
Othor ingatkan lagi. Bagi yang udah baca bab ini, boleh dilanjutin bab selanjutnya. Tapi like jangan lupa ye?
Happy reading...
*****
Lana masih terdiam setelah mengalami mimpi yang tidak menyenangkan baru saja ia alami. Ia menatap kepada tiga orang yang sedang terkekeh bersama.
Ia menatap Mak Alisa dan Papi Gilang bergantian. Sadar jika kedua orang itu terus ditatap sedari ia bangun tadi seperti orang terkejut, Papi Gilang mendekati dan bertanya padanya.
''Kamu kenapa Bang? Apa yang kamu rasakan? Masih mual kah? Atau.. ada sesuatu yang terjadi di dalam tidurmu??''
Deg!
Lana terkejut dengan pertanyaan sang Papi. ''Bagaimana Papi tau jika Abang bermimpi buruk ??'' selidik Lana. Ia menatap Papi Gilang dengan lekat.
Papi Gilang terkekeh. ''Papi nggak bilang kamu mimpi buruk ya? Tapi kamu sendiri yang mengatakan nya! Dan ya. Kamu memang benar. Papi tau. Tau segalanya!'' jawabnya dengan wajah yang begitu serius menatap Lana.
Lana semakin terkejut dengan ucapan Papi Gilang. ''Apa yang Papi tau dari mimpi Abang?'' selidik Lana lagi.
Ia masih belum percaya jika Papi Gilang tau tentang mimpinya. Papi Gilang yang tadinya serius menatap Lana kini berubah menjadi terkekeh.
''Kamu kenapa? Kok yang kayak Papi ini tersangka aja kamu tatap kayak gitu! Apa sih memang nya yang menjadi mimpi kamu? Hingga kamu begitu serius menatap Papi, Mak dan adik ipar mu! Kenapa, hem?'' tanya Papi Gilang pada Lana.
Ia menatap Lana dengan sorot mata yang begitu serius. Lana pun demikian. Mereka saling bertukar informasi melalui tatapan mata.
__ADS_1
Papi Gilang menghela nafasnya. ''Terkadang sebuah mimpi itu merupakan tabir rahasia yang tidak bisa kita pecahkan. Sebenarnya Allah sengaja mengirimkan mimpi itu kepada kita sebagai petunjuk untuk masa depan ataupun yang ada sekarang. Kita tidak bisa menebak rahasia itu seperti apa. Karena apa yang kita pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan yang akan kita dapat nantinya. Kamu ingat dulu tentang mimpi kamu yang bertemu Papi di dalam mimpi??''
Lana mengangguk, sedangkan Mak Alisa dan Ali menatap mereka dengan tatapan seriusnya. Mereka mendengar kan dengan seksama apa yang akan Papi Gilang dan Lana katakan selanjutnya.
''Ya, Abang masih ingat. Saat itu Abang bermimpi bertemu Papi disebuah taman. Abang mendatangi tempat itu untuk mencari Papi. Tapi Abang tidak menemukan Papi disana. Yang Abang temukan saat itu adalah seorang pemuda memakai celana jeans berwarna biru laut, kaos oblong putih dan memakai jaket denim berwarna hijau tua sedang menatap lurus ke depan.'' Papi Gilang tersenyum.
Ia masih ingat dengan mimpi ini. Mimpi yang menghubungkan dirinya dengan masa depannya sekarang.
''Abang melihat seorang pemuda menatap lurus ke depan. Tak sengaja saat itu kaki ini memijak ranting kecil hingga patah. Membuat Papi berbalik dan melihat Abang. Abang tertegun saat itu. Abang tersenyum saat menyadari jika itu adalah Papi. Papi Abang!'' cerita Lana. Mata itu berkaca-kaca melihat Papi Gilang.
Papi Gilang mengangguk. ''Abang memeluk Papi dan memanggil Papi dengan panggil an Papi. Hiks, tapi Papi menolak. Hiks, Abang kecewa! Abang lari hingga masuk ke dalam kabut putih begitu tebal. Abang bilang pada Papi, Abang pasti akan menemukan Papi! Papi lah yang akan menjadi ayah sambung untuk Abang! Hiks, Papiiiiii...''
Grep!
''Sudah Tau jawaban dari mimpi itu??'' tanya Papi Gilang pada Lana.
Lana mengangguk, ia semakin erat memeluk tubuh tegap Papi Gilang. Tubuh yang sedari ia berumur delapan tahun selalu membawanya bermain dan seseorang yang begitu menyayangi nya.
