
Acara aqiqahan itu berlangsung dengan baik. Sedari pagi dan malam rumah kediaman Maura dan Lana tidak berhenti dari kedatangan tamu.
Acara itu berakhir ketika pukul sepuluh malam saat para tamu sudah tidak datang lagi untuk mendoakan bayi Lana dan Maura. Saat ini kedua bayi kembar itu sudah terlelap di ranjang Maura dan Lana.
Nara ikut menemaninya disana. Wajah cantik itu begitu terlihat lelah. Maura tersenyum melihat Nara kelelehan hingga tidur pulas disamping kedua bayinya.
''Sabar Dek.. Suami kamu dan Abang mu pasti akan pulang. Kita harus sabar. Kakak pun begitu merindukan bang Lana sama seperti mu yang begitu merindukan Ali.. semoga kita kuat dek.. sampai saat itu tiba, kita harus tetap kuat. Kakak yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini,'' lirih Maura disamping kedua bayinya yang tertidur pulas.
Mata itu tidak putus dari menatap Nara. Adik kecilnya itu begitu merindukan Ali. Maura tau, jika setiap malamnya Nara selalu menangis saat sholat malam.
Maura pun sama. Tapi apa yang harus mereka lakukan jika memang seperti itu jalannya. Saat ini mereka hanya bisa menunggu kepulangan Lana dan Ali dari bertugas. Walau hanya lima puluh hari. Itu sudah cukup untuk mengobati luka hatinya.
*
*
*
Di sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta, seorang bocah laki-laki berusia enam tahun sedang menjalani pengobatan saluran kantung kemih yang terluka.
Sudah tiga bulan sejak ia dibawa dari Papua ke Jakarta oleh sahabat sang Papi.
__ADS_1
Gading.
Putra angkat Ali itu sedang ditangani oleh dokter khusus yang menanganinya saat ini.
''Papi...'' lirih Gading dengan mata sembab.
Tiada hari tanpa memanggil sang Papi yang begitu ia rindukan. ''Mami... Abang.. hiks.. abang mau ke Medan.. hiks.. Abang nggak mau disini. Nggak enak.. hiks.. Papi.. jemput Abang. Abang mau pulang...'' lirihnya begitu pilu.
Mata itu tidak berhenti dari menatap sebuah ponsel yang sedang menyala dengan layar wallpaper di ponsel itu merupakan foto Maura dan Nara yang sedang menggendong bayi kembar Lana.
Ya, setelah kesepakatan jikalau Ali harus mengobati Gading melalui sahabatnya yang bekerja di rumah sakit Jakarta, kini Gading benar-benar dirawat disana.
Ia dibawa oleh dokter Renaldi sahabat dekat Ali saat mereka sekolah SMA dulu. Beruntung nya Ali, Renaldi bersedia datang ke Papua untuk menjemput putra nya itu.
Berkat usaha gigihnya Ali yang meyakinkan putra angkat nya itu, akhirnya Gading mau ikut. Dengan syarat, ia butuh satu buah ponsel dan foto kebersamaan Maminya di Medan untuk menjadi temannya di Jakarta saat berobat.
Dan disinilah ia berada. Duduk termenung dengan memakai baju pasien dan satu buah ponsel ada di tangan nya.
Ia menatap ponsel itu terus menerus. Hingga senyumnya terbit saat melihat panggilan video masuk dari sang Mami. Yaitu Nara.
''Assalamu'alaikum sayangnya Mami...'' sapa Nara dari sebalik ponsel nya.
__ADS_1
Gading menangis, Nara tertawa. Selalu seperti ini tiap kali ia menghubungi Gading. Ya, Nara sudah mendapat kabar dari sang suami jika Gading sudah berangkat ke Jakarta tepat dihari aqiqahan Malik dan Zia.
''Hiks.. hiks.. Mami.. Abang mau pulang...'' pintanya begitu sedih.
Nara tersenyum, ''Abang udah makan belum?''
Gading menggeleng, ''Hiks.. belum! Nungguin Mami hiks. Srrrooottt...''
Nara tertawa terbahak melihat kelakuan Gading. ''Iyuuuhh.. Abang jorok ih! Pakai tisu nggak tuh??''
Gading mengangguk, walau masih sesekali sesegukan. ''Makan sayang. Kalau Abang kuat makan, Abang cepat sembuh. Bersabar lah. Liburan sekolah ini Mami dan Opa akan menjenguk mu, hem? Kita akan bertemu di sana. Dan kamu akan Mami bawa pulang kerumah Mami dan Papi. Untuk itu, kamu harus sembuh dulu. Ya Sayang??''
Gading mengangguk walau dengan menunduk. ''Sayang...'' panggil Nara dengan suara lembut nya.
Gading terisak. Nara tersenyum lagi. ''Bersabarlah. Mami dan Papi tidak pernah membuang mu sayang.. Mami sangat menyayangi Gading. Jangan merasa jika kami berdua mengabaikan mu. Kami berdua sangat menyayangi mu. Kamu putra kami, Nak. Kamu kebanggaan kami. Jangan sedih.. Bersabar lah. Kami akan datang untuk menjemput mu. Tiga bulan lagi. Bersabarlah. Tunggu Mami datang untuk menyusul mu, hem?''
Gading mengangguk, ''Baik Mami. Hiks.. Abang akan makan, tapi Mami temenin ya? Jangan matiin dulu ponselnya!'' ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Nara tertawa. Begitu juga dokter Renaldi. ''Kamu tidak salah memilih istri Bro! Walau ia masih kecil bahkan belum tamat SMA tapi dirinya begitu terlihat dewasa dan begitu pantas bersanding dengan mu. Hah. Sungguh beruntung hidupmu Bro! Semoga aku pun akan menyusul mu nanti. Sudah sekian lama aku kehilangan cinta dimana cintaku pergi berpulang ke pada Allah untuk selama-lamanya disaat ia melahirkan putra kami. Semoga kamu berbahagia Bro..'' lirih dokter Renaldi sahabat Ali.
Ia tersenyum saat melihat Gading makan dengan lahapnya di temani seorang suster. Sesekali Gading tertawa saat melihat Nara yang terbatuk-batuk karena ucapan putra kecilnya itu.
__ADS_1
Gading tertawa bahagia saat melihat wajah sang Mami kesal kepada nya. Namun, itulah yang menjadi keinginan Ali dulu saat Gading dibawa ke Jakarta untuk menjalani pengobatan pada tubuhnya.
Terutama pada bagian saluran kemih dan penghasil bibit mas depan Gading. Sungguh malang nasibnya putra angkat Nara dan Ali ini.