Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kerinduan Nara


__ADS_3

Semenjak kedatangan kedua orang tuanya di kediaman nya sebulan yang lalu, Nara tidak pernah lagi bertemu dengan kedua orang tuanya itu.


Sempat Mami Alisa mendatangi rumah Nara dan menginap disana selama tiga hari. Nara pun merasa senang. Tapi tidak dnegn dua paruh baya itu.


Entah kenapa mereka berdua merasakan firasat yang tidak baik saat akan pulang ke Medan dan meninggalkan Ali dan Lana disana.


Entahkah itu hanya perasaan mereka saja atau memang firasat itu memang benar adanya.


Dan hari ini Nara sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tambahan di sekolahnya. Ia akan pulang sore lagi sama seperti lima bulan yang lalu.


Nara menghela nafasnya saat merasakan kerinduan yang begitu dalam terhadap sang pujaan hati yang pergi bertugas tepat sebulan pernikahan mereka berdua.


Dan Ali pun akan pulang sama seperti Lana. Dua tahun lagi. Mendengar kata-kata itu, begitu membuat dada Nara sesak. Padahal tahun ini ia akan naik ke kelas tiga. Ia melamun seorang diri di dalam kelasnya.


Semenjak kepergian Ali dan Lana dalam bertugas, keceriaan Nara semakin berkurang. Semakin hari semakin irit bicara. Ia akan bicara jika ada yang bertanya. Ya, sekedar itu saja. Berbeda ketika ada Ali.


Ia sering kali duduk melamun seorang diri. Terkadang saking rindu nya sama Ali. Nara Sampai memimpikan Ali disana yang sedang kesusahan karena dirinya yang begitu tidak bisa bersikap dewasa.

__ADS_1


Mengingat mimpi itu, Nara merasakan suatu dorongan sesak untuk di keluarkan. Hatinya sesak, matanya memanas. Ia menangis sesegukan di dalam kelasnya seorang diri.


Rasanya ia tidak ingin pulang kerumahnya. Karena dirumah itu selalu saja ia terbayang-bayang akan kehadiran Ali. Sang suami. Nara menangis sesegukan disana.


Seseorang berdiri di depan pintu dengan tangan mengepal erat. Ia masuk ke ruangan itu dan langsung memeluk Nara dengan erat.


Grep!


''Hiks.. Abang... adek nggak mau pulang... adek disini saja ya? Hiks..'' Isak Nara dalam pelukan Algi.


Ya, Algi. Saat ini Algi lah yang menunggu Nara di parkiran. Lelah menunggu karena Nara tidak kunjung datang, akhirnya Algi menyusul Nara ke kelasnya. Dan benar saja seperti dugaannya.


Nara mengurai pelukannya dari tubuh Algi dan mengangguk. Mereka keluar dari gerbang sekolah saat senja hampir menyapa. Dengan segera Algi membawa Nara dengan sepeda motor sang suami yang ia pinjam tadi pagi untuk mengantar jemput Tiara dan Nara sekaligus.


Mereka sekolah di tempat yang sama. Ingin Algi membawa mobil, dan di supiri oleh supir. Tapi Nara menolak. Ia hanya ingin pergi dengan motornya. Motor Ali. Bahkan bau harum tubuh Ali sangat ia rindukan saat ini. Di motor ini, Ali dan Nara saling melempar canda tawa bersama.


Mengingat kenangan itu, kembali membuat Nara menangis. ''Hiks.. Abang...'' lirihnya sambil mendekap tubuh Algi. Bahunya berguncang. Algi tau itu.

__ADS_1


Ia hanya bisa mengelus lembut tangan adik nya untuk memberikan semangat padanya agar tetap kuat. Sepanjang jalan yang dilalui Nara begitu menyiksa dirinya.


Kenangan nya bersama Ali begitu membuat nya merana karena begitu merindukan Ali. Sang suami pujaan hatinya.


''Hiks.. hiks.. adek kangen bang Ali, bang.. hiks.. Adek rindu...'' lirih Nara dengan bahu semakin berguncang. Ia menangis sesegukan saat melewati tempat yang sering mereka lalui bersama.


''Sudah .. jangan menangis. Kita pulang kerumah Mami ya? Disana ada Tiara yang akan menemanimu saat Abang pergi bekerja. Kita pulang kesana aja ya?'' bujuk Algi lagi.


Nara tetap menggeleng. Algi menghela nafasnya lagi. Lagi dan lagi Nara menolaknya. Inilah yang terjadi pada diri nya jika ia membujuk Nara.


Mami Alisa dan Papi Gilang sudah membujuk Nara untuk ikut bersama mereka. Tapi Nara menolak nya. Ia tetap Keukeh ingin pulang kerumah mereka berdua. Apa yang bisa Algi perbuat jika Nara sendiri menolaknya?


Tiba dirumah Nara, tak terlihat Kak Maura ada disana. Pasti saat ini Kak Maura sedang bertugas. Nara memilih masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


''Abang masuk dulu. Biar adek buatkan makanan. Temani adek makan ya? Adek kesepian nggak ada Bang Ali..'' lirihnya begitu menyayat hati.


''Ya, Abang akan temani kamu. Lusa, Abang akan bawa Tiara kesini. Agar kamu punya teman untuk berbicara. Jangan putus asa dan selalu doa kan bang Ali. Doa seorang istri itu cepat di ijabah oleh Allah. Hem? Kamu harus kuat dan tegar! Hadapi semua ini dengan ikhlas. Tawakal kuncinya. Kita punya Allah tempat meminta. Adukan semua kegelisahan hati dan rasa rindu mu kepada Allah. Agar Allah menyampaikan kepada suami mu nan jauh disana. Ayo, bersih-bersih dulu. Setelah nya makan. Pergilah. Abang tetap menunggumu disini,'' kata Algi pada Nara.

__ADS_1


Nara mengangguk setuju dan segera berlalu meninggalkan Algi yang duduk sembari menghela nafas panjang. Mengingat sang adik yang begitu merindukan sang suami membuat hatinya pun ikut bersedih.


Semoga Ali baik-baik saja disana. Semoga saja. Hanya itu yang bisa Algi panjatkan di dalam hati.


__ADS_2