Penantian Kinara

Penantian Kinara
Setelah kepergian nya


__ADS_3

Setelah kepergian Ali pada tengah malam tepat pukul Dua belas malam, kini Kinara, Papi Gilang, Mami Alisa, dan Maura berserta Algi juga pengasuh anak Lana, kembali kerumah masing-masing.


Butuh waktu hingga dua jam untuk tiba di kediaman Nara dan Maura. Papi Gilang memilih menginap dirumah sang putri karena melihat putri bungsunya sedikit tidak sehat.


Terlihat dari wajahnya yang kini pucat pasi. Gading dnehj setia menemani nya. Ia memeluk erat tubuh Nara yang saat ini sedang terlelap.


Hampir subuh mereka baru tiba dirumah. Karena Papi Gilang dan Algi mereka membawa dua mobil dan ingin berisitirahat sebelum tiba dirumah.


Nara masuk ke dalam rumahnya dengan langkah gontai. Gading mengikutinya dari belakang. ''Abang temani Mami ya?'' ucapnya pada Nara.


Nara tersenyum dan mengangguk, ''Sini. Mami masih ingin bobok. Mata Mami masih ngantuk. Ayo!'' ajaknya pada Gading.


Dengan cepat putra angkat Ali dan Kinara itu membuka jaket, celana panjang dan menyisakan celana pendek sepaha bermotivasi Upin Ipin membuat Kinara terkekeh.


''Kok dibuka? Kamar Mami ada AC nya loh.. nanti kamu kedinginan.''


''Nggak akan. Abang nggak akan kedinginan! Ada Mami. Abang peluk Mami ya? Boleh kan?'' tanya nya dengan mata bulat bening yang bersinar

__ADS_1


Nara tersenyum, ia mengecup kening Gading berulang kali. Hingga Gading menelusupkan wajahnya ke dada hnagt Kinara.


Kinara pun memeluknya dengan erat. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah sudah. Kinara menangis dalam diam. Tubuh itu bergetar. Gading tau itu.


''Mami jangan sedih.. ada Abang yang akan selalu menemani Mami selagi Papi belum kembali. Abang sudah berjanji sama Papi. Mami segalanya buat Abang. Abang akan selalu mendampingi Mami kemana pun Mami pergi. Abang yang akan melindungi Mami. Abang janji! Jika ada orang yang ingin mencoba menyakiti Mami, maka Abang lah lawannya! Abang Janji Mi!'' ucapnya semakin erat memeluk tubuh Kinara yang sedang tersedu.


Kinara tidak menyahut, tetapi pelukannya di tubuh kecil Gading semakin erat. Kinara tidak bisa berkata-kata. Tetapi pelukan erat di tubuh Gading menandakan jika dirinya menjawab ucapan Gading.


Mami Alisa dan Papi Gilang yang berada di depan pintu menatap sendu pada putri bungsunya itu. ''Sudah.. jangan menangis. Kamu Mami nya. Kamu harus kuat. Hanya kamu yang bisa memberinya semangat. Putri kita sedang bersedih. Sebaiknya kita tetap disini. Kamu pun tetap disini ya Bang?'' pintanya pada Algi.


''Tentu, Abang akan disini selama Papi dan Mami disini. Lagipun, kalau Abang pulang. Sudah tidak ada lagi yang menunggu Abang dirumah kan?''


Berdenyut ngilu hati Mami Alisa dan Papi Gilang mendengar ucapan sang putra. ''Maafkan Papi, Nak.. Papi tidak bisa mencegah kepergian istrimu. Semua ini keinginan nya. Papi sudah berusaha mencegahnya. Tetapi tetap tidak bisa..'' lirih Papi Gilang dengan sendu.


Algi tersenyum tetapi senyum itu begitu tersirat sendu yang mendalam. ''Tak apa Pi.. inilah jalan takdir kehidupan rumah tangga Abang dan Tiara. Jika memang kami kelak berjodoh, sejauh dan sekuat apapun penghalang nya kami berdua pasti akan bersatu kembali. Abang berpegang teguh dari prinsip kalian berdua. Dulu, Mami dan Papi pun pernah berpisah bukan? Tetapi kalian berdua tetap bersatu bukan? Abang mengikuti langkah kalian berdua. Abang masuk dulu,'' imbuhnya dengan segera berlalu meninggalkan kedua orang tua yang semakin sedih karena melihay kisah hidup kedua anaknya yang sama sepeti mereka dulunya.


''Nasib kedua anak kita sana seperti kita, Pi.'' lirihnya dengan memeluk erat tubuh kekar Papi Gilang yang semakin matang di usianya sekarang ini.

__ADS_1


''Tak apa sayang. Kisah mereka memang seperti kita. Tetapi kisah kita bahagia pada akhirnya. Lihatlah kita berdua bahagia kan sekarang? Walau dulu kita selalu mengalami kejadian pahit sama seperti kedua anak kita?''


''Ya, semua itu akan indah pada waktunya. Semoga Algi bahagia setelah ini. Begitupun adek. Sangat terlihat dirinya begitu sedih setelah kepergian Ali, tadi. Semoga mereka berdua kuat menghadapi ujian pernikahan ini.''


''Ya, semoga saja. Ayo kiat pun harus istirahat. Satu jam lagi subuh, ayo!''


''Ya,'' sahut Mami Alisa.


Mereka pun menutup pintu kamar Kinara dengan pelan. Sedang Kinara mendengar kan semua ucapan saudara kembar dan ucapan kedua orang tuanya.


''Benar, aku harus kuat dan tegar. Ini ujian untukku. Aku harus kuat sampai Abang kembali. Lagipun, aku memiliki Gading di sisiku. Aku tidak akan sedih lagi. Walau terkadang hati ini begitu merindukan nya..'' lirih Kinara dengan mata yang sudah terpejam erat mengarungi lautan mimpi dan berharap bertemu dengan Ali di alam mimpi sana.


💕


Sebulan nunggu adek Kinara update, mampir yuk kesini.


__ADS_1


Noh, cus kepoin!


__ADS_2