
Dirumah Lana.
Lana yang sedang mondar mandir tidak jelas terkejut karena dering ponsel di saku celananya.
Tringg..
Triing..
''Astaghfirullah!! Dari tadi di tungguin kagak ada! Nggak di tunggu, bunyi dia! Ck! Haisshh... ya hallo Assalamualaikum .. eh ini siapa??" tanya Lana pada sambungan ponsel yang berbunyi itu.
Lana tidak membaca nomor dan nama yang tertera disana. Ia langsung saja menggeser tombol berwarna hijau di ponsel nya.
"Eh, maaf tuan.. ini .. sambungan ponsel nya sudah terhubung dengan tuan Maulana!" terdengar suara seperti Lana kenal.
''Tunggu dulu. Kamu??''
''Ya, Tuan! Saya resepsionis dirumah sakit Anda. Ini Tuan Gilang ingin berbicara dengan Anda.'' katanya sambil memberikan gagang telepon itu kepada Gilang.
''Assalamu'alaikum nak..'' sapa Papi Gilang.
Saat ini sarung yang ia kenakan sudah benar kembali. Hampir saja lepas jika tidak cepat ia tangkap. Makanya yang menghubungi Lana itu resepsionis dirumah sakitnya.
Sedang Papi Gilang sibuk menggerutu sambil membenarkan belitan Kaun sarung di pinggang nya agar tidak terlepas lagi.
Ck! Dasar Papi! Bisa-bisa nya kryimsh sakit Paksi sarung. Mana nggak pakai dalaman pendek lagi. Hanya CD saja. Kalau sampai sarung itu benar-benar melorot, maka putuslsh sudah urat malu Papi Gilang dihadapan para pegawai rumah sakit Lana ini.
''Waalaikum salam, Papi! Kemana aja?! Sedari tadi Abang hubungin kok nggak ada yang angkat sih?! Kalian dimana?? Di hotel???'' ucap Lana begitu geram kepada Papinya ini.
__ADS_1
Suster resepsionis itu mengulum senyum. Sementara Papi Gilang melototkan matanya pada resepsionis itu.
'Ck! Kamu itu ya! Anak nggak ada akhlak! Awas kamu! Papi sunat sekali lagi, mau kamu!'' ketus Papi Gilang sembari berkacak pinggang di depan meja resepsionis hanya dengan memakai kain sarung.
Semua yang ada disana terkikik geli mendengar ucapan Papi Gilang untuk sang pemilik rumah sakit. Semua yang ada disana, kenal dengan Papi Gilang yang merupakan orang tua dari pemilik rumah sakit itu.
Mak Alisa yang merasa Papi Gilang begitu lama, ia berjalan menuju ke meja resepsionis. Tiba di sana, Mak Alisa melongo. Melihat Papi Gilang yang sedang mengomel tidak jelas melalui sambungan telepon rumah sakit milik Lana.
Mak Alisa terkekeh kala mendengar jika sang suami sedang berdebat dengan putra sulungnya. Siapa lagi jika bukan Lana. Sang biang rusuh saat ia berumur delapan tahun dulu.
Namun, menjadi kesayangan Papi Gilang saat ia sudah besar. Walaupun sering di bumbui dengan perdebatan, tetapi mereka tetap saling menyayangi.
Kembali pada Papi Gilang dan Lana yang sedang saling berdebat melalui sambungan telepon rumah sakit miliknya.
''Ck! Kan yang Abang bilang bener adanya! Papi tuh kalau nggak ke hotel sama Mak terus kemana lagi???'' jawab Lana semakin gemas saja pada Papi kesayangan ini.
''Kamu...!!''
Papi Gilang menghela nafasnya. ''Ya, Algi juga demam dan sekarang ada dirumah sakit. Ia mengalami kecelakaan pada saat menolong seseorang yang rumahnya sedang di lahap si jago merah! Kalian yang kesini! Sekalian bawa adek, biar kita rawat bersama disini! Katakan itu pada Ali. Papi sama Mak, nggak bawa ponsel satu pun. Kedua ponsel kami tertinggal di rumah. Sedangkan rumah kita nggak ada orangnya! Hanya ada Mang Kirno disana yang menjaga rumah kita karena dia satpam! Sudah jelas?!'' kata Papi Gilang dengan sekali tarikan nafas.
