Penantian Kinara

Penantian Kinara
Ke bukit ujung.


__ADS_3

Sementara Ali dan Lana, keesokan harinya mereka sudah berjanji akan ke bukit ujung untuk menghubungi sang istri di Medan sana.


Pagi-pagi sekali Lana dan Ali beserta Gading sudah bersiap akan ke bukit ujung untuk bisa berbicara dengan keluarga mereka di Medan.


''Ayo Bang. Kita harus ke bukit ujung untuk bisa berbicara dengan Mami Kamu,'' ucap Ali pada Gading.


''Iya Pi.. tapi ini Gading.. sakit banget Pi.. sssttt...'' desisnya menahan sakit pada burung kakak tua nya.


Ali mengeraskan rahangnya. ''Ya sudah. Biar Papi Lana aja sendiri kesana ya? Abang istirahat aja. Papi mau nemuin Papi Lana dulu ingin mengabarkan kalau kita tidak jadi berangkat ke bukit ujung, hem?''


Gading tidak menyahuti. Ali tersenyum dan berlalu menuju Lana yang sedang memanaskan Jeep milik jendral Wawan. Kemarin malam, ia sudah minta izin agar pagi ini mereka bertiga ingin menghubungi keluarga di Medan.


Karena firasat Lana mengatakan jika kedua anaknya pasti sudah lahir ke dunia. Gading tercenung saat melihat wajah Ali yang mendadak sendu karena tidak bisa bertemu dengan sang pujaan hati.


Gading beranjak dari tempat tidurnya. Turun perlahan dan menuju Ali dan langsung yang sedang berbicara. Sangat terlihat jika wajah Ali begitu sendu, namun tetap memaksakan senyum.


''Bang!'' Lana menoleh saat mendengar suara Ali.


''Sudah siap?? Ayo? Gading mana??''


Ali tersenyum walau sangat jelas terlihat wajah nya begitu sendu. Lana menghela nafasnya. ''Ya sudah. Kalau kamu tidak jadi pergi. Maka Abang pun tidak jadi. Kita kembalikan saja Jeep ini. Tunggu disini! Ayo-,''


''Abang ikut Pi! Ayo! Abang sehat kok. Hanya nyeri sedikit saja kok.'' sela Gading

__ADS_1


Ia berjalan tergopoh-gopoh dengan menahan rasa sakit dibagian paruh burungnya yang terluka. Ali mendekati Gading dan menggendong bocah kecil berusia belum genap tujuh tahun itu.


''Nggak boleh! Kita akan kesana setelah kamu sembuh! Nggak ada bantahan!'' tegas Ali menatap lembut pada putra angkat nya itu.


Gading memeluk leher Ali, tidak berani melihat tatapan mata Ali yang begitu sendu. ''Abang mau ketemu Mami.. Papi kangen kan sama Mami??''


Deg!


Ali terkejut mendengar ucapan Gading. Ia mengurai pelukannya dari tubuh Gading dan menatap nya dalam. Gading tersenyum. ''Buat Papi apapun akan Abang lakukan! Asalkan Papi bahagia... Abang sayaaanggg sekali sama Papi. Papi orang tua Abang. Abang nggak mau gara-gara Abang sakit, Papi menunda ingin ngomong sama Mami. Abang baik-baik aja kok. Setelah ini, Abang janji! Abang akan istirahat dan minum obat agar cepat sembuh dan tidak merepotkan Papi Ali dan Papi Lana lagi..'' lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Tes.


Tes.


Tes.


Cup.


Cup.


''Abang sayang sama Papi. Abang nggak mau kecewakan Papi. Ayo, kita pergi ke bukit ujung. Sakit ini tidak seberapa dibandingkan rasa rindu Papi sama Mami. Abang tau itu. Ayo Papi Lana, kita ke bukit ujung!'' pintanya pada Lana dengan wajah yang begitu semringah.


Ia menggapai tangan Lana untuk menggendong nya. Lana terkekeh. ''Baiklah jagoan Papi.. kamu pingin ketemu adik kembar nggak??''

__ADS_1


''Heh? Kembar?? Adek Abang kembar kah??'' tanya gading begitu penasaran dengan mata bulat bening milik Gading.


Lana terkekeh, Ali mengusap wajahnya dan tersenyum. ''Ya, adik Abang yang baru lahir dari Mami Maura itu kembar sayang. Pasti sudah lahir.'' Sahut Lana masih dengan senyum tidak lepas dari wajahnya.


Ali pun ikut tersenyum. Kini mereka sudah berada di dalam Jeep jendral Wawan. Untuk menuju ke bukit ujung, butuh waktu sekitar setengah jam perjalanan menggunakan Jeep.


''Laki-laki atau perempuan Pi??''


''Kayaknya sepasang deh,'' terka Lana.


Ali terkekeh. ''Benar. Pasti adik kamu laki-laki dan perempuan! Kita lihat saja nanti!'' timpal Ali dan itu membuat Gading semakin ingin bertemu dengan kedua adik kembarnya itu.


Ia begitu ingat bagiamana Lana muntah-muntah hingga masuk kerumah sakit saat bertugas enam bulan yang lalu.


Lana terkekeh, ''Kalau kamu benar, Abang yang akan biaya pengobatan Ali nanti saat kita pulang ke Medan delapan bulan lagi. Sudah hampir satu tahun kita disini. Dan ada waktu cuti untuk sebulan kita pulang kampung. Ini memang sudah menjadi perjanjian antara Abang dan jendral Sudirman dulu,'' jelas Lana pada Ali.


Ali mengangguk, ''Kalau begitu, adek udah tamat dong ya? Sedang sekarang aja udah kelas tiga semester satu. Berati ketika kita pulang delapan bulan lagi adek udah selesai dong sekolah nya?''


''Ya, benar! Manfaatkan waktu kamu sebaik mungkin. Karena hanya waktu sebulan itulah kita berkumpul dengan keluarga. Bagaimana dengan Abi Husen? Apakah beliau tidak meminta mu untuk pulang ke Bandung??''


Ali Terkekeh lagi. ''Abi sih enggak Bang. Tapi ummi. Beliau sangat ingin Nara kesana. Pulang nanti, aku disuruh mudik ke Bandung. Tapi itu tidak mungkin. Aku harus mengurus Gading dulu. Penyembuhan ini begitu penting untuknya. Untuk masa depan nya. Hah. Semoga adek mau terima Gading ya Bang??''


Lana tersenyum sambil mengusap surai hitam kekuningan milik Gading. ''Tentu. Abang yakin, kalau adek pasti menerima Gading. Karena yang Abang tau, kalau adek sangat menyukai anak kecil seperti Gading ini.''

__ADS_1


''Ya, semoga saja.'' Sahut Ali sambil menerawang jauh dimana Nara berada saat ini.


__ADS_2