Penantian Kinara

Penantian Kinara
Firasat untuk Malda


__ADS_3

"Abang,"


"Hem, jangan bicarakan itu dulu, Dek. Abang juga sednag khawatir sat ini. Lebih baik kita berbaur saja. Daripada memikirkan hal yang belum terjadi tetapi akan tetap terjadi." Jawab lana membuat Kinara menghela nafasnya.


Ali yang melihat kegelisahan di kedua saudara itu mendekatinya. "Ada apa?" tanya langsung to the poin


Kinara menghela nafas berat berulang kali. Lana menatap sendu pada Ali. "Entah kenapa.. Abang merasa gelisah akan kepergian Malda keesokan harinya. Entah pa yang akan terjadi, Abang tidak tau. Tetapi hati ini semakin gelisah saja."


"Begitu pun dengan adek, Bang. Entah kenapa perasaan yang sama saat Abang pergi dulu saat ini kembali lagi. Bahkan lebih lagi. Ada rasa akan kehilangan gitu tetapi entah apa. Masih awang-awang sih tetapi. Entahalh. Susah untuk dijabarkan dengan kata-kata.." lirih Kinara semakin gusar saja.


Ia semakin memeluk erat lengan lana. Tangannay bergetar yang entah karena apa. Ali hanya bisa menghela nafasnya.


"Ingat Bang, sayang. Takdir itu ada di tangan Allah. Kita tidak tau apa dan kenapa dan dimana. Yang jelas jika memang sudah sampai waktunya kita tidak bisa mengelak lagi. Sama seperti yang Abang alami dulu. Kita tidak bisa menghindar jika itu memnag sudah menjadi ketetpannya. Bersabar dan ikhlaskan yang akan terjadi. Banyak berzikir biar hati itu tenang. Ya?" imbuhnya pada Lana dan dan Kinara bersamaan.

__ADS_1


Kinara mengangguk setuju begitu pun dengan Lana. "Ya sudah, adek kwesana dulu ya? Mau bantu-bantu yang lainnya."


"Ya," sahut dua pemuda yang berbeda sedikit umurnya itu.


Kinara segera menemui Mami alisa dan Annisa yang saat ini sednag beberes. Kini tinggallah mereka berdua.


"Bang!"


Ali bingung gimana caranya mau bertanya kepada Lana tentang itu. Ia jadi bingung sendiri jadinya.


Padahal inilah yang ingin ia tanyakan kepada Abang iparnya ini. lana menoleh karena tidak lagi mendengar suara Ali.


"kenapa? Apa yang ingin kamu tanyakan? Apakah ini tentang itu?" tanya lana pada Ali yang tepat sasaran.

__ADS_1


Ali mengangguk tetapi merasa malu pada lana. Lana terkekeh, "Abang belum menyentuhnya. Abang pun sebenarnya ingin bertanay padamu. Apakah kamu sudah?"


Ali menggeleng. "giaman mau disentuh, lah wong tidurnya aja barenagn bersama yang lain? Bari dipancing aja, adek udah ngamuk sama aku. Padahal ciuma menggodanya saja!" keluh Ali pada lana yang kini terkekeh-kekeh karena mendengar cerita Ali


"Abang pun sama Li. Jangan kan untuk menyentuh seperti kamu tidur bersama, Abang yang ada di geser kr tepi sama lima wanita dirumah itu. Jadilah Abang tidurnya berdua sama Malik dikamar lain." jelas Lana pula


Ali tertawa. "Ternyta kita senaseb Bnag> Giamna kalau nanti malam saja kita menyentuh mereka? Besok kan kita harus ke Malaysia untuk mengantar Malda? dan entah kapan kita akan kemabli nantinya. Paling tidak, dibuang dulu ini lahar panas yang selalu membuat tubuh kita cenat cenut!"


Kini gantian Lana pula yang tertawa. "Oke. Nanti malam kita sama-sama beraksi. Sebelum melakukan itu, sebaiknya kita saling kontek-kontek dulu agar salah satu dari kita tidak ada yang kecewa nantinya!"


Buahahaha..


Kedua saudara ipar beda sedikit usia itu tertawa-tertawa mengingat tujuan mereka nnati malam. Entah dapat atau tidak, yang penting saling mengabarkan.

__ADS_1


__ADS_2