
Sebelumya Pukul empat pagi.
Pak Herman yang sedang memantau rumah Lana tersenyum saat melihat Lana yang masuk kerumah nya kembali setelah hampir dua jam lama nya ia duduk disana seorang diri.
"Ayo, Neng! Abang kamu udah masuk kok. Ini kesempatan buat kita." Kata Pakk Herman dan diangguki oleh Kinara dan baby sitter nya.
Ya, Kinara saat ini sudah memiliki baby sitter yang dicarikan langsung dari oleh dokter Andini. Mereka datang pada malam harinya saat Lana sudah masuk kerumah nya dan tidak lagi duduk di balkon lantai dua di rumah itu.
Mereka semuanya keluar dari rumah itu dengan cepat. Tetapi tidak untuk Kinara. Ia tetap berjalan pelan.
Baru saja Kinara keluar dari pagar rumahnya sudah terlihat Lana kembali dan melirik mereka dengan cara menajamkan pandangan nya.
Tapi setelah itu ia duduk di kursi yang tersedia disana sambil memegang ponselnya.
Mereka semua bernafas lega. Untungnya tadi Pak Herman sengaja menyuruh Baby sitter si kembar dan Gading agar cepat berjalan ke mobil supaya tidak ketahuan Lana.
Mereka serasa di kejar pemburu seperti itu. Dengan cepat Pak Herman membawa Kinara dan anaknya menuju pesantren yang dituju.
Tiba disana mereka sudah di tunggu. Kinara di tuntun masuk oleh istri Ustadz Mahmud dan juga bu Husna.
Acara itu akan dilaksanakn pukul tujuh lebih tiga puluh menit pagi annti.
Untuk sementara Kinara di biarkan dulu untuk beristirahat sejenak sebelum acara dimulai.
Pukul tujuh tiga puluh pagi, acara penabalan nama pun dimulai. Ustadz Mahmud sendiri yang memimpin acara itu.
Acara yang berlangsung dengan sangat khidmat. Sempat Kinara sedih saat mengingat seluruh keluarga nya yang tidak hadir disana.
__ADS_1
Tetapi itu hanya sesaat setelah mendengar Ustdaz Mahmud memberikan nama untuk salah satu putra sulungnya.
"Baik. Ustadz udah punya nama nih untuk si trio kembar ye?" kelakarnya membuat anak pesantren itu terkekeh.
Kinara pun ikut terkekeh. "Untuk si sulung. Kakek berinama Adam Jaber Al Bashri. Untuk adek, Kakek berinama Idris Jaber Al bashri yang akan di panggil dengan Ijal dan untuk si cantik Kakek beri nama Sofia Alkira Bashri. Nama pertama merupakan nama salah seorang istri nabi kita, Muhammad saw. Dan Alkira singkatan nama dari Ali dan Kinara. Semua ini berdasarkan nama yang di usulkan oleh Ummi nya sendiri. Ummi Kinara. Semoga menjadi anak yang sholeh yang taat pada perintah Allah dan berbakti kepada kedua orang tuanya kelak."
"Mari kita berdoa untuk kesehatan dan kelancaran aqiqahannya hari ini. Dan juga untuk Abi dari trio kembar yang belum tau pasti dimana keberadaannya hingga saat ini."
Kinara menunduk. Mengingat Ali, hati itu kembali sakit. Bu Hasna memegang tangan Kinara untuk menguatkannya.
Kinara tersenyum walau sendu.
Acara itu pun berlangsung dengan khidmat. Ustadz Mahmud sendiri yang membawa bayi itu satu persatu untuk didoakan oleh seluruh anak pesantren dengan cara mencukur sedikit rambutnya.
Setelah selesai, barulah pembagian boks makanan dari dapur Kinara sendiri untuk semua anak Pesantren.
Hingga salah satu dari orang dapur Kinara mengatakan jika semua makanan untuk keluarga dan tetangga sudah siap.
Kinara pun mengangguk. Ia ingin segera pulang dan melihat reaksi Abang tersayang nya itu seperti apa.
Apakah akan marah atau akan memeluknya karena menyayanginya. Ini yang akan Kinara tunjukkan kepada seluruh saudaranya yang lain.
Mereka semua pamit setelah menyalami anak pesantren dengan amplop berisi uang jajan untuk anak-anak pesantren itu.
Dan disini lah Kinara sedang berada. Ia sedang berdiri dan tersenyum manis pada Lana yang kini menatap nya terkejut.
Kinara tersenyum tetapi air mata itu mengalir di pipinya. Lana pun demikian. Tanpa sadar ia berlari dan melewati pagar rumah mereka berdua yang setinggi pinggang Kinara dan menubruk adiknya dengan kuat.
__ADS_1
Grep!!!
Hingga Kinara terhuyung kebelakang. Hampir saja Kinara terjatuh. Tetapi tidak. Karena Lana memeluknya dengan erat bahkan sangat erat.
Kinara pun demikian. Mereka berdua menangis bersama. Lana mengecup seluruh wajah Kinara dengan sayang.
Semua yang melihat nya tertegun sekaligus terharu. Apalagi Bang Raga. Ia yang lebih tau tujuan Kinara seperti apa, kini semakin tersedu.
Kaki Kinara lemas karena tidak sanggup untuk berdiri. Lana yang tau pun segera menggendong adik kecil nya itu ala bridal style untuk menuju rumah Kinara yang saat ini sudah terbuka pintunya karena di bukakan oleh Pak Herman.
Beliau dan Bu Husna pun ikut menangis melihat Kinara dan Lana yang saat ini sedang berada di lantai dengan saling berpelukan erat.
Tidak sekalipun Lana melepaskannya. Bahkan ia semakin mengeratkan pelukan nya pada tubuh chubby Kinara saat ini.
"Kenapa?" bisik Lana di telinga Kinara
"Karena adek sangat menyayangi Abang. Abang seseorang yang penting di dalam hidup Adek. Abang orang kedua setelah Papi yang adek sayangi. Apakah adek salah membuat Abang bahagia dengan keluarga klita? Hiks.." balas Kinara masih dengan berbisik
"Tapi nggak dengan menghindari Abang sayang!"
"Maaf.. Adek hanya ingin melihat seluruh keluarga kita berkumpul bersama dirumah Abang tanpa adek-,"
"Tapi Abang membutuhkan mu sayang! Taukah kamu? Selama seminggu ini Abang sudah seperti orang gila mencari keberadaan mu! Hiks.. Tega kamu sama Abang!"
"Maaf.. hiks.. Adek melakukan semua ini karena sangat menyayangi abang. Sangat menyayangi Abang.." bisik Kinara yang semakin membuat Lana tersedu bahkan suara isakan nay itu begitu jelas terdengar.
Hingga membuat seseorang yang berdiri di depan pintu mematung melihat sang suami yang begitu menyayangi Kinara lebih dari dirinya.
__ADS_1