
Saat ini di kamar kedua orang itu sedang bergulat satu sama lainnya. Ali dan lana begitu lelah menhadapai sikap istri mereka yang tiba-tiba berubah karena salah mengucapkan kata.
"kalau tau seperti ini tadi, lebih baik langsung saja lah. Apa sebaiknay aku mulai aja ya? Ah, nanti yang ada bukannya nik mat. Malah aku akan membuatnay terluka pula!" Gumam Ali masih berusaha membuju Kinara yang saat ini sednag merajuk padanya.
Begitu pun dengan lana. Ia pun saat ini sednag kesulitan membujuk maura yang juga sednag merajuk padanya.
"Ya elah Dek. Masa iya gegara salah ngomong aja kamu udah ngambek gini sih? Taunya gini tadi langsung to the point aja!" gerutu lana semabri mendekati Malda dan membujuknay lagi.
"Sayang?"
"Apa?" ketus Kinara dan Maura bersamaan
"Kamu nggak kasihan apa sama Abang? Udah lama loh pedang ini tidak di asah? Masa iya, sekali minat jatah langsung ditolak?" ucap kedua suami itu bersamaan.
__ADS_1
Kinara dan Maura bersamaan menghela nafas panjang saat melihat wajah sendu sang suami.
"Bukan adek nggak mau ngasi jatah sam Abang. Hanya saja.. kamu itu ngomongnya yang kayak ingin pergi dan tidak kembali lagi. Adek baru aja senang karena Abang pulang / adek baru kembali. Masa iya mau pisah lagi? Tega Abang sama kita??" ucap keduanya bersamaan dengan menunduk.
Tak lama setelahnya mereka berdua terisak. Ali dan Lana menjadi merasa bersalah. Keduanya pun mendekati istri mereka dan memeluknya dengan erat.
"Maaf.. Bukan maksud Abang ingin meninggalkanmu. Tetapi bukankah besok pagi Abang akan mengantarkan Malda ke Malaysia? Abang hanya meminta hak kami para suami. Apa itu salah?" lirih kedua suami itu membuat sang istri semakin tersedu.
Mereka pun ikut tersedu.
Ali terkekeh, "Maaf sayang. Janji. Nggak akan ngomong gitu lagi. Kalau Abang mau, Abang akan langsung menerkam mu seperti ini!"
Bruuukk..
__ADS_1
"Kyaaaaa.. Abang!! Adek belum siap ih!" pekik Kinara yang saat ini berguling guling di ranjang dan disambut gelak tawa Ali
Lana yang mendengarnya pun tersenyum simpul.
"Sasaran takluk! Yes!" ucap keduanya dengan segera memulai ritual yang selama ini selalu mereka inginkan.
Ali menghidupkan peredanm suara di kaar nya begitu pun dengan Lana. Ssambungan eraphone di telinga keduanya pun sudah terputus.
Ternyata sedari tadi mereka itu saling berhubungan dan jawaban mereka pun sama. Bahkan jawaban dari istri mereka pun sama. Seperti memang sudah latihan dulu.
Kedua pasangan itu kembli mereguk nikmatnya madu pernkahan setelah sekian lama. Butuh waktu selama enam tahun untuk kedua orang itu bersatu kembali.
Dan sekarang, semua itu berhasil dan terlaksana. Mereka sibuk mereguk kenikmatan bersama tap[a teringat dengan sosok gadis belia yang kini tersenyum di dalam kamarnya saat ia tau jika keduanya kini sudah akur.
__ADS_1
Ia bisa pergi dengan tenang dan juga bahagia. Karena ke empat orang itu kini sudah bersatu dalam balutan gelora rindu yang membara.
Ia mengusap bulir bening yang mengalir di pipi halusnya. "Semoga kalian selalu berbahagia bersama. Dan rahmat semesta alam selalu menyertai kalian berdua. Kakak pergi. Jaga diri kalian. Dan terimakasih untuk semuanya.." lirihnya dengan segera keluar dari rumah itu di temani Malik dan Zia yang kini tersedu karena melihat kepergiannya.