
Ali terus saja terkikik geli saat mengingat kejadian dua tahun lalu. Dimana Fathir dan dirinya selalu berdebat dengan Fathir karena tidak sejalan.
Sampai-sampai Fathir marah padanya. Tetapi marah itu sebentar saja saat Nenek Ayu turun tangan menceritakan yang sesungguhnya.
Barulah Fathir percaya.
Dan untuk itu, sebagai sarana keduanya berkominikasi Fathir meninggalkan ponselnya untuk Ali.
Dan juga ia mengirimkan sesuatu untuk putra sulungnya, Gading. Sesuatu yang hanya ia dan adik-adiknya yang tau apa itu.
Setelah itu mereka benar-benar terpisah. Terpisah dalam artian jarak dan waktu saja. Sedangkan komunikasi mereka berdua tidak akan putus.
Fathir kembali ke Medan dengan semangat yang baru saat itu. Maka setelah kepulangannya dari umroh ia langsung saja menemui Kinara dan terutama Gading karena ada sesuatu yang harus ia berikan kepada putra sulung Kinara itu tetapi tanpa sepengetahuan Kinara dan Lana.
Flashback off.
Mengingat itu, lagi dan lagi Ali terkikik geli. Apalagi saat Fathir mengirimkan banyak pesan padanya karena hampir saja ketahuan oleh Kinara dan Lana.
Tubuh itu terus saja berguncang karena tertawa. Kinara yang saat ini sedang terlelap jadi terbangun karena merasakan tubuh hangat sang suami berguncang yang ia pikir sedang menangis.
Kinara panik. Ia secepatnya bangun. Tetapi pergerakan tubuhnya itu terbaca oleh Ali. Secepat kilat Ali menarik tangan halus itu dan memeluknya lagi.
__ADS_1
"Ab-,"
"Sssssttt.. diamlah sayang. Jangan mengganggu yang lain tidur. Abang masih belum bisa untuk menikmati palung surga mu. Lantaran keluarga kita masih disini. Padahal Abang kangen banget sama apem legit ini!" bisik Ali di telinga Kinara yang membuat sang empu melotot padanya.
Tangan Ali yang sudah nangkring di benda kesukaannya itu pun Kinara tabok. Ali terkikik geli lagi.
"Abang ih! Mesum!"
"Hihihi.. Mesum sama istri sendiri nggak apa sayang. Malah itu pahala. Main yuk?"
Kinara mendongak padanya, "Main apaan? Ini tengah malam loh.. besok aja deh mainnya!" balas Kinara masih dengan berbisik juga.
Ali yang gemas mengecup sekilas putik ranum yang tidak pernah ia rasakan lagi itu. "Main kuda-kudaan lah sayang!"
"Ada!" jawab Ali
"Apaan??"
"Bermain kuda sandi! Seperti ini!" Ali memperagakan tubuhnya pada Kinara dengan posisi membelakangi.
Membuat Kinara terkejut bukan main hingga reflek saja ia memukul-mukul dada bidang sang suami yang membuat Ali semakin cekikikan.
__ADS_1
Cekikikan nya itu sampai terdengar ke telinga Arfan yang saat ini sedang tidur disamping adik Ali. Ia terkekeh karena melihat Kinara terus memukul-mukul dada Alli.
Abi Husen menggelengkan kepalanya melihat tingkah nakah Ali, tak lama ia terkekeh. "Ehem. Tidur A'. Besok aja lagi acara menggodanya!"
Deg!
Sontak saja keduanya terkejut dan mematung dan saling bertatapan di dalam cahaya remang diruang tamu itu karena mendengar suara Abi Husen.
"I-iya awuuhh.. ssstt. Kami tidur! iya tidur!" sahut Ali yang kini sedang menahan sakit tetapi geli karena cubitan kuat di perutnya.
Arfan terkekeh lagi. Begitu pun dengan Abi Husen. Mereka sangat mengenal siapa Ali.
Sementara Kinara semakin kesal kepada suaminya itu. "Isshh.. Abang sih! Kan ketahuan? Malu tau!" bisiknya lagi
Ali tetap terkikik geli sambil sesekali ia terlonjak kaget karena tangan Kinara yang terus mencubit perutnya.
"Iya sayang. Iya."
"Iya, iya doang Abang! Ini apapan sih Bang? Kulit buaya atau kulit kayu sih? Kok keras gini sih? Mana nggak bisa di cubit lagi!" keluh Kinara saat terus mencubit perut kotak kotak Ali.
Ali yang sudah tidak tahan ingin tertawa, segera menarik tengkuk Kinara dan mengecup putik ranum itu dan tertawa disana.
__ADS_1
Tubuhnya berguncang. Sedang Kinara semakin kesal saja karena ulah suami nya ini. Arfan dan Abi husen semakin terkekeh-kekeh kala melihat tangan Kinara memukul dan mencubit seluruh tubuh Ali tetapi sang pemilik tubuh terus saja menggodanya.