
Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh lima menit. Seluruh keluarga sedang mandi dan bersiap ingin ke mushola terdekat.
Tama, Lana, Ragata, Ali, dan Papi Gilang sudah pergi terlebih dahulu ke mesjid karena di komplek perumahan Tama sedang ada pengajian rutin setiap harinya.
Kini tinggallah Mami Alisa, Annisa, Kinara, Kak Ira dan Maura. Sedari para lelaki pergi, Kinara tidak ingin berbicara sedikitpun pada mereka semua.
Annisa dan Kak Ira sedang masak di dapur dibantu Maura. Sedangkan Mami Alisa menemani semua cucunya yang begitu heboh saat ini.
Sedangkan Kinara duduk di meja makan di temani Gading sang putra kesayangannya. Gading tidak ingin ikut ke mesjid karena lebih ingin bersama Kinara yang saat ini sedang kecewa.
.''Mami?''
''Ya sayang?'' sahut Kinara melihat Gading. Bibir tipis kesukaan Ali itu tersenyum lembut padanya. ''Ada apa? Ada yang ingin Abang sampaikan sama Mami??'' tanya Nara pada Gading yang kini sedang menatapnya dengan tatapan sendunya.
Kinara mengelus pipi Gading. ''Katakan!''
''Mami jangan sedih.. ya? Ada Abang dan Papi disini. Kalau Mami kesepian? Kan ada Abang yang selalu menemani Mami?''
Kinara tersenyum, ''Mami nggak sedih kok. Untuk apa Mami sedih, sedang ada putra tampan kesayangan Mami ini sedang bersama Mami, hem??''
Gading menggeleng. ''Abang tau seperti apa Mami. Jangan berbohong apapun sama Abang, ya? Mami nggak usah takut, walau Uwak Lana tidak mau bersama Mami, ada Abang kok yang akan temani Mami sampai kapanpun!'' Kinara tertawa.
Tiga orang yang berada di dapur itu terkejut. Mereka berlari mendekati pintu tengah penghubung dapur dan ruang tengah.
''Beneran?''
Gading mengangguk. ''Hooh. Abang akan selalu menemani Mami sampai kapanpun! Abang tidak mau jauh dari Mami!'' tegas Gading dengan suara lembutnya.
Kinara tertawa lagi. ''Mana bisa sayang!''
__ADS_1
''Bisa Mami!'' Kinara tertawa lagi.
''Nggak akan bisa seperti itu! Kamu itu kalau sudah dewasa pasti akan memiliki pasangan hidup. Sama seperti Mami dan Papi. Setelah dewasa, kamu mendapatkan pekerjaan, kamu memiliki rumah sendiri dan memiliki istri. Apakah kamu akan tetap bersama Mami??''
Deg!
''Nggak kan?'' tanya Nara pada Gading putra kecil yang kini sedang menatapnya dalam.
''Abang nggak ngerti maksud Mami. Tetapi yang jelas, Sampai kapanpun Abang tidak akan pernah meninggalkan Mami! Mami itu ibu Abang! Mami pengganti Ummu Husna yang sudah tiada. Dan Papi?? Papi itu pengganti Abi Abang yang sudah pergi meninggalkan Abang! Abang tidak akan pernah pergi kemanapun! Abang tidak ingin memiliki istri jika itu yang Mami takutkan!''
Deg!
Deg!
Kinara melototkan matanya pada Gading. Gading tidak takut, ia malah menantang balik sang Mami dengan mata bulat bening nya.
Lama Kinara melotot setelah lelah, Kinara tertawa. ''Nggak guni juga sayang .. Haha.. segini sayangnya ya sama Mami?? Sampai-sampai tidak mau memiliki istri??'' goda Kinara pada putra angkat nya itu.
''Ya, Abang tidak akan memiliki istri jika hal itu bisa membuat Mami kecewa sama seperti Uwak tadi. Lebih baik nggak punya istri tapi Abang mengecewakan Mami!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Para lelaki yang baru pulang dari mesjid pun terkejut dengan ucapan putra angkat Ali. Terutama Lana. Kaki itu terpaku di tempat karena mendengar ucapan putra angkat adiknya itu.
Kinara tertawa. ''Nggak boleh ngomong gitu ah! Itu doa namanya! Mami itu bukan kecewa sayang.. tetapi kesal saja. Mami kesal aja karena terus di cuekin! Terutama kamu!''
''Eh? Kok Abang?''
Kinara tertawa lagi. ''Ya iyalah kamu. Kamu kan keseringan nginap disini? Besok, kita pulang ya? Malam ini kita menginap disini saja. Mami ingin menginap disini berarti kamu dan juga Papi! Mau kan? Tetapi besok kita harus pulang! Ingat?'' peringat Nara pada Gading.
__ADS_1
Pria kecil yang sedari kecil sudah terlihat ketampanannya itu mengangguk patuh dengan wajah bingung. Kinara yang tau kalau Gading sedang kebingungan terkekeh.
''Kenapa?''
Gading memanyunkan bibirnya dengan mata menoleh keatas seperti sedang berpikir keras.
''Mami?''
''Hem? Katakan!''
''Istri itu apa??''
Kinara menatap dalam putra angkat nya yang sangat polos itu. Maklum, masih anak-anak. Lama Kinara menatap nya, Ali terkekeh begitu pun dengan Papi Gilang.
Kinara tertawa. Keras sekali. Suara tertawa lepas ketika sedang bersama Ali dulunya. Kini terdengar lagi oleh Ali.
Hahaha...
Kinara baru sadar setelah melihat wajah polos Gading yang sangat menggemaskan. Ia masih saja tertawa membuat putra kecilnya itu semakin kebingungan dengan tingkah laku sang Mami yang semakin terbahak kala melihat wajah polos Gading.
Puas dengan tertawa kini mata sayu itu nan lembut itu beruraian. Ali masuk dengan tergesa.
Sedangkan Gading menjadi panik sendiri. ''Mami? Mami jangan menangis! Hiks.. Papiiiiii!!'' pekik Gading tetapi membuat Kinara semakin tertawa.
Ali mendekati tiga orang itu. Masih terbalut dengan sarung, baju kemeja putih serta peci hitam ia memeluk tubuh kedua orang yang sangat ia sayangi.
''Sssssttt.. udah.. Mami nggak Pa-pa kok. Tuh, dengar aja kalau Mami kamu itu tertawa?'' ucap Ali menenangkan Gading.
Kinara masih saja tertawa tetapi air mata menetes. Dengan kata lain..
__ADS_1
Mulut tertawa Hati Menangis..
Inilah yang Kinara rasakan saat ini. Ia sedang terluka dan kecewa karena keluarganya. Tetapi di sisi lain, ia sedang bahagia karena putra kecilnya itu. Gading Jaber Al Bashri.