
''Mak bilang, adek Nara yang paling bungsu. Jadi ia harus ada yang jaga. Sebelum ia menikah, tugas itu Abang kah yang memegang nya. Selagi calon Nara belum ada, Abang bertanggung jawab terhadap hidupnya. Maka dari itu, Abang menunda lagi pernikahan Abang bersama Maura. Dan kejadian dua tahun lalu itu merupakan salah satu takdir Abang dengan Maura yang terhubung langsung dengan mu, Ali."
Ali dan Nara tertegun. Begitu juga dengan Maura. Ternyata pernikahan mu itu memang sudah di tentukan oleh takdir. Semua ini. terhubung dengan takdir Nara. Yaitu Ali.
Mereka semua terdiam setelah Lana mengatakan hal itu. Lana melanjutkan lagi ucapannya. ''Makanya dua tahun yang lalu, saat Abang pertama kali bertemu denganmu, Abang sudah menyukaimu. Sifatnya yang seperti Nara membuat Abang bisa menebak jika kamu adalah calon Nara. Tidak mungkin kan sebuah kebetulan belaka Kita di pertemukan disana?''
Ali diam, ia masih memikirkan hal yang dulu pernah ditahan oleh Abi nya tapi ia begitu bersikeras tetap akan ikut ke Kalimantan. ''Ya.. Abang benar. Sebenarnya waktu itu Abi melarang. Tapi aku tetap memaksakan kehendak agar tetap ikut. Nggak tau aja, aku seperti terpanggil untuk ikut kesana. Padahal kalau di pikir-pikir, masih banyak tentara lain yang sama sepertiku. Tapi entah mengapa makan namaku yang dipanggil diantara sekian banyak perwira lainnya.''
''Terrnyata.. semua ini karena takdirku disini. Takdir ku untuk bertemu pendamping hidupku ada bersama Abang di Kalimantan. Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku tau arti dari mimpi yang selama sepuluh tahun ini selalu hadir di dalam tidurku. Terimakasih Bang, Abang sudah membawaku kepada takdirku.'' Kata Ali pada Lana.
Lana tersenyum, ''Semua ini sudah diggariskan Ali. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti jalan yang sufah di sediakan untuk kita. Abang percaya, kamu bisa menjaga Nara. Abang yakin itu.''
Ali tersenyum, ''Terimakasih Benang Lana. Abang yang terbaik!'' Kata Ali sambil menunjukkan dua jempolnya pada Lana. Mauarra dan Nara pun ikut tersenyum.
Tidak terasa sudah empat puluh lima menit mereka di jalan. Dan saat ini mereka sudah tiba di rumah sakit milik Lana. Turun dari mobil Nara semakin pusing. Dengan sigap Ali mengendong nya ala bridal style di ikuti Lana dan Maura di belakang nya.
Mami Alisa berlari ketika melihat Nara di gendong Ali seperti itu. ''Bawa masuk kesini, nak.. Ya Allah.. panas sekali tubuhnya..'' lirih Mami Alisa saat merasakan suhu tubuh Nara kembali menghangat.
''Tadi udah lumayan Mak, tapi ya namanya cuma sebentar obat pun nggak ada. Jadi ya.. kambuh lagi,'' kata Ali pada Mami Alisa.
''Tak apa. Adek sering begini jika Abang sakit. Keduanya sama-sama sakit saat salah satu dari mereka merasakan sakit. Panggilkan dokter segera. Kayaknya adek harus dirawat disini.''
Ali mengangguk patuh, ia ingin keluar untuk memanggil dokter tapi belum lagi ia memegang handel pintu, pintu ruang rawat inap Algi sudah terbuka dari luar.
Ada Lana dan Maura di belakang Dokter Bryan. ''Loh, masih sama juga ya? Jika satu yang sakit maka dua-duanya ikut sakit. Baiklah saya periksa dulu ya Mak?'' katanya pada Mami Alisa.
Mami Alisa mengangguk setuju. Ali berdiri disampingnya kiri Nara. Mata Nara terpejam erat, tapi tangan memijit pelipis.
Ali yang melihat itu, dengan segera menggantikan tangan Nara untuk memijat lembut kepala Nara. Mami Alisa tersenyum tipis. Begitu juga dengan Lana dan Maura.
Mereka tidak salah menerima Ali sebagai anggota keluarga mereka. ''Papi mana Mak??'' tanya Lana
__ADS_1
''Ada apa cari Papi?? Kangen kah??'' ucap Papi Gilang dengan wajah sok polosnya.
Mami Alisa tertawa begitu juga dokter Bryan dan juga Ali. Tapi tidak dengan Lana, pemuda tampan yang masih perjaka itu memutar bola mata malas.