Bahkan ketika maut menjemput mereka berdua, mereka tidak bisa terpisahkan saat itu. Mak Alisa tersedu. Dengan segera Ali memeluk tubuh wanita paruh baya yang telah melahirkan istrinya itu.
Sedikit tidaknya Ali sudah mendengar cerita ini dari Lana ketika mereka pertama kali bersahabat sekaligus menjadi rekan. Ali pun menitikkan air mata nya saat Lana bercerita perjuangan hidup mereka sebelum akhir nya bertemu dengan Papi Gilang.
''Hiks.. hiks.. Abang sayang Papi! Sangat sayang!'' kata Lana masih dalam pelukan Papi Gilang. Lana tersedu. Papi Gilang pun ikut tersedu.
Papi Gilang pun memeluk erat tubuhnya. ''Papi pun sangat menyayangi mu, nak! sangat menyayangi mu! Dari dulu hingga sekarang!'' balasnya tak kalah erat memeluk tubuh tegap Lana.
__ADS_1
''Sudah, sekarang sudah paham kan apa arti dari mimpi yang pernah kamu alami dulu??''
Lana mengangguk dengan wajah sembab dan basah air mata. ''Ya,'' sahutnya.
''Inilah jawaban dari mimpi kamu dan mimpi Papi dulu. Mimpi yang ternyata berhubungan dengan masa depanmu dan masa depan Papi. Begitu juga mimpi yang baru saja kamu alami. Papi tidak akan bertanya. Tapi Papi cukup menjelaskan saja. Terkadang mimpi itu adalah petunjuk masa depan untuk kita. Sebuah tabir rahasia yang tidak bisa kita tebak seperti apa jalan dan peristiwa nya. Tapi tetap terhubung dengan masa depan kita.''
''Apapun mimpi kamu itu, jangan jadikan beban. Tapi jadikan ladang pahala untukmu. Apapun petunjuknya, kamu pasti bisa menemukan nya. Jadikan mimpi itu untuk penyemangat hidupmu. Buat dirimu menjadi kuat agar ketika suatu saat nanti kamu mendapati kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan selama ini, kamu bisa lebih berlapang dada dan ikhlas menerima jawaban dari mimpi yang baru saja kamu dapat kan. Paham??'' ujar Papi Gilang semakin erat memeluk tubuh tegap Lana.
Lana mengangguk dan tersenyum, ''Paham, Pi!'' jawab Lana sama persis ketika ia kecil dulu.
Mak Alisa dan Ali Terkekeh-kekeh melihat ayah dan anak sambung yang begitu akur itu. Ya, mimpi itu merupakan tabir rahasia yang tidak pernah kita tau jawabannya seperti apa. Tapi tujuan dari mimpi itu tetap satu. Yaitu MASA DEPAN!
Kita tidak pernah tau seperti apa saja depan kita. Tidak ada yang buruk, semuanya baik. Jika seseorang mengalami hal buruk di masa depannya, berarti itu adalah ujian di dalam hidupnya. Ujian untuk meningkatkan kualitas Keimanan nya.
Banyak ujian dan berbagai macam bentuknya. Salah satunya berpisah disaat lagi sayang-sayang nya. Ada juga yang berpisah karena orang ketiga. Berbagai macam bentuk ujian di dalam rumah tangga.
Ali tertegun ketika mendengar serentetan ucapan Papi Gilang yang begitu mengena di hati dan pikirannya. Mak Alisa mengelus lengan Ali yang sedang melamun itu.
''Eh, iya Mak?''
Mami Alisa tersenyum walau dengan raut sendu. ''Apapun yang terjadi di dalam kehidupan mu, yakinlah. Bahwa Allah itu punya maksud baik padamu. Kamu harus lebih banyak bersabar dan mendekat kan diri pada Nya lebih banyak. Minta pada Nya agar kamu bisa diberikan kesabaran dan ketabahan yang kuat di dalam hatimu, karena setiap manusia itu berbeda-beda ketingkatan nya saat diberikan ujian di dalam hidup. Jika itu terjadi di dalam rumah tangga mu, maka ingatlah ini. Laa yukallifullahu nafsaan Illa'alal wus'aha.. Allah tidak akan menguji manusia diatas kesanggupan nya.''
💕💕💕💕
Like dan komen ye? Kembang nya juga. Banyak menabur sedekah makin banyak othor update bab nya! 😁😁
__ADS_1