
Kinara masuk ke ruangan Bang Raga dimana kak Ira sudah menunggu nya beserta ketiga anaknya yang kini sudah besar.
"Onti!" panggil si kemabar Rasya dan Rania
Kinara tersenyum, "Iya sayang nya Onti! Udah lama kah?"
"Udah! Onti canat telat!" ketus Rasya dengan gaya bicaranya yang cadel
Kinara tertawa. "Maaf sayang,.. Main sama abang ya? Onti mau periksa dulu sama Abi?"
Diangguki oleh kedua anak kembar yang begitu mirip dengan Bang Raga itu. Bang Raga versi perempuannya.
Kinara berlalu meninggalkan Gading dan si kembar. Ia langsung naik ke bangkar dimana seorang suster sudah menunggu nya saat ini.
"Ada keluhan?" tanya Bang Raga memecah keheningn diantara mereka berempat.
"Nggak ada Bang," jawab Kinara dengan mata terus melihat layar hitam dan buram yang saat ini sedang diperiksa dan dilihat oleh Raga.
Pemuda tampan yang sudah cukup matang yang saat ini sudah memakai kaca mata itu tersenyum manis melihat layar monitor.
__ADS_1
"Hem, hunny??" panggilnya pada Kak Ira
"Iya By? Ada apa? Hah?" Jawab Kak Ira dengan segera mendekt dan melongo melihat gambar dihadapannya saat ini.
Bang Raga terkekeh, "Kamu kenapa? Kok yang kayak terkejut gitu?
"Hah? Itu nggak salah kan By? Adek hamil kembar?"
Deg!
"Apa?! Kembar kak!" seru Kinara begitu terkejut.
"Hah??" kali ini Kinara yang melongo
Bang Raga tertawa. "Beneran dek. Kamu hamil kembar tiga! Tetapi.. Satu kantung itu begitu kecil terlihat. Kemungkinan yang seperti ini bisa hilang dengan sendirinya. Semoga saja tidak ya? Jangan banyak pikiran. Jaga pola makan. Hindari makanan cepat saji. Itu tidak baik untuk kehamilan pertama mu. Banyak makan buah dan vitamin. Insyaallah, sehat sampai melahirkan! Kamu tiap bulan harus periksa kesini. Sama Abang aja. Jangan orang lain. Kakak kamu nanti ngomel sama Abang!" celutuknya menggoda Kak Ira yang saat ini berdiri di sampingnya.
Kak Ira mencebik. "Ya iyalah aku marah, By! Adikku ini sendiri! Suami nya masih belum di temukan! Wong ada kamu, kok mau cari dokter kandungan lain! Mana bisa begitu!" sewot Kak Ira mendadak kesal karena ucapan suaminya tadi.
Kinara dan Bang Raga tertawa. "Tentu kak. Adek akan periksa kesini terus nanti. Kakak tenang aja. Bahkan adek melahirkan pun dirumah sakit ini. Adek punya uang kok! Tenang aja!" seloroh Kinara pada ira.
__ADS_1
"Ya, ya, ya! Kakak tau, lah wong Papi kamu 'kan sultan???" balas kak Ira meledek Kinara.
Kinara tertawa. "Walaupuan Papi sultan, Adek nggak mau minta tolong sama mereka. Adek punya uang kok. Tabungan dari Bang Ali masih cukup untuk biaya makan dan juga kebutuhan lainnya. Untuk biaya melahirkan, adek sudah memikirkan semuanya. Kakak tenang saja! Nggak usah khawatir." Ujarnya membuat mata Ira mengembun
Ia mendekati Kinara dan memeluknya. "Untuk biaya persalinan kamu nantinya. kamu Kakak bebaskan! Asalkan, kamu tetap patuh dengan apa yang kakak katakan! Karena kakak pun pernah hamil tiga. Kak Annisa juga kan? Dialah yang hamil kembar tiga satu tahun yang lalu."
"Iya Kak. Adek tau. Kakak pun udah kasi tau adek kok." Ucap Kinara tersenyum lembut pada Kak Ira.
Lagi. Ira menangis. Ia memeluk erat adik bungsunya setelah Algi. "Yang sabar.. Jangan merasa sendiri. Kami bersama mu. Doakan terus suami mu. Hanya doa yang bisa mengubah Takdir! yakinlah!"
"iya Kakak. Adek harus ke kampus. Adek titip Gading ya? Hari ini adek ada mata kuliah sampai sore kak."
"Tentu, pergilah. Gading aman bersama Kakak. Nanti sore Kakak antarkan sekalian ingin bertemu dengan mertua kamu. Hati-hati. Jangan mengebut bawa motornya!" peringat Kak Ira pada Kinara dan dibalas senyum lembut oleh Kinara.
"Gading? Mami ke kampus dulu ya? Kamu sama Uwak disini nanti sore akan diantar pulang oleh mereka."
"Iya Mi. Santai..." sahutnya yang membuat Kinara dan Kak Ira tertawa
Ia pun segera pergi meninggalkan rumah sakit untuk menuju ke kampusnya.
__ADS_1