
Saat ini Lana dan Ali sedang berperang mengejar penyusup ilegal itu. ''Itu disana!''
''Kejar!''
''Jangan lari!''
''Berhenti!''
Dor!.
Dor!
Dor!
''Bang Lana! Disini!'' pekik Ali saat melihat penyusup ilegal itu bersembunyi di semak belukar.
Lana menggangguk setuju. Ia perlahan mendekati semak berduri itu dan menarik sesuatu yang terlihat itu.
Sreeeettt..
Sreeeekkkk...
''Aaaarrrgghhtt.. jangan! jangan! Ummi...''
Deg!
Deg!
Deg!
Lana dan Ali mematung mendengar suara seorang anak kecil dari sebalik semak. Ali dan Lana saling pandang, Lana maju untuk mengeluarkan anak itu dari semak berduri.
''Aaaarrrgghhtt.. jangan Pak! Ummi iii...'' pekiknya begitu pilu.
Ia menangis meraung dengan wajah ia tutup dengan telapak tangan. Seluruh tubuhnya terluka akibat semak berduri itu. Udara yang masih pagi, tak menyurutkan anak itu untuk berlari dari kejaran Lana dan anggota tentara lainnya.
''Hiks.. hiks.. lepasin saya Pak! Saya nggak mau ditangkap! saya mau pulang ke Medan! Saya diculik! Dibuang kesini karena saya tidak mau melakukan apapun yang mereka suruh! Hiks.. ummi.. hiks.. tolong.. jangan tembak saya, Pak! Saya masih ingin hidup...'' lirih anak kecil laki-laki berusia belum genap tujuh tahun itu.
Lana dan Ali tertegun dengan ucapan anak kecil itu. Ali mendekati anak kecil yang sedang tertunduk dengan tangan di atas kepalanya. Ali pun ikut duduk berjongkok.
''Nama kamu siapa?''
Deg!
''Abi!!''
Deg!
Lagi, Lana dan Ali terkejut. Anak lelaki itu membuka tangannya dan melihat Ali dalam cuaca pagi yang masih gelap gulita. Hanya bermodalkan lampu senter kepala saja yang Ali gunakan.
__ADS_1
''Nak??''
''Abi! Abi disini?! Hiks.. bu-bukannya Abi sudah ditembak ya sama bapak yang dibelakang itu??''
Deg!
Deg!
''Apa?! Kapan saya menembak Abi mu?? Saya saja baru pagi ini melihatmu. Hah? Apa jangan-jangan...'' ucapan Lana terhenti saat mengingat jika Riko, prajurit yang ditugaskan dalam hal ini telah menembak seseorang yang di sebut Abi oleh anak kecil ini.
Lana membelalakkan matanya. Ia berlari menuju seseorang yang terkapar tak jauh dari tempat mereka berada. Sedangkan Ali, ia menggendong anak kecil itu dan membawanya berlari.
''Abi.. Hiks.. bapak mau jadi Abi saya tidak?? Saya udah nggak punya Abi.. Abi saya di tembak tadi. Padahal Abi sengaja mengejar saya ke hutan ini demi menyelamatkan saya.. hiks.. Abi..''
Deg!
Deg!
Jantung Ali berdegup tak karuan kala mendengar ucapan anak kecil dalam gendongan nya ini.
''Hiks.. Abi.. bapak mau kan jadi Abi pengganti Abi saya??'' tanya nya lagi pada Ali.
Lagi dan lagi, Ali tertegun. Ia semakin erat memeluk tubuh anak kecil berusia tujuh tahun itu. Ali menangis pilu mendengar rintihan anak kecil yang sedang berada di dalam gendongan nya ini.
Tiba disana, Ali terkejut melihat Lana sedang berusaha menolong bapak yang dipanggil Abi oleh anak itu.
''Bang!''
Tangannya masih berusaha mencoba untuk menyadarkan bapak-bapak itu. ''Bangun! bangun Pak! jangan buat aku bersalah karena kebodohan temanku! Bangun! jangan hukum aku! Hari ini istriku pasti sedang melahirkan. Aku mohon! Bangun! jika tidak, maka aku akan merasa bersalah kepada putramu! Bangun! Aku juga akan menjadi seorang ayah! Tolong, hiks bangun!'' seru Lana pada tubuh yang sudah dingin sedari tadi.
Tapi detak jantung itu masih berdetak namun, sangat lemah.. ''Hiks, Abi! bangun! Abang disini!''
Deg, deg, deg..
Jantung Lana semakin bergemuruh hebat saat merasakan tangan bapak itu memegang erat tangan nya. ''Anda sudah sadar?? Ayo, kita kerumah sakit!'' kata Lana begitu panik.
''Tu-tuan! to-tolong ja-jaga pu-putraku, Gading! A-anggap di-dia se-seperti anakmu! Ma-maka a-aku memaafkan mu! Gading...'' panggilnya pada sang putra.
