
Kinara langsung saja keluar karena dirinya menag tidak membawa apapun selain kunci mobil, ponsel dan dompet yang ada di dalam tas slempang kecil miliknya.
Mami alisa hanya bisa menghela nafasnya melihat Kinara begitu gigih ingin ke rumah Maura. Padahal mereka masih bisa kan besok saja? Pikir wanita paruh baya itu.
Papi Gilang mengangguk. Mereka segera mengikuti Kinara dan yang lainnya sudah lebih dulu berada di mobil.
Mereka pergi dengan mobil masing-masing. Jika di mobil Kinara, Ali lah yang kini menjadi supirnya. Lana membawa sendiri. Sedang Papi gilang membawa salah satu supirnya.
Ia hanya ingin duduk manis saja saat ini.
Cukup melakukan perjalana satu jam lebih dua puluh lima menit saja saat ini mereka sudah tiba di depan rumah Maura yang masih tetap sama.
Anak-anak Lana langsung saja berhamburan masuk kerumah Maura dimana ada Kakek mereka yang saat ini sedang duduk dibalkon lantai atas sedang membaca buku karena baru saja selesai sholat dhuhur.
Ia baru saja pulang dari sekolahnya. Melihat kedatangan cucu-cucu nya, ia bergegas turun ke bawah.
Tetapi saat tiba di depan pintu, tubuh itu membeku seketika ketika pandangan matanya menuju pada sosok yang selama ini mereka tunggu kepulangan nya.
Mata itu berkaca-kaca. Kinara tersenyum melihat Abi Madan ingin menangis. Ia lantas menyalami tangan paruh baya itu dan memeluknya bersamaan dengan Ali yang juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Abi.." sapa Kinara pada abi Madan.
"Waalaikum salam, Nak. Ya Allah.. Ini beneran Ali? Suami kamu?" katanya dengan bibir bergetar
Kinara dan Ali tersenyum, "Benar Abi. Ini adik ipar Abang. Ia baru saja kembali tadi pagi. Maka dari itu adikku ini langsung saja ingin kemari karena ingin menjemput kakak iparnya!" ujar Lana dengan sengaja mencubit pipi Kinara
Ali terkekeh, Kinara menepuk pelan tangan Lana karena merasa sakit di pipinya.
Abi madan terkekeh, "Ayo masuk. Lis, Gilang! Ayo, masuk. Kamu juga kak." katanya pada Malda yang kini berdiri di belakang semua orang.
Ia tersenyum walau berbalut sendu. Kinara tau itu. "Dengar sayang. Kami tetap keluarga mu. Walau kamu harus kembali ke Malaysia saat mami Maura sudah kembali, kamu tetap putri kami. Kita berdua memiliki janji padanya dan kita harus menunaikannya bukan?" bisik Kinara di telinganya.
"Biar mami yang ngomong sama papi kamu besok. Tenanglah. Tidak akan terjadi apapun. Memang ini yang harus terjadi bukan?"
Malda mengangguk patuh dan ia pun tersenyum terpaksa kepada Kinara.
Mereka pun akhirnya masuk. Tidak ada Maura dirumah. Karena saat ini ia sedang mengajar di pesantren nya. Sedang Faiz sedang bekerja di kantor bersama istrinya.
Tempat yang sama dulu ia datangi walau sudah menikah dengan Lana.
__ADS_1
Mereka semua duduk di sofa rumah Abi Madan. Malda yang tau tidak ada siapaun dirumah itu, segera menuju kedapur ditemani anak Gadis Lana yang kini sudah besar.
Hampir setara dengan Malda. Tinggi tubuh mereka pun sama hanya berbeda usianya saja.
Mereka berdua menyiapkan minuma serta mengambil kudapan yang memang sudah disediakan disana oleh Maura jika nanti ada tamu yang datang kerumah itu.
Setelah selesai, Malda dan Zia segera membawa nampan minuman dan juga kudapan untuk merekamakan bersama.
Baru saja Malda menyusun kue di meja sofa sudah terdengar suara motor masuk ke halama rumah mereka.
"Itu pasti mami!" celutuk Zia dengan segera berlari mengejar sang mami yang kini baru saja pulang dari bekrja sebagai guru di pesantrennya.
Mereka yang melihatnya pun tersenyum. Walau anak-anak Lana terpisah tempat tinggal dari Maura, Lana dan Kinara selalu mengingatkan tentang mami mereka. Cukup satu tahun lebih saja mereka tidak bersua.
Selebihnya mereka sudah bertemu kembali. Tetapi tidak Malda. Gadis kecil itu butuh waktu selama dua tahun untuk menghilangkan traumanya dari perlakuan Maura dulu padanya.
Berkat Kinara, kini Malda bisa bertemu dengan mami nya lagi walau tidak seakarab dan semanja dulu.
Maura paham itu. Ia sadar, semua itu karenanya. Jika bukan karenanya, pastilah Malda tidak akan takut padanya.
__ADS_1