Penantian Kinara

Penantian Kinara
Nasehat Papi Gilang untuk Lana


__ADS_3

''Ayo Bang!'' ajak Nara lagi pada Ali.


Ali terkejut. ''I-iya.. kita pergi. Abang, Papi. Kami pamit, assalamualaikum..''


''Waalaikum salam.. kalau kamu pulang nanti kabari Papi ya? Biar Papi jemput kalian kesini,''


''Ya,'' sahut Ali.


Sedangkan Kinara sudah berjalan lebih dulu bersama Gading. Ali menghela nafasnya melihat Kinara. Sungguh, istrinya itu begitu kuat pendirian nya.


Jika sudah mengatakan tidak, maka akan tidak. Sekuat apapun Lana mencoba, tetap saja Nara tidak akan berubah pikiran. Sekali ia merasakan sakit maka selamanya akan terus ia ingat.


Putih tulang Kinara mengingat kejadian itu. Ia tidak dendam. Tetapi hatinya yang sudah terluka sulit untuk bisa bisa seperti semula.


Papi Gilang menatap nanar kepergian Kinara dan Ali. Hatinya sesak ketika tadi pagi mendapatkan kabar dari Maura kalau Lana sedari pulang dari rumah Annisa sudah mulai demam.


Ia terus saja memanggil nama Kinara di dalam tidurnya. Dokter sudah memberikan obatnya. Tetapi obat yang Lana butuhkan adalah bidadari kecilnya.


''Maafkan Abang Dek .. maaf... Kinara... Adek...'' terdengar lagi suara Lana yang terus menerus di sambungan ponsel milik Papi Gilang.


''Pi...'' panggil Maura di seberang sana.


''Ya.. adek udah pergi. Ia akan pulang setelah luka hatinya sembuh. Dan Papi harap kalian berdua tidak membuat ulah lagi seperti ini. Cukup Sampai disini. Papi harus membela siapa? Sedang keduanya anak Papi? Papi menyayangi Abang dan juga adek. Keduanya kebanggaan dan kebahagiaan Papi. Tetapi karena masalah ini Papi tidak tau harus berbuat apa. Papi berbicara tadi saja adek udah salah paham. Ia kira Papi membela Abang karena begitu menyayangi Abang. Tolong... jangan persulit Papi, Nak. Papi sangat menyayangimu. Jauh sebelum Kinara hadir, kamulah putra Papi. Tetapi Papi tidak bisa menutup mata bahwa Kinara buah Cinta Papi dengan Mak kamu, Bang! Ingat dulu, kamu begitu senang ketika kamu mengetahui jika kamu memiliki adek perempuan?'' tanya Papi Gilang dengan air mata yang sudah bercucuran melalui sambungan video call nya yang sudah ia ubah tadi.


Lana terdiam. Ia sudah duduk menyender. ''Papi jadi serba salah nak. Kamu putra sulung Papi. Sedang adek putri bungsu Papi. Sekarang Papi harus apa untuk bisa menyatukan kalian berdua kembali?'' Lana tetap diam.


Ia masih menunggu kelanjutan ucapan sang Papi padanya. ''Apakah Papi harus memilih salah satu sedang keduanya Papi inginkan? Jangan membuat Papi serba salah bang. Kamu putra Papi. Begitu pun Kinara. Kamu ingat apa kata Ali kemarin malam?''


''Wanita itu mudah untuk memaafkan tetapi sulit untuk melupakan. Rasa sakit yang ia dapat akan terus teringat hingga putih tulangnya!''

__ADS_1


Deg!


Lana memejamkan kedua matanya. Maura terisak di samping Lana. ''Mungkin kamu belum menyakiti Maura. Tetapi Nara? Kamu sudah menyakitinya. Pesan Papi. Sepulang adek dari Bandung nanti temuilah dirinya. Bicara dengan nya. Luangkan waktumu untuknya. Bicara hati ke hati. Pasti adek mau mendengar nya. Itu saja. Ya sudah, ayo bang kita pulang. Papi mau pulang. Sudah dulu ya? Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam...'' sahut Maura tapi tidak dengan Lana.


Pemuda tampan itu terdiam membisu mendengar ucapan sang Papi padanya. Papi Gilang dan bang Tama kembali pulang.


Sedangkan Ali dan Kinara saat ini sudah terbang di udara langit Medan menuju langit Bandung.


Sepanjang perjalanan Nara memilih diam. Tidak ingin bicara sepatah katapun kepada Ali dan Gading. Kedua orang itu paham. Mereka pun memilih diam.


Dua jam kemudian.


Ali dan Kinara baru saja tiba di bandara dan saat ini Nara begitu merasakan pusing yang tiada Tara. Ia hampir terjatuh jika Ali tidak segera merengkuh tubuhnya.


Nara merasakan perut nya seperti di aduk-aduk. Ia mual. Kinara melepaskan tangan Ali dan berjongkok di tepi dinding kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perut nya.


Ali memijat tengkuk Kinara dengan lembut. Sedangkan Gading memegangi tangan Kinara yang begitu dingin saat ini.


''Mami..'' lirih Gading dengan mata berkaca-kaca.


''Hueeekkk... hueekk.. hueekk..'' Kinara memuntahkan seluruh isi perutnya hingga ia lemas dan jatuh terduduk.


Ali dengan sigap memegangi tubuh Kinara. Dari kejauhan sana Abi Husen mendekati Ali dan Kinara yang berlari kesisi lain Bandara.


Mereka berdua berlari kecil mendekati kedua orang itu. ''Assalamu'alaikum nak. Ada apa? Kenapa dengan menantu Abi?'' tanya Abi Husen dengan panik.


''Kakak ipar jetleg ya A'?'' tanya adik Ali yang akan segera menikah itu.

__ADS_1


Ali menggangguk. ''Waalaikum salam Bi. Iya Nara mabuk kayaknya. Mungkin tadi pagi nggak selera makan makanya masuk angin? Sayang, Abang gendong ya?''


Kinara tidak menjawab tetapi kepala yang tertutup hijab coklat susu itu mengangguk pelan.


''Ya, sebaiknya kamu menggendong nya saja. Ayo, Delia! Bawa koper kakak ipar kamu. Dan Abang? Sama Kakek ya?'' ujar Abi Husen pada adik Ali dan juga Gading.


Keduanya mengangguk. Dengan segera Ali menyusupkan tangannya ke bawah lutut Kinara yang tertutup gamis coklat susu dan juga tubuh bagian belakang Kinara.


Ia menggendong Kinara ala bridal style. Kinara mengalungkan tangannya di leher Ali dengan wajah bersembunyi di dada bidang sang suami.


Harum maskulin tubuh Ali begitu menenangkan nya hingga ia terlelap di dalam gendongan Ali. Bahkan ketika Ali membawanya masuk ke mobil Kinara tidak sadar lagi.


Mereka berlima meninggal kan bandara dengan Abi Husen yang menyetir. Karena Ali tidak bisa. Saat ini ia sedang memangku kepala Kinara. Karena Kinara sedang terlelap setelah ia muntah tadi.


💕💕💕💕


Like dan komen ye?


Oke deh sambilan nunggu adek Nara update, mampir dulu yuk ke karya teman othor yang satu ini.


Judul karya : Cinta Dan Dendam


By author : JuliendGreen



Cus kepoin!


Othor tunggu ye? Jan lupa kembangnya buat Othor! 😁

__ADS_1


__ADS_2