Penantian Kinara

Penantian Kinara
Terdampar


__ADS_3

Filipina.


Satu tahun sudah berlalu sejak dimana dirinya jatuh kelaut Papua yang tak berdasar dan tak berujung.


Kini seorang pemuda tampan wajah khas Indonesia sedang sibuk membantu seorang nenek tua berdagang.


Sedari pagi mereka sudah berdagang keliling tetapi belum ada yang membeli. Pemuda tampan itu menghela nafas berat.


Sang nenek yang duduk disebelahnya kini terkekeh kecil melihat pemuda tampan itu berulang kali mendengus saat ada seorang gadis sengaja mendekati dirinya.


"Kenapa sih? Harus di ikuti terus oleh cewek itu?!" ketusnya pada sang Nenek yang kini tertawa melihat wajah juteknya.


"Biarkan saja Al. Jika mereka sudah lelah pastilah akan letih sendiri!" jawabnya masih dengan tertawa saat melihat wajah masam pemuda tampan cucunya itu.

__ADS_1


Al mendengus lagi, "ya kali tiap hari Nek! Apa mereka itu nggak capek apa? Harus ngikutin aku mulu? Kesel nek! yang kayak aku ini buronan aja!" ketusnya lagi Yang membuat sang Nenek semakin tertawa.


"Bukan buronan Nak. Tetapi pendatang yang tersesat kesini. Hem.. Apa kabar dengan keluarga kamu di indonesia Al? Apakah kamu tidak memiliki keinginan untuk pulang?" tanya sang Nenek pada cucu nya tampannya itu.


Pemuda tampan itu melamun. Mendadak mata itu sayu dan sendu. Sang Nenek bisa melihatnya walau bibir tipis itu tersenyum manis padanya.


"Siapa sih Nek, yang tidak merindukan keluarga di Indonesia? Nenek pun sama Kan? Bahkan kita berdua itu sama. Kita sudah di anggap mati oleh seluruh keluarga kita!"


"Tetapi tidak dengan istrimu!"


Nenek tersenyum, "Kamu merindukannya. Bahkan sangat merindukan mereka. Tak apa. Pulanglah. Nenek tidak apa disini. Nenek akan menunggu Kakekmu. Karena inilah perjanjian kami berdua..." lirih wanita tua itu menitikkan air matanya


Al menghela nafas panjang. "Jika Nenek bersikeras dengan pendirian Nenek. Maka Al pun demikian. Kita tunggu kakek kembali, baru setelahnya kita bersama pulang ke Indonesia." Tegasnya sambil memeluk sang Nenek yang terisak di pelukannya.

__ADS_1


Wanita tua itu menggeleng. "Itu akan sangat lama, Nak! Entah dimana keberadaannya saat ini. Ia berjanji akan pulang setelah dua tahun berlalu. Tetapi tidak juga. Ini sudah lima belas tahun nak. Lima belas tahun. Entah kah hidup ataupum mati, Nenek tidak tau Nak." isaknya di dada bidang cucunya itu.


Lebih tepatnya cucu angkatnya yang baru saja ia angkat satu tahun ini.


Saat dirinya ditemukan oleh seorang nelayan di pesisir pantai dalam keadaan terluka parah, nenek itu lah yang merawatnya.


Karena ia bisa mengenali dari seragam tentara yang ia pakai waktu itu. Seragam yang sama saat suami Nenek itu pergi dan tidak pernah kembali lagi.


Ada yang mengatakan jika suaminya itu terdampar ke Filipina. Makanya beliau menyusulnya hingga menjadi warga negara Filipina demi mencari sang suami yang kini entah berada dimana keberadaannya.


"Sudah Nek. Al akan tetap disini kok menemani Nenek entah sampai kapan. Yang Jelas, kita akan pulang ke Indonesia setelah Kakek Raja kembali. Kalaupun beliau masih hidup, pastilah saat ini beliau sedang menacri Nenek. Maka dari itu, tunggulah."


"Tetapi istrimu sedang menunggumu disana Al!"

__ADS_1


"Al tau Nek. Ia berada di dalam keluarga yang begitu meyayangi dan melindunginya. Apalagi Abang sulungnya. Ia pasti rela melakukan apapun untuk adik kesayangannya itu. Jadi Nenek tidak usah khawatir ya? Al akan sabar menemani Nenek disini. Jika bukan karena Nenek yang waktu itu cepat menolong Al, mungkin Al sudah tiada beneran saat ini Nek.." lirihhnya begitu menyayat hati sang Nenek.


__ADS_2