Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kepulangan Ali


__ADS_3

Di Bandara Kuala Namu.


Seorang pemuda yang selama lima tahun ini tinggal di Arab Saudi baru saja tiba di bandara kula namu Medan, kini ia sedang berjalan dengan menyeret kopernya.


Ia menyalakan kembali ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Ya, waalaikum salam. Ya, saat ini saya sudah di bandara. Dua jam lagi saya tiba disana. Terus pantau situasinya. Saya yakin kamu pasti bisa menangani hal seperti itu." katanya pada seseorang di seberang sana.


"Hem, waalaikum salam.. Hah. Abang pulang sayang. Tunggu Abang. Abang akan menjemputmu!" imbuhnya dengan senyum manis yang terus tersungging di bibir tipis itu.


Satu buah sedan sudah menunggu nya disana. Dengan segera ia masuk dan mulai melajukan mobil itu menuju tempat yang ia tuju.


"Kemana kita komandan? Ke rumah istri Anda? Atau??"


"Ke komplek perumahan Indah Permai!"


"Baik!" sahutnya dengan segera melajukan mobil itu membelah jalanan Bandara dan ingin ke tempat tujuan.


Sementara di rumah Mami Alisa dan Papi Gilang, hawa rumah itu semakin tidak tenang. Sangat menakutkan.


Tetapi tidak untuk anak-anak Kinara. Ke empat anak itu kini bangkit dan menuju ke depan pintu dengan Gading di depan mereka semua.


Kinara dan Lana menatap heran pada ke empat anak-anak itu yang berdiri di depan dengan tubuh tegap dan mata lurus menatap ke depan.


"Maafkan jika kedatangn kami kesini membuat keluarga anda jadi tidak tenang saat ini. Saya hanya ingin bersilaturahmi sekaligus ingin menanyakan hal penting ini kepada Nak Kinara selaku yang bersangkutan." Ucap papa Adam membuka suara.

__ADS_1


Kinara diam saja. Matanya tetap melihat ke empat anaknya yang berdiri terpaku di depan pintu.


Lana pun demikian. Ia merasa ada sesuatu. Tapi tidak tau ada apa. Yang jelas ke empat anak Kinara itu seperti tau akan terjadi sesuatu dirumah itu.


Karena hal ini sudah lama terjadi dan Lana sangat paham akan hal ini.


Papi Gilang menghela nafasnya saat melihat Kinara yang tidak mendengar ucapan dari Jendral Sudirman baru saja.


"Nak, Papi tau. Kamu belum bisa melupakan Ali. Tetapi ini sudah enam tahun lebih sudah berlalu. Ali tidak ada kabarnya sama sekali. Papi mohon.. Lupakan Ali. Dan jalani hidupmu dengan baik. Tidakkah kamu lihat ke empat anakmu itu yang membutuh sosok seorang Ayah? Sadar Nak. Ali sudah tiada," lirihnya dengan sendu menatap Kinara yang tidak bergeming sama sekali


Semuanya menatap Kinara. Menunggu jawaban darinya. Lana yang mendengar ucapan sang Papi pun ikut angkat bicara.


"Maaf jika saya ikut campur jendral. Boleh saya tau, siapa diantara kalian disini yang menyuruh kalian untuk melihat Kinara menikah lagi sementara suaminya saja belum jelas kabarnya seperti apa?"


Semuanya diam. Termasuk Papi Gilang. Pertanyaan Lana sangat sulit untuk ia jawab. Karena beliau pun ikut andil di dalamnya.


Kinara menoleh pada Adam dan menatapnya dengan datar. Lana terkekeh sumbang. "Iyakah? Lantas bagimana kalau seandainya Ali tiba-tiba saja pulang disaat kita menikahkan Kinara dengan Adam? Apa yang akan kalian lakukan saat itu? Sanggupkah kalian melihat adik ku menderita karena kehilangann suaminya untuk yang kedua kalinya? Sanggupkah kalian mengembalikan kebebahagiaan nya sementara yang Kinara inginkah hanya suaminya saja? Apa yang akan anda lakukan saudara Adam jika sampai suami Kinara kembali? Apakah kamu juga akan tetap menikahi istri orang?"


Deg!


Deg!


Bagai sembilu menusuk relung hati Adam. Ia menatap datar pada Kinara dan Lana.


Sementara ke empat anak itu berjingkrak senang saat melihat cahaya dan lampu di jam tangan mereka semakin kencang berkedip dan berbunyi.

__ADS_1


Mereka berlari ke depan pagar dan spontan saja Kinara berdiri. Tatapan mata itu menatap mereka dengan dalam.


Mami Alisa yang melihat Kinara berdiri segera menarik tangannya untuk segera duduk. Kinara menurut.


Ia kembai duduk, tetapi mata itu tetap awas ke depan melihat ke empat anaknya berlari seperti melihat sesuatu.


"Jawab Adam. Apa yang akan kamu lakukan jika suatu saat suami Kinara kembali tetapi saat itu kamu sudah menikahinya? Bisa kah kamu mengembalikan Kinara pada kehidupan dan cintanya?" tanya Lana lagi.


Adam tetap tidak menyahut. Ia tetap fokus menatap Kinara. "Saya akan bertanya dulu kepada Kinara, jika diperbolehkan." Ucap Adam pada Lana


"Silahkan!"


"Kinara.. Apakah kamu masih menginginkan suamimu? Sementara dirinya saat ini sudah tidak ada lagi? Bukankah kamu sudah mendengar sendiri jika suami kamu sudah tewas saat bertugas? Lalu apa yang kamu tunggu?" tanya Adam pada Kinara yang kini semakin serius menatap ke depan sana.


Tap, tap, tap.


Kinara spontan berdiri.


Deg, deg, deg..


"Abang..."


Deg!


Deg!

__ADS_1


Semua yang ada disana terpaku di tempat saat Kinara memangiil satu kata itu.


__ADS_2