Penantian Kinara

Penantian Kinara
Mengabarkan keluarga di Bandung


__ADS_3

Lana kembali denagn piran berkecamuk. Belum lagi hatinya begitu tidak tega melihat adik kecilnya yang begitu yakin terhadap Ali yang kini masih hidup.


Sementara kenyataannya, Ali tidak di temukan dimana pun. Lana berjalan ke ruang tamu dengan tatapan mata yang kosong.


Kak Ira yang melihat itu segera bangkit dan memegang tangan Lana yang berjalan entah kemana seperti orang bingung.


Maura menangis melihatnya. Ternyata Lana tidaklah sekuat yang terlihat. Ia pun bisa rapuh dan terluka karena kehilangan Ali yang merupakan suami adiknya. Kinara. Adik kecil kesayangan nya.


"Duduk dulu. Mana adek?" tanya Kak Ira pada Lana yang kini seperti orang bingung.


"Bang.." panggil Maura dengan suara lirih karena tidak mendengar sahutan dari Lana saat Kak Ira memanggilnya.


Lana menoleh pada ketiga orang yang kini sedang menatapnya dengan tanda tanya. "Ada. Adek lagi di kamarnya saat ini sedang beberes. Sebentar lagi keluar kok," jawabnya masih dengan tatapan kosongnya.


"Mami," pabggil Gading yang saat ini sednag berjalan bergandengan menuju ke empat orang saat ini menoleh bersamaan karena mendengar suaranya.

__ADS_1


"Abang kerumah Uwak ya? Mau main sama adek Malda. Dan juga sama adek malik dan Zia. Boleh kan ya?" pinta nya Nara yang kini sedang tersenyum lembut padanya.


"Tentu. Pergilah. Jangan nakal dan jangan mengganggu ketiga adikmu. Kamu yang paling besar diantara mereka bertiga. Paham?"


Gading tersenyum hingga menunjukkan gigi nya yang putih bersih setelah Nara dan Ali membawa nya kerumah sakit untuk membersihkan karang gigi yang begitu menempel di giginya.


"Aasiap Bos!" sahutnya dengan segera berlari keluar dari rumahnya melewati ke empat Uwaknya yang kini tersenyum pada nya dan menuju kerumah Lana dan Maura.


Tinggallah kini ke empat orang itu yang semakin tertegun melihat senyum serta kekehan kecil keluar dari mulutnya saat melihat tingkah putra angkatnya yang menggemaskan itu walau sudah memasuki kelas satu SD.


"Adek akan hubungi keluarg kita yang di Bandung dan mengabarkan tentang berita ini. Bagaimana pun mereka semua harus tau. Ya.. Walaupun mereka nantinya akan shock berat karena hal itu." Ucap Kinara pada mereka semua.


Kak Ira mengangguk setuju begitupun dengan Bang Raga. "Hubungi mereka. Mereka berhak tahu tentang hal ini. Ali putra sulung mereka. Kita wajib memberitahunya. Ya.. Seperti yang adek bilang tadi. Walau nantinya mereka akan shock berat," timpal Kak Ira dan di iyakan oleh Bang Raga dan Kak Maura.


Tetapi tidak dengan Lana. Tidak sepatah katapun yangterucap dan kini sedang menatap Kinara dengan tatapan kosongnya. Kinara tau itu. Dan ia pun menghela nafas panjang.

__ADS_1


Ia menatap sayu pada Lana yang kini sedang menatapnya dengan tatapan kosongnya. "Abang tenang aja. Adek nggak pa pa Kok. Jangan cemaskan adek. Adek sudah terbiasa seperti ini. Adek yakin, jikalau Bang Ali sudah meninggal pastilah jasad itu akan segera di ketemukan. Begitu pun sebaliknya. Jika memang ia masih hidup dan tidak tahu entah dimana. Cepat atau lambat Bang Ali pasti akan pulang kesini lagi untuk menemui kami. Untuk itu, Adek hanya bisa bersabar dan menunggu kepulangan jika ia memang lah masih hidup. Jangan ragukan kekuatan pikiran dan keyakinan hati Bang Lana!"


Deg!


Deg!


Lagi dan lagi ke emnpat orang itu tertegun mendengar ucapan Kinara. "Ya sudah, kita hubungi Abi Husen dulu ya?" ucapnya lagi dengan segera ia memegang ponsel yang tersimpan di saku rok nya dan mendial nomor Abi Husen di Bandung sana.


Baru sebentar bunyi tut, kini panggilan itu sudah di jawab oleh orang disana. Kinara tersenyum saat melihat wajah Abi Husen dan juga Ummi Siti yang begitu cemas saat ini.


"Assalamu'alaikaun, Nak? Ali? Ali mana? Apakah terjadi sesutu dengannya?! Ummi, Ummi mimpi buruk Nak. Ummi mimpi melihat Ali tenggelam dilaut dan kamu menangis di atas tebing nan curam! Ummi sama Abi tidak bisa membantumu! Mana? Mana putra sulung Ummi Nak?!" tanya Ummi Siti begitu panik dan cemas.


Lana lagi dan lagi terkejut. Semua yang disana terkejut. Tapi tidak dengan Kinara. Gadis ayu itu tersenyum teduh kepada kedua orang tua Ali yang merupakan Mertua nya.


Mertua yang sangat menyayanginya.

__ADS_1


__ADS_2