
"Hah?" Lana menganga mendengar ucapan Zia.
Lana tertawa tetapi air mata bercucuran. Tak lama setelahnya, mata itu terpejam dan..
Brruuukk..
"Astaghfirullah ya Allah.. Papi.. Mami..." pekik Zia begitu terkejut melihat sang papi jatuh di samping pintu dengan air mata terus bercucuran.
Zia jadi panik sendiri. Suara lengkingan Zia itu membuat kedua saudara kembarnya yang berada di kamar itu terbangun seketika.
Mereka berdua terkejut saat melihat kedua orang tuanya jatuh terkapar di lantai dengan air mata bercucuran.
Sedangakn Malik yang terkejut langsung ngacir keluar menuju ke kamar saudara nya yang berada tepat di sebelah kamarnya.
"Huaaaaaa.. Aaaaa... Abang... Bantuiiiinnn!! Haaaaaa...." pekik Zia semakin kuat.
Malik terkejut bukan main saat melihat kedua orang tuanya yang kini pingsan yang entah karena apa.
"Ini kenapa Zi? Mami sama papi kenapa jadi pingsan barengan begini sih? Adek lagi? Kenapa nangis?" tanya Malik pada Zia yang kini terus tersedu.
Zia tidak menjawab. Malik jadi panik sendiri. Ia melihat jam sudah pukul dua pagi. "Mami! Mami Kinara!" serunya dengn segera bangkit dan menuju kerumah Kinara yang sudah terang berderang.
__ADS_1
Malik berlari dengan kencang dan melompati pagar pembatas itu tanpa memikirkan keselamatannya.
Tiba di depan pintu rumah Kinara, Malik menggedor pintu rmah itu dengan kuat disertai saura yang memekik kuat memanggil Kinara dan Ali bersamaan.
Dor, dor, dor!
"Mami Kinara!! Papi Ali!!! Buka pintunya!!! Buka!!!!"
Dor, dor, dor!
"Mami!!! Papi!!!! Buka pintunya!!! Cepetan!!" pekiknya lagi semakin kuat menggedor pintu rumah Kinara.
Ceklek!
"Mami!! Papi Abang pingsan!!"
Deg!
Deg!
"Apa? Pingsan? Kenapa??" balas Kinara tidak kalah panik dari Malik.
__ADS_1
Keduanya pun segera berlari menuju kerumah Lana melewati pagar pembartas tanpa melompatinya lagi seperti tadi.
Kinara berlari dengan menyingsingkan gamisnya. Ali yang melihatnya sampai melongo. Untunglah Kinara memakai ****** ***** berwarna hitam panjang.
Ali terkekeh tetapi tetap mengikuti langkah Kinara yang tergesa menuju ke kamar Abang iparnya.
Tiba disana, Kinara dan Ali mematung melihat Lana dan Maura yang terkapar dilantai dengan keadaan begitu menyedihkan.
Kinara mendekatinya dan duduk bersimpuh dihadapan Lana. "Ini kenapa Nak? Kenapa jadi kompakan begini? Ada apa??" tanya Kinara pada Malik yang ditaggapi dengan gelengan oleh Malik.
Sedang Zia jangan ditanya. Mata itu sudah sangat bengkak saat ini.
"Kakak? Ini kenapa sih? Nggak ada yang mau jawab kah? Gimana mau Mami ngobatin kalau Mami nggak tau kenapa?" gerutu Kinara pada Zia yang kini masih sesegukan.
"Maaf Mi.. Hiks.. Kakak salah. Kakak tidak bisa menahan kepergain kak Malda seorang diri untuk berangkat ke Malaysia. Maafkn Kakak, Mi.. Maaf.." isak Zia di pelukan Kinara.
Kinara mematung. Begitu pun dengan Ali. Mereka berdua menatap nanar pada Lana dan Maura yang terkapat tetapi air mata terus beruraian.
"Maksud kamu, Malda pergi seorang diri tanpa memberitahukan kepada papi kalian tetapi kamu tau begitu??" tanya Kinara masioh dengan menatap kedua saudaranya
Zia mengangguk, "Ya Allah.. Kenapa kamu biarakn Nak? Mami dan Papi baru ingin mengantarnya. Kenapa kamu biarkan.." lirih Kinara yang akhirnya menangis juga.
__ADS_1