Ia berdecak sebal. ''Abang bukan kangen sama Papi! Tapi lagi cari teman berkelahi! Puas?!'' ketus Lana begitu sewot.
Maura tertawa, sadar jika tertawa nya itu akan mengganggu Algi ia menutup mulutnya dan cekikikan disana. ''Diam kamu sayang! Mana rendang jengkol Abang? Abang lapar!'' katanya pada Maura masih dengan nada suara sewot.
Papi Gilang Terkekeh. Ia pun ikut duduk di sofa bersebelahan dengan Lana. Maura duduk lesehan di lantai.
Ia juga membawa Ambal tadi dari rumah untuk di gelar dilantai. ''Ayo, kita makan! Kakak bawa banyak nih makanan nya. Ali, Bry! kamu juga. Ayo sini duduk. Nanti kami gantian untuk makan bersama Mak dan Nara.'' imbuh Maura pada para lelaki diruangan itu terkecuali Algi yang masih istirahat.
Semua lelaki yang ada disana mengangguk setuju. Maura mengambil kan satu persatu untuk mereka semua. Setelah selesai, ia duduk bersama Mami Alisa di tepi bangkar Algi dan Nara yang sedang terpejam karena pengaruh obat.
Mereka makan sambil berbisik-bisik ria. Sesekali cekikikan dan sesekali juga terkekeh-kekeh. Siapa lagi pelakunya jika bukan Papi Gilang dan Lana.
''Kamu udah buka gembok belum?'' bisik Papi Gilang begitu lirih di telinga Lana tapi masih terdengar di telinga ketiga orang itu.
''Hihihi...'' Ali cekikikan sambil makan.
Bryan menatap Lana. Ia masih bingung dengan percakapan ketiga orang itu. Tak ingin menyela, ia pun ikut makan dalam diam sambil mendengarkan apa kata Lana selanjutnya.
''Hihihi.. jadi belum bisa dong?'' kata Papi Gilang lagi masih dengan berbisik
Ali cekikikan. ''Ya belumlah Papi.. ini masih tulen! Perjaka tinting! Gimana mau nyoblos, wong ladangnya kebanjiran gara-gara si palang merah menyembur tiba-tiba datang lagi enak-enak nya!'' bisik Lana lagi pada Papi Gilang.
Papi Gilang tertawa. Mami Alisa dan Maura menoleh pada mereka. Keempat orang itu terkekeh-kekeh melihat wajah penasaran Mami Alisa dan Maura.
Lana berbisik lagi. ''Cocok banget ini mah Papi. Jika adek kena si jago merah, sedang Abang kena si palang merah! Hadeeeuuhh.. meriah euuyy.. harus nahan puasa lagi sampai sepuluh hari! Bisa-bisa pusaka ku ini berkarat seperti kata Ali karena terlalu lama tidak di asah!''
''Hahaha...'' ke tiga orang itu tertawa terbahak hingga membuat Algi dan Nara terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Mak Alisa berdecak sebal. ''Apa sih yang kamu ketawain?! Ini anaknya lagi sakit loh.. mau ketawa? Sana! keluar!'' tegas Mak Alisa dengan wajah kesalnya.
Keempat pria itu langsung kicep. Tidak Berani tertawa lagi. Tetapi masih cekikikan. ''Hihihi... palang merah vs si jago merah euuy!!'' kelakar Ali.
Yang semakin membuat pemuda itu terkikik geli. ''Hihihi.. yang lebih kasian si Ali! Harus puasa selama dua tahun lagi! Bisa-bisa kayu lautnya tidak berfungsi lagi nanti!'' kelakar Lana.
Ali melototkan matanya. ''Mana ada kayak gitu Abang! Nggak mungkin dong, gara-gara puasa selama dua tahun bisa jadi lunglai kayak jeli?? Yang ada tuh ya! Semakin besar kayak pisang Raja!'' ketus Ali begitu kesal dengan ucapan Lana.
Papi Gilang, Lana dan dokter Bry terkikik-kikik geli. Sementara Ali semakin kesal dengan tingkah ketiga orang itu. Bryan baru sadar tentang cerita mereka ini. Ternyata tentang jebol menjebol. Jebol tanggul surga eeuuuyyy...
🤣🤣🤣🤣🤣
Ada yang penasaran sama cerita Papi Gilang dan Bambang Lana? Cus kepoin!
Pelabuhan Terakhir ku ( Papi Gilang dan Mami Alisa )
Muara cinta Maulana akhir bulan akan end.
Ceritanya tak kalah seru loh sama cerita Nara. Mampir dan tinggalin jejak cinta untuk othor ye?
__ADS_1