilang


Nara dan Lana mengangguk, ''Ya, kami sangat menyukai tempat ini. Hawanya begitu sejuk dan asri. Kok bisa tau Papi tempat ini. Papi tau dari mana??'' tanya Lana pada Papi Gilang.


Tangannya dan Ali masih saja sibuk memetik rambutan dengan galah panjang yang tersedia di sana. Ali pun sama. Ia pun sibuk mengambil rambutan secukupnya untuk dibawa ke pondok nanti.


Papi Gilang tersenyum, ''Ada seseorang yang mengatakan pada Papi. Tempat ini baru di buka namun sepi pengunjung. Jadi.. Papi datang dan cek sendiri. Benar. Asri dan sejuk. Hanya saja baru di buka tapi tidak ada pengunjung nya. Ya.. Papi Promosi kan dong pada karyawan Papi? Alhamdulillah nya mereka suka. Hanya saja waktu itu lahan padinya tidak seluas ini. Saat Nara dan Algi berumur tiga tahun, baru lahan ini bertambah.''


''Dan itu pun berkat Papi kalian lahan itu ada dan semakin luas. Jadi.. kalaupun Pohon rambutan dan yang lainnya ini sudah tinggi, itu artinya sudah puluhan tahun. Untuk rambutan belum berganti begitu juga dengan duku. Hanya jambu madu dan kelutuk saja yang baru di tambah. Karena usia tumbuhnya itu kan tidak sama seperti rambutan dan duku??'' jelas Mak Alisa pada mereka semua


''Hoo.. pantas saja masih rendah. Kirain!'' celutuk Nara sembari tertawa renyah.


''Abang kenapa sih?! Kok sensian banget sama aku? Emang aku punya salah sama Abang?!''


Deg!


Algi terkejut namun, hanya sebentar. Kemudian ia melengos dan berlalu meninggalkan Nara dan Ali yang mematung melihat kepergianya.


''Sudah. Jangan di pikirkan. Ayo, Abang mu itu sedang gundah aja dengan keadaan istri, eh bukan. Mantan istrinya. Kemarin sempat terlihat olehnya, kalau Tiara kakak ipar kalian ada di Medan. Sedangkan berita yang kita dapat, kalau Tiara sudah berada di Bandung selama tujuh bulan ini. Hah. Maklumin saja ya? Ayo kita masuk ke pondok Cinta!''


Papi Gilang tertawa, begitu juga dengan Ali. Sedangkan Lana sudah lebih dulu menyusul ke depan karena si kembar ingin bersama saudaranya.


Mereka semua berjalan bersama dengan membawa buah rambutan di tangan masing-masing.

__ADS_1


Mereka berjalan menyusuri jembatan kayu yang dibuat khusus untuk melewati tanaman padi yang menghijau karena baru ditanam.


Tiba disana, Nara dan Ali tertegun. Pondok Cinta yang dibilang Mak Alisa begitu luas namun hanya beratapkan daun Nipah atau Rumbia. Sejuk sekali ketika dilihat. Seluruh keluarga nya sudah berkumpul disana.


Mereka memasuki pondok kayu itu. Nara tersenyum begitu lebar. Ternyata disana ada televisi juga. ''Aseeekkk.. bisa karaokean disini!'' katanya sambil berlari mendekati Algi yang sedang tidur terlentang beralaskan Ambal beludru.


Nara tiduran di sebelah Algi dimana ada si kembar Malik dan Zia yang sedang memanjati tubuh Algi. Mak Alisa dan Papi Gilang tertawa bersama melihat tingkah usil cucunya itu.


''Hadeeuuuhh.. nggak dirumah disini pun Abang selalu di gangguin ni bocah! Dasar bocah biang rusuh!'' seewot Algi.


Lana terkekeh. ''Biarin aja lah Bang. Kamu akan tau saat kamu memiliki anak nanti. Saat-saat seperti inilah yang kita rindukan mereka ketika sudah dewasa dan menikah nanti. Iya kan Mak??''


Mak Alisa mengangguk dan tersenyum, ''Ya. Saat itulah semuanya ingin kembali seperti kalian kecil dulu. Ingin melihat kalian menjadi biang rusuh seperti Malik dan Zia ini. Kapan-kapan kita ajak Kak Ira dan Annisa kemari. Pasti akan lebih seru lagi kalau ngumpul disini bersama-sama.''


Algi memutar bola mata malas. '' Mami yakin mau ngajak si biang rusuh Kakak Ira dan Kak Annisa?? Yang ada pondok ini akan menjadi gubuk derita buat Abang! Hadeeeuuhh.. dalam gubuk derita...'' ucap Algi sambil menyanyikan bait lagu gubuk derita.


Nara tertawa sarkas mendengar lelucon Algi. Begitu juga dengan yang lainnya. Semuanya tertawa. Kecuali Malik dan Zia.


''Pondok cinta Abang! Bukan gubuk derita! Gimana sih?!'' sewot Nara masih dengan tertawa. Semuanya berbahagia. Tapi tidak dengan bocah rusuh itu. Bocah kecil itu begitu rusuh. Semuanya di pegangin.


Panjat sana, panjat sini. Semua barang dirusuhin nya. Termasuk rantang makanan bawaan ketiga Mak Mak itu. Hampir saja tumpah rendang jengkol kesukaan Lana dan Algi.


Semuanya tertawa bersama saat melihat Malik mengamuk karena tidak di izinkan menyentuh rantang milik Mami nya itu.


Semuanya bersuka cita saat ini. Waktu untuk mereka bersuka cita seperti ini hanya lima puluh hari. Dan ini saja sudah melewati lima belas hari. Tersisa empat puluh lima hari lagi waktu kebersamaan Lana dan Ali bersama sang istri dan keluarga mereka.


Setelah nya mereka berdua akan kembali bertugas. Tugas terakhir untuk Lana dan Ali. Karena mereka berdua sudah sepakat akan bekerja di dekat dengan rumah saja. Lagipun kontrak mereka telah usai.

__ADS_1


__ADS_2