
Dirumah Lana, Malda dan ke empat adiknya saat ini sedang menangis tersedu.
"Kak?"
"Hum? Bobok aja ya? Jangan dengarkan Mami dan Papi. Mereka mungkin sedang ada masalah saat ini. Kita anak kecil tidak boleh tau akan hal ini." jawab Malda memotong segala pemikiran yang ada di benak ke empat adiknya saat ini.
"Lalu apa yang akan terjadi Kak, kalau mereka ribut seperti itu? Apakah mereka akan pergi dan berpisah lagi? Adek nggak mau Kak. Cukup sudah selama enam tahun ini kita terpisah? Adek nggak mau lagi kayak gitu Kak.." lirih Zia yang kini sedang memeluk erat tubuh Malda itu.
"Kita cukup berdoa dek. Doakan supaya mereka berdua tidak lagi bertengkar seperti itu. Kalian berdua harus kuat ya? Ingat yang selalu kakak ajarkan kepada kalian berempat. Besok, kakak harus pergi kembali ke Malaysia. Kakak sudah di tunggu disana. Jaga diri baik-baik. Kakak akan lama untuk bisa kembali lagi kesini. Tetapi kalian tenang saja. Kakak kan punya ponsel? Maka dari itu, kalian harus sering-sering menghubungi kakak agar kakak tidak kesepian disana sendirian. Papi Lana dan Papi Ali pasti akan kembali lagi kesini setelah mengantarkan kaka kesana. Nggak mungkin dong beliau meninggalkan kalian terlalu lama? Belum lagi kakak pergi mereka saja sudah ribut seperti itu. Lalu, bagaimana kalau misalnya mereka tetap menemani kakak disana? Yang ada mereka berempat nantinya akan terus ribut seperti itu. Kakak nggak mau itu terjadi di dalam keluarga kita." Ucapnya membuat Zia dan Malik tertegun mendengar ucapan Kaak sulungnya itu.
"Lalu, apa yang harus kakak lakuakn agar keduanya tidak bertengkar lagi seperti itu?" tanya Malik karena merasa penasaran dengan rencana Kakak sulungnya itu.
__ADS_1
Malda tersenyum, ia mengusap kepala Malik dan mengecup sekilas rambut hitam lebatnay itu.
Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kedua adiknya yang sudah besar itu.
"Kakak akan pergi tetapi tanpa sepengetahuan mereka berempat. Kakak tidak ingin membawa masalah di dalam rumah tangga mereka. Bukankah mereka berempat baru saja berkumpul?"
"Iya sih. Terus?"
Malda tersenyum saat mendengar ucapan Adik lelakinya itu. "Kakak akan pergi malam ini sendirian. Kakak akan menghubungi pengawal setia Ayahanda untuk menemui Kakak di persimpangan komplek perumahan kita ini. Dan ya. Cukup kalian berdua yang tau. Jangan katakan apapun besok paginya kepada mereka berdua. Paham?"
Malda tersenyum lagi. Senyum manis yang begitu memabukkan bagi seorang pemuda jika menatap lekat padanya.
__ADS_1
Tetapi tidak dengan kedua bocah itu, mereka malah semakin menyayangi kakak sulung nya itu.
"Sekarang kakak tanya sama kalian berdua. Kalian memilih jujur tetapi melihat Papi dan Mami bertengkar lagi. Atau kalian berbohong demi melindungi mereka berdua?"
Kedua saudara kembar itu mematung di tempat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Malda pada mereka berdua.
Keduanya menatap Malda dengan dalam. "Bagaimana? Apa yang akan kalian pilih? Kalau kakak sih pilih berbohong tetapi mereka berdua tetap akur. Walau nantinya mereka berdua akan panik dan juga ribut, tetapi itu hanya sebentar. Daripada mereka ikut mengantar Kakak tetapi keduanya tetap bertengkar hingga nantinya mereka balik lagi kesini setelah mengantarkan kakak ke Malaysia?"
Lagi, kedua adiknya itu tidak bisa berkata apapun. Karena pilihan yang Malda berikan memanglah berat untuk mereka berdua yang masih kecil.
Malda tersenyum tetapi hatinya sesak melihat kedua orang tua nya bertengakar karena kepergian diri nya besok pagi.
__ADS_1
Malda bukanlah anak kecil lagi. Ia tau apa yang menjadi masalah pada kedua orang tua nya itu.
Malda sudah memikirkan ini matang-matang. Walau dirinya harus sedih karena akan pergi tanpa berkabar, tetapi itu lebih baik asalkan kedua oarng tua nya itu akur kembali.