Mak Alisa yang sedang berdiri di belakang Papi Gilang tertawa hingga kepala nya mendongak ke atas.
Papi Gilang terkejut. ''Astaghfirullah! Sayang! Ishh.. suka banget sih, ngejutin aku?? Hah! Hampir copot jantung ku mendengar suara kamu! Aku pikir tadi nyai Merunti!!'' katanya pada Mak Aksa.
Mak Alisa terkejut dengan ucapsn Papi Gilang. ''Eh, apaan tuh Nyai Merunti??? Yang ada tuh ya, nyai Kunti Papi!!!'' balas Mak Alisa pada Papi Gilang.
Lana yang masih terhubung dengan sambungan telepon rumah sakit miliknya, tertawa terbahak dirumahnya. Sampai-sampai Maura berlari keluar dari dapur dengan tangan masih basah dan penuh dengan ampas kelapa karena sedang memasak rendang jengkol kesukaan Lana.
__ADS_1
''Abang Kenapa??'' tanya Maura begitu panik.
Lana yang masih tertawa menoleh pada Nara. ''Papi sama Mak ada dirumah sakit. Haha.. bersiaplah, Abang tunggu! Sekalian kita bawa adek juga. Algi masuk rumah sakit karena kecelakaan! Ayo, eh kamu masak apa itu? Rendang jengkol kah??'' tanya Lana memastikan.
''Rendang jengkol?? Papi mau!! Sedari pagi Papi belum makan! Bawain kemari nak! Papi mau!'' Seru suara di balik ponsel yang Lana pegang saat ini.
Lana mencebik dan berdecak kesal. ''Giliran rendang jengkol aja seneng banget! Nggak usah dibawa sayang! Itu kan kamu masak untuk Abang??'' imbuh Lana pada Maura yang dihadiahi pelolototan mata Papi Gilang pada Mak Alisa.
Mak Alisa tertawa melihat tingkah Papi Gilang yang telah berhasil di goda oleh putranya. Sedangkan Maura tertawa.
''Eh, rendang jengkol ku!!! Tenang Pi!! Nanti kakak bawa! Lengkap dengan ikan asin goreng nya!!'' Seru Maura dengan segera ngacir ke dapur.
Lana terbahak melihat tingkah Maura. Begitu juga dengan Papi Gilang dan Mak Alisa. Mereka bertiga tertawa bersama. ''Ya sudah, Papi tutup telepon nya. Papi sudah dipanggil dokter itu. Jangan lupa rendang jengkolnya! Kalau kamu sengaja lupa atau tidak bawa, Papi sunat lagi untuk yang kedua kalinya! Agar Maura tidak bisa merasakan kayu laut milikmu itu!''
Tut!
Lana melototkan mata nya menatap ponsel miliknya. ''Haisssshhh.. ini orang tua kok seneng banget sih pingin sunatin aku untuk yang kedua kalinya?! Ishh..''
Sedangkan dirumah sakit, Papi Gilang tertawa terbahak. Ia saat ini sedang membayangkan wajah kesal Lana untuknya karena telah berhasil mematahkan argument nya.
''Kalimat yang ampuh! hihihi..''
Mak Alisa hanya menggelengkan kepalanya saja. Mereka berjalan berdua beriringan menuju keruang inap Algi yang sudah selesai di periksa dokter tadi.
Setelah diperiksa, Algi harus menginap dan dirawat dulu sampai luka bakar di tangan kirinya itu pulih. Algi harus dirawat karena terlalu banyak menghirup asap dan juga tubuh nya sebelah terkena luka bakar akibat rumah yang terbakar itu roboh dan menimpa lengannya yang sebelah kiri.
Ia dilarikan ketahuan sakit oleh tetangga sekitar. Dan baiknya orang itu, sengaja membawa Algi kering sakit Abang nya sendiri. Lana.
__ADS_1
Dan ketika dirumah sakit pun, ia di tangani oleh dokter Bryan. Sahabat Maura sedari mereka kuliah hingga saat ini.
Nasib baik sedang bersama Algi. Kalau tidak, ia pasti sudah habis terbakar karena menyelamatkan nyawa seseorang.