Penantian Kinara

Penantian Kinara
Teguran Ali untuk kedua kakak iparnya


__ADS_3

''Ma-maaf.. ka-kami me-mengganggu kalian berdua. Ka-kami hanya menyampaikan pesan dari istri komandan Kevin un-untuk kalian berdua, ka-kalau kalian berdua di-di undang untuk menghadiri acara ramah tamah di rumahnya sekalian per-permintaan maaf dan juga u-ucapan Terimakasih untuk Kak Ma-Maura dari ibu-ibu yang tinggal di komplek ini. Itu saja! Ayo Bang kita pulang! Mungkin.. setelah ini adek akan sendiri tinggal di komplek ini. Hiks.. kita pu-pulang Bang! Assalamualaikum! ma-maaf mengganggu!!'' kata Nara sambil terisak, ucapannya seketika tergagap.


Ia memegang erat tangan Ali. Ali menatap datar pada dua orang yang terkejut karena perkataan Nara baru saja.


''Dek..'' panggil Lana sembari mendekati mereka berdua. Nara membalik tubuh nya tidak ingin melihat Lana dan Maura yang sedang bertengkar karena masalah tadi.


''Ayo Bang! Kita pulang!'' kata Nara lagi pada Ali. Ia ingin pergi karena tidak ingin melihat keributan dua saudaranya itu.


Nara menarik tangan Ali tapi Ali memegang nya dengan erat. ''Tunggu Sayang!'' Katanya pada Nara. Nara memeluk erat tangannya dengan kepala bersembunyi di dada Ali.


Ali memeluk erat tubuh Nara yang sudah berguncang karena menangis. Sementara Ali menatap datar pada Lana dan Maura. ''Maaf mengganggu waktu Kalian! Ingat Bang! Kak Maura sudah meminta mu menjatuhkan talak padanya. Kamu tau kan apa arti dari kata meminta talak??'' kata Ali pada Lana masih dengan wajah dingin dan datar.


Lana diam. Sedang Maura masih terisak. ''Kamu telah berdosa bang Lana! Dan untukmu juga kak Maura! Tidak akan masuk surga bagi seorang istri yang meminta cerai , pisah atau talak kepada suaminya! Kamu tau itu Kak Maura! Tapi kenapa kamu mengatakan hal itu! Maaf, bukan maksudku menggurui kalian berdua! Aku hanya orang luar disini! Tapi aku hanya mengingatkan abang ku sekaligus rekan ku!'' tukasnya begitu kesal.

__ADS_1


''Jangan gegabah mengatakan kata cerai! Dan jangan juga menghujat ataupun menuduh seseorang sebelum adanya bukti dari Masalah itu! Abang keseringan berbuat seperti ini. Sudah ku katakan berulang kali. Jangan terpancing emosi saat komandan Kevin mengatakan hal buruk tentang istrimu! Cari tau dulu! Telaah dulu! Tapi Abang tidak mendengarkan ku! Kalian berdua salah! Tidak ada yang benar! Maaf! aku menjadi guru disini. Jika bukan aku yang meluruskan siapa lagi??'' lanjutnya lagi, masih dengan wajah datar. Nara masih sesegukan di dada bidangnya. Ali memeluknya semakin erat.


Tangan kecil Nara sudah melingkar erat di pinggang Ali. ''Tidakkah kalian melihat Nara yang begitu terluka karena pertengkaran kalian ini? Kecewa boleh. Itu hal yang wajar! Tapi bukan kata-kata yang sakit yang menyinggung satu sama lainnya! Sadar kalian berdua. Pernikahan kalian itu baru seumur jagung. Apakah semudah itu kalian berpisah? Setiap rumah tangga itu memilki Masalah masing-masing. Tapi bukan perceraian jalan keluarnya! Pikirkan itu baik-baik! Maaf menggurui! Tapi aku terpaksa meluruskan pada orang salah paham karena hal yang belum jelas dan tertekan karena orang lain! Kami pulang! Assalamualaikum!!'' tukasnya lagi.


Dengan cepat Ali membawa Nara yang masih erat memeluk tubuh kekarnya. ''Kita pulang.'' lirihnya lembut di telinga Nara. Nara tidak menyahut namun, mengangguk walau masih terisak.


Sedangkan Lana dan Maura membatu di tempat mendengar serentetan ucapan Ali yang menegur mereka berdua. Lana menatap nanar pada Nara.


Ali dan Nara tidak mendengarkan. Mereka masuk kerumah mereka dengan tergesa. Hingga mereka berdua menghilang di balik pintu. Namun, kejadian yang tidak di duga Lana ialah ia melihat Bu Amanda masih berdiri didepan pintu pagar rumah Nara.


Lana mematung di tempat. ''Maulana..'' panggilnya.


Lana tak peduli. Dengan segera ia masuk ke dalam rumahnya untuk melihat Maura dan kedua anaknya.

__ADS_1


Sementara Nara masih sesegukan di dalam dekapan hangat Ali. ''Sudah.. jangan menangis. Itulah ujian rumah tangga mereka. Kita harus memakluminya. Hem?'' ucap Ali pada Nara yang masih terisak.


Nara mengangguk, ''Ta-tapi... mereka akan hiks.. bercerai Bang..'' Isak Nara masih dengan memeluk tubuh tegap Ali.


Ali tersenyum, ia menjadi tau apa yang menjadi kerasahan istri kecilnya ini. ''Nggak akan! Abang sangat tau siapa bang Lana. Doakan saja yang terbaik untuk mereka. Hanya doa yang bisa mengubah segalanya. Begitu pun dengan kita. Abang pun tak tau seperti apa ujian pernikahan kita ke depannya. Walaupun sudah dua Minggu ini kita menikah belum juga mendapatkan apa-apa. Tapi jangan sepele. Terkadang kita tidak mendapatkan nya sekarang. Akan tetapi di kemudian hari. Allah sudah menyiapkan nya untuk kita. Ia akan memberikan diwaktu yang tepat. Abang hanya bisa berharap, kalau kamu akan kuat menghadapi ujian pernikahan kita nantinya.''


''Apapun yang terjadi. Kamu tetap harus kuat, sabar dan tawakal. Satu permintaan Abang. Andai.. suatu saat rumah tangga kita terguncang, jangan pernah mengucapkan kata keramat itu. Kalau Abang salah, tolong kamu bawa kembali Abang agar bisa seperti sekarang ini. Manusia itu tempatnya khilaf. Ya sayang? Ataupun Abang tidak pulang dalam waktu yang lama, Abang harap kamu tetap setia pada pria tua ini. Abang sangat mencintai mu sayangku. Sangat mencintai mu. Kalau sampai kamu pergi dengan yang lain, karena kamu tidak betah menunggu kepulangan Abang. Maka Abang akan mati!''


Ddduuaaarrr...


''Enggak! Abang nggak boleh mati! Jika Abang mati maka adek pun akan mati ikut Abang!''


Deg!

__ADS_1


__ADS_2