
Setelah berpamitan pada seluruh keluarga, kini mereka berdua sedang berada di dalam pesawat menuju Papua. Sedari menaiki pesawat hati Ali semakin gelisah dan tidak tenang, tapi ia tetap mencoba menenangkan hatinya bahwa yang sudah tertulis maka akan terjadi cepat atau lambat.
Lana mengusap bahu Ali yang terlihat begitu gelisah. "Tenanglah Ali.. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Sudah setengah perjalanan yang kita lalui, kamu belum juga memejamkan matamu. Tidurlah walau sebentar. Ayo, ingat Allah banyak-banyak di dalam hatimu." Imbuh Lana membuat Ali mencoba untuk memejamkan matanya walau terasa berat.
Dan ya, setelah berulang kali menyebut asma Allah, kini Ali tertidur begitu tenang. Lana tersenyum walau terlihat sendu. Ada sesuatu yang akan terjadi dengan adik ipar nya ini. Entah apa dan bagaimana cuma Tuhan lah yang tau.
Tiba di papua sudah pagi. Baru saja tiba mereka sudah dipanggil oleh atasan untuk menemui nya. Ali dan Lana menurut. Kali ini Fatir belum tiba. Ia masih dalam perjalanan. Pesawat yang ia tumpangi sempat mengalami delay hingga tiga jam lamanya. Berbeda sedikit dari jam terbang Lana dan Ali.
Sementara di Medan, Nara sudah di sibukkan dengan kuliahnya. Hari ini ia akan mendaftar di dua kampus. Maura ikut serta menemani nya.
"Sudah siap Dek? Kalau sudah, Kakak igin menitipkan Malik dan Zia pada Mak nanti saat kita melewati mall." Ucap Maura pada Nara yang sedang beberes menyiapkan keperluan Gading termasuk obat yang masih ia minum selama tiga bulan lagi.
"Sudah Kak. Ini sudah siap. Ayo!" ajak Nara pada Maura.
"Oke!" sahut Maura
Mereka berdua begegas keluar dimana Gading, Malik, Zia dan Mbak Sus sedang menunggu mereka berdua didepan pintu mobil milik Lana yang sudah terbuka.
Berkat Nara dan Algi, kini Maura sudah bisa menyetir mobil sendiri. Semua ini karena saran dari Nara. Ia mengatakan jika salah satu dari mereka berdua melahirkan nanti, paling tidak salah satu dari mereka berdua ada yang bisa menyetir mobil milik Lana untuk tiba dirumah sakit dalam keadaan mendesak.
Maka dari itu, Maura belajar bersama Algi dan Nara disaat Ada waktu senggang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Kinara masih saja terdiam. Masih teringat olehnya pesan Ali dulu padanya. Tiada hari tanpa mengingat sang suami yang kini sedang bertugas.
Maura melihat Nara sekilas dengan tatapan fokus ke depan. ''Yang sabar Dek.. kamu harus banyak berdoa untuk suami mu. Ingat, dirinya sedang bekerja. Doa yang lebih ia butuhkan disana. Kakak pun sama sepeti mu. Tetapi kakak bisa apa? Jika semua ini memang ujian kita? Ujian kesabaran kita. Ujian hidup ketangguhan diri kita sebagai seorang istri panglima!''
Kinara menoleh, ''Panglima?''
Maura mengangguk, ''Ya, panglima! Kakak yakin, Jika suami mu kelak akan menjadi panglima karena tugasnya ini!'' gurau Maura membuat seutas senyum terbit di bibir Kinara.
''Hooh. Bener Mi. Papi pasti jadi panglima! Tapi.. panglima itu apa Wak?'' tanya si polos Gading.
Kinara tertawa.
Maura berdecak. ''Ye .. Uwak kira kamu tau arti dari panglima! ET dah! Ini malah balik nanya! Hadeeeuuhh...'' gerutu Maura pura-pura
Empat puluh lima menit, kini mereka tiba di mall Mami Alisa. Maura dan Nara turun bersama untuk menitipkan Gading dan kedua bocah kembar biang rusuh itu.
Mami Alisa dan Papi Gilang menerima cucu mereka itu dengan senang hati. Apalagi ada Gading. Putra angkat Kinara itu begitu pintar. Ia selalu banyak bertanya kepada Papi Gilang.
Dengan senang hati paruh baya itu menjawabnya.
Setelah mengantar kedua bocah itu, kini Maura kembali melanjutkan perjalanan ke kampus Nara untuk mengantarnya disana. Algi pun sekolah disana.
__ADS_1
Algi mengambil jurusan management bisnis. Begitu pun dengan Kinara. Jiwa dagang Mami dan Papinya turun kepada mereka berdua.
Papi Gilang pernah menawarkan mereka untuk kuliah di luar negeri atau ke Jakarta. Tetapi kedua anak kembar itu tidak mau. Mereka memilih kuliah di Medan saja.
Toh, ilmunya buah dan bukan? Begitu pikir mereka. Dan ya, disinilah kedua orang itu sedang mengikuti ospek untuk pertama kali di fakultas itu.
Kinara dengan senang hati mengikuti nya. Baru sehari sekolah disana, Kinara sudah memiliki banyak teman. Kinara gadis yang ramah dan baik hati kepada siapa pun.
Tutur katanya yang lembut itu membuat teman sekampus yang baru ia kenal menyukainya.
Inilah tugas Kinara saat ini. Ia akan kuliah sepeti keinginan sang suami. Sembari menunggu kepulangan sang suami, ia memilih menyibukkan diri dengan sekolah nya.
Dan juga ia ingin mencoba buka usaha kecil-kecilan seperti pedagang buah segar online. Kinara sudah memiliki ide itu. Hanya tunggu waktu yang tepat untuk melakukan nya.
💕
Sambilan nunggu adek Nara update, mampir yuk ke sini 👇
Noh, cus kepoin!
__ADS_1
Like dan komen! Othor tunggu! 😘