Penantian Kinara

Penantian Kinara
Sepeninggalnya Malda


__ADS_3

"Haaaaaa... Tidaaaakkkk.. Maldaaaaaa... Haaaaa... Maldaaaaaa...." raung lana begitu menyayat hati.


Ali tidak sanggup untuk melihat kerapuhan Lana. "Udah Bang. Sebaiknya kita menyusul Malda Ke Malaysia. Waktu kita berangkat masih ada sekitar beberapa jam Lagi. Ayo, bersiaplah. Kita harus menyusulnya."


Lana tidak menggubrisnya. Ia meraung sekuat tenaga dengan dada yang terus ia pukul dengan kuat saking sakitnya dada itu. Maura dan Kinara pun semakin tersedu.


Abi Husen yang mendengar suara raungan Lana dari depan pintu rumah Lana segera memasuki rumahnya itu.


Beliau tertegun di tempat saat menyaksikan sendiri seperti apa Lana pada saat ini. Sangat menyedihkan.


Beliau melangkah masuk dan mendekati Ali yang kini sedang menenangkan Lana yang berusaha terus memukuli dirinya sendiri.


"Udah Bang, udah. Istighfar Bang. Kita masih bisa menyusul Malda. Jangan seperti ini. Lebih baik kita bersiap, ayo!" bujuk Ali untuk yang kesekian kalinya.


Seakan tuli, Lana tidak mendengarkan apa yang Ali katakan. Ia malah semakin histeris saja. ke empat anaknya pun ikut menangis meraung melihat keadaan sang Papi yang begitu rapuh saat tau jika Malda saat ini sudah terbang menuju ke Malaysia.

__ADS_1


Abi Husen tidak sanggup melihatnya. Ia keluar dari kamar itu dan kembali kerumah Kinara. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi yang artinya mereka harus segera menuju ke Bandara.


Karena pesawat mereka dari Medan ke Jakarta akan segera berangkat pikul tujuh lebih tiga puluh pagi.


Abi Husen berinisiatif menghubungi mami Alisa dan Papi Gilang.


Tut, tut, tut..


"Assalamu'alaikum besan. Ada apa? Apakah kalian sudah berangkat?"


"Ada apa? Kenapa dengan rumah Lana? Kinara dan Ali mana?" tanya Mami Alisa pada papi Gilang yang saat ini terdengar oleh Abi Husen.


"Cepatlah kemari Besan! Sebelum terlambat! Saya harus segera berangkat ke Bandara bersama keluarga. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikum salam.. Ayo sayang. Kita kesana sekarang!"

__ADS_1


"Ya," sahut Mami Alisa dengan segera meninggalkan kediamannya dan menuju kerumah Lana dan Kinara tanpa mengabarkan kepada kedua anaknya disana.


Yaitu Rayyan dan Algi.


Mereka berdua tidak tau jika dirumah Lana dan Kinara saat ini terjadi sesuatu yang entah seperti apa.


Sementara di kediaman Kinara dan Lana, Abi husen pamit pada Ali untuk segera berangkat tanpa diantar oleh mereka.


Ali meminta maaf pada Abi Husen dan ummi Siti karena tidak bisa mengantar mereka semua lantaran kondisi Lana yang saat ini semakin menyedihkan pasca sepeninggalnya Malda.


Putri sulungnya.


"Li.. Siapa yang bilang sama Malda kalau dia bukan putriku? Siapa yang bilang Li??" lirih Lana dengan air mata terus bercucuran


"Keluarga kita nggak ada yang memberitahunya Bang. Tetapi ada salah satu adik ayahnya yang masih hidup hingga saat ini. Mereka lah yang menemui kami tiga tahun yang lalu di Dapur Kinara. Ternyata selama ini mereka selalu mengawasi Malda. Hal yang tidak pernah Adek tau, Bang.. Maaf.. Adek nggak bisa mencegahnya. Karena itulah takdirnya.." lirih Kinara sudah tidak bertenaga lagi.

__ADS_1


Saat ini ia terduduk di kaki ranjang Malda sambil memegangi surat itu.


__ADS_2