Penantian Kinara

Penantian Kinara
Belanja ke pasar


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah kejadian dimana Kinara kesal pada Lana dan Maura. Seminggu itu juga Kinara tidak pernah bertemu dengan pasangan itu.


Sering kali Kinara membawa tiga bocah rusuh itu ke rumahnya. Di temani Ali, Kinara mengurus ketiga bocah rusuh keturunan Lana itu.


Sejak seminggu itu Lana dan Maura benar-benar ankrem! Seperti kata Kinara pada Ali seminggu yang lalu. Dan hari ini, Kinara tidak bisa membantu Mbak Sus Tia untuk mengurus ketiga anak Abang nya itu.


Hari ini Kinara dan Ali akan berbelanja ke pasar. Karena semua kebutuhan rumah mereka sudah habis. Selama ini Kinara selalu di temani Algi saat belanja ke pasar.


Tapi hari ini, ada sang suami tampannya yang akan menemani Kinara untuk berbelanja. ''Ayo Bang? Kalau kelamaan pasarnya semakin ramai dan padat nanti saat kita di jalan?'' ucap Kinara pada Ali yang saat ini sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


Ali tersenyum, ''Iya sayangku.. Abang ganti celana dulu. Nggak mungkin dong, Abang ke pasar dengan celana pendek selutut gini? Bisa pingsan tuh orang yang lihat Abang!'' seloroh Ali sembati bangkit dan menuju kamar nya di ikuti Kinara di belakang nya yang sedang tertawa karena ucapan Ali.


''Mana ada pingsan! Abang ada-ada saja!''


Ali terkekeh, ''Canda sayang.. ayo! Abang udah siap! Udah bawa uang nya kan ya?''


Kinara mengangguk, ''Sudah! Nih, tebal banget adek bawanya! Kemarin, sempat narik dulu di ATM seperti kata Abang dulu. Adek hanya ambil secukupnya untuk kebutuhan. Selebihnya masih di ATM. Ayo! Adek udah nggak sabar ke pasar bersama Abang naik motor lagi! Hihihi.. seru euuyy!!''


Ali tertawa. Ia mengecup pipi Kinara karena gemas kepada istri kecilnya itu. Mereka berdua berjalan bersama keluar dari rumah. Ali mengeluarkan motor, sedang Kinara mengunci rumah.


Tiba diluar pagar, Maksa menjerit memanggil namanya. ''Onti Nara! Kakak boleh ikut nggak??'' pekik Malda dari sebalik pintu pagar rumahnya.

__ADS_1


Kinara dan Ali saling pandang. ''Gimana Bang??'' tanya Kinara pada Ali.


Ali menoleh pada Malda yang kini berwajah sendu takut jika tidak dibawa oleh kedua Onti dan pamannya itu. Ali tersenyum, ''Kami bawa Malda ya Mbak? Si kembar mana?''


''Si kembar lagi sama Bapak dan ibu, Kakak katanya ingin ikut Onti dan Om nya maka dari itu keluar dari rumah. Itu pun kalau di izinkan?''


Ali tersenyum, ''Sayang?''


Kinara mengangguk, ''Ayo! Tapi kakak jangan menangis nanti ya kalau kakinya ke capek an? Onti bukan ke market loh..''


Si kecil Malda tersenyum kegirangan. ''Horeee!! Kakak boleh ikut nih?'' tanya nya dengan mata berbinar senang.


Kinara tertawa, ''Tentu. Ayo! Nanti kita kesiangan! Ayo Bang! Kakak dibelakang ya sama Onti??''


''Kami berangkat Mbak. Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..'' sahut mbak Sus dengan sedikit kekehan di bibirnya mengingat bagaimana tadi Malda merajuk karena tidak di izinkan keluar ikut Kinara belanja ke pasar.


Takutnya Malda menjadi perusuh bagi pengantin baru itu begitu pikir Lana dan Maura. Tapi apa yang terjadi? Putri kecilnya itu merajuk pada mereka berdua.


Ia tidak mau bicara sebelum di izinkan bertemu Kinara dan ikut bersamanya. Akhirnya Lana pasrah karena melihat wajah cemberut Malda.

__ADS_1


Mbak Sus masih saja terkekeh melihat punggung ketiga orang yang sudah menjauh itu.


Cukup lima belas menit menggunakan motor, kini mereka bertiga sudah tiba di pasar. Ali memarkirkan motornya dan masuk mengikuti Kinara yang sudah terlebih dahulu berjalan masuk bersama Kinara.


Kinara belanja sambil memegangi Mlada. Ia membelo banyak bahan dapur. Ada bawang merah dan putih, cabe merah dan hijau, tomat, timun, buncis, kacang polong, dan masih banyak lagi. Semua keperluan dapur Kinara beli. Tidak ada yang ketinggalan.


Mereka bertiga berkeliling mengelilingi pasar yang sering Mami Alisa singgahi untuk belanja bahan-bahan dapur bersama nya dulu.


Sibuk berbelanja tidak sadar waktu sudah siang. Mereka mampir dulu di ruang makan sebelah pasar untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.


Kinara dan Ali makan bersama sambil tertawa karena mendengar ucapan Malda untuk kedua orang tuanya.


Mereka tertawa-tawa bersama di rumah makan itu. Membuat sang pemilik pun ikut tertawa bersama mereka.


''Ayo kita pulang. Udah dhuhur. Nggak ada yang ketinggalan kan ya?'' tanya Ali pada Kinara


Ia rela membawa seluruh belanjaan nya dan Kinara menggendong Malda yang sudah mengantuk. ''Udah semua kok bang. Makanya banyak kayak gitu!'' jawab Kinara dengan sedikit kekehan di bibirnya Ali pun demikian.


''Kenapa kamu dan Mami lebih suka belanja di pasar dibanding kan dengan market sayang?''


''Karena yang Kami bilang dulu, jangan hanya menyenangi pemilik market yang memang sudah memiliki banyak uang. Tapi bagildh rejeki kita pada pedagang lain seperti di pasar ini. Mereka pun sama seperti market. Bahkan jika dibandingkan kerugiannya, malah pedagang pasar lebih banyak ruginya dibanding kan pemilik market. Kualitas barang-barang nya sama aja sih. Hanya beda tempatnya itu saja.''

__ADS_1


''Kalau market kan tempatnya bersih. Belum harganya itu lebih mahal dibandingkan dengan Pasar? Maka dari itu Mami lebih menyukai pasar dibandingkan dengan market.'' Jelas Kinara panjang lebar sambil menaiki motor yang sudah Ali nyalakan.


__ADS_2