Ali ingin menurunkan nya, tapi anak laki-laki itu tetap Keukeh memeluk leher Ali. Tapi matanya melihat sang Abi yang sedang tersenyum lembut padanya.
''Abi.. hiks.. Abi..''
''Gading... ja-jaga diri ba-baik-baik! Abi harus per-gi menyusul ummi mu! Abi su-sudah cukup sa-sampai disini. To-tolong ja-jaga putraku! A-angkat ia men-jadi putramu, Tuan Ali! Saya mohon..'' pintanya dengan sangat.
Ali tertegun lagi. ''Anda.. tau nama saya??'' tanya Ali kepada bapak-bapak yang tertembak oleh Riko tadi.
Ia tersenyum, ''Saya tau siapa Anda tuan Ali. Saya mohon.. untuk yang terakhir kalinya. Tolong anggap putra saya menjadi putra anda. Suatu saat, anda pasti membutuhkan putra saya untuk menemani istri anda. Tolong.. jaga dan rawat dia. Karena hanya dia nanti yang bisa menolong anda dan istri anda, tuan Ali Jaber Al Basri!''
Deg!
__ADS_1
Deg!
''Aaaarrrgghhtt... Tolong jaga putra saya, tuan Ali! Lailahailallah.. muhammadurrasululllah....''
Deg!
''Abiiiiii....'' pekik gading tapi masih memeluk erat tubuh Ali.
Lana mematung. Ia jatuh terduduk karena mendengar ucapan ayah dari Gading. ''Ali...'' lirih Lana.
Sementara Ali termenung mendengar ucapan ayah gading yang ia tidak tau siapa namanya. ''Abiiiiii... abiii...'' pekik Gading begitu pilu.
Ali memeluk erat tubuh Gading hingga Gading pun semakin erat memeluk tubuhnya. ''Sssttt ... sudah! Kita harus kuburkan Abi mu secara layak! Ya? Jangan menangis, mulai sekarang. Aku lah yang akan merawat mu Gading Jaber Al Basri!''
Deg!
Deg!
Lana menoleh pada Ali. ''Kamu yakin??'' tanya Lana untuk memastikan.
''Iya Bang. Sama seperti Abang dulu menyelamatkan Malda dan mengadopsinya menjadi putri angkat Abang. Begitu pun denganku. Aku juga akan mengangkat Gading menjadi putra sulung ku! Mulai sekarang panggil Papi ya?'' katanya pada Gading.
Gading yang sedang sesegukan memeluk erat leher Ali, mengurai pelukannya. Ia menatap mata elang milik Ali yang juga sedang menatap nya.
Gading tersenyum dan mengangguk. ''Papi!'' seru Gading pada Ali.
Ali tersenyum walau air mata terus mengalir. ''Mulai sekarang, kamu memilki dua Papi. Yang satu Papi Ali. Dan satu lagi Papi Lana!'' tunjuk Ali pada Lana.
Lana menghela nafasnya. ''Aseeekk.. akhirnya Abang punya Papi baru! Terus Mami??'' kata Gading dengan mata berbinar senang.
Ali terkekeh. ''Ada... kalau Mami nya Papi Lana saat ini pasti sudah melahirkan! Dan kamu memilki dua adik sekaligus! Tapi kalau Papi Ali.. Mami kamu masih sekolah. Dan nantinya kamu akan tinggal bersama kami. Rumah kita dekatan. Dan kamu kapanpun bisa datang kerumah itu,'' jelas Ali membuat Gading semakin berbinar senang.
Lana menghela nafasnya lagi. ''Baiklah, kita urus dulu jenazah Abi, Gading. Setelah ini baru kita berbicara. Ayo, kita keluar dari hutan ini. Sebentar lagi masuk subuh. Mereka pun sudah tiba dengan membawa tandu.'' kata Lana pada Ali.
Dari kejauhan sudah terlihat beberapa orang membawa tandu dan juga lampu yang lebih besar lagi untuk penerangan jalan mereka.
Dengan segera mereka semua keluar dari hutan itu. Dengan membawa serta Gading dan abinya. Di tengah-tengah jalan, Ali menendang sesuatu seperti tas.
Ia menunduk dan mengambil ransel itu dan menelitinya. Sedangkan Gading tertegun dengan ransel itu. Ransel terakhir peninggalan Abi dan ummi untuk diri nya.
''Tas Abi dan Ummi..''
''Tas kedua orang tuamu??''
''Ya,'' sahutnya dengan memeluk erat lagi leher Ali. Ali mengusap lembut punggung Gading dengan sayang.
Mereka semua keluar dari hutan itu dikala suara adzan subuh berkumandang. Walau terdengar begitu lirih, tapi tetap saja. Suara penyejuk hati itu begitu menyentuh siapa saja yang mendengar nya.
💕💕💕💕
__ADS_1
Jangan heran, kalau sepenggal bab dari bang kan othor bawa kesini. Karena mengandung disini lapak mereka yang sebenarnya.
Jangan lupa like dan komen ye? Lempar kembang juga buat Othor! othor tunggu!