
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu sunyi senyap dalam seketika. Apalagi Maura. Bibir itu terasa kelu walau hanya sekedar untuk berbicara.
Ia menatap nanar pada sang suami yang begitu tega melepaskannya. Padahal tadi, ia cuma mengancam Lana saja.
Tak taunya, Lana benar-benar mengabulkan permintaannya. Ia mununduk. Maura kalah saat ini.
Ternyata apa yang ia takutkan sedari tadi memanglah benar adanya. Maura menatap nanar pada kedua adiknya yang kini menatapnya dengan rasa bersalah.
Mereka berdua pun tidak bisa berbuat apapun saat ini. Mereka tidak bisa membela Maura. Karena mereka tau Maura bersalah dalam hal ini.
"Tetapi kenapa Lis? Apakah kesalahan yang Maura lakukan begitu fatal? Apakah tidak ada jalan keluar lagi? Apakah tidak bisa dibicarakan secara baik-baik? Lana.. Ada apa ini? Kenapa kamu hanya diam? Kenapa? Apa putri Abi begitu besar kesalahannya hingga kamu tega mengembalikannya lagi kepada Abi? Bagimana dengan ke lima anakmu? Siapa yang akan mengurusnya jika kamu berpisah dengannya? Dan juga.. Bukankah si kembar masih menyusu??" tanya Abi Madan pada Lana dan juga Mami Alisa.
__ADS_1
Papi Gilang menghela nafasnya. "Maafkan kami jika kami begitu membuatmu terkejut. Tetapi inilah keputusan kami. Keputusan final yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Semua ini sudah kami pertimbangkan dengan baik," jelas Papi Gilang yang semakin membuat Abi Madan kebingungan.
"Ada apa Gilang? Bisa kamu jelaskan?"
"Tentu, Bang. Untuk itulah kami memanggil mu kesini. Untuk semua pertanyaan mu kenapa dan ada apa, lihatlah apa yang ada di dalam ponsel ini. Semuanya jelas disini. Setelah kamu melihatnya, kami harap kamu bisa menerima keputusan kami Bang Madan. Bukan maksudku ingin memisahkan anak-anak kita. Hanya saja.. Lebih baik Lana mengalah daripada adik kandungnya terluka karena kedua putrimu tidak terima jika suami Kinara. Ali jabel al Bashri lebih memilih putri bungsu ku. Untuk itu, Lana sudah mengambil keputuan dan keputusan itu demi kebaikan mereka berdua dan juga anak-anaknya. Lihatlah apa yang ada di dalam ponsel ku ini. Nanti kamu akan tau apa sebabnya dan kenapa baru sekarang," ujar Papi Gilang sembari menyerahkan ponsel miliknya yang berisikan rekaman cctv tentang kelakuan Maura selama Lana bertugas di Papua.
Dan juga saat Lana sudah kembali. Abi Madan mengambil ponsel itu. Ia membuka rekaman cctv yang memang sudah di buka oleh Papi Gilang.
Ia pun beringsut untuk pindah tempat untuk melihat isi rekaman di ponsel itu.
Ddduuuaaarrr..
__ADS_1
Maura terhuyung ke samping. Ia limbung. Untung saja ada Faiz yang memeganginya. Jika tidak, pastilah jatuh ke belakang kursi dengan posisi terjengkang.
Lana tetap tidak melihatnya. "Sudah jelaskan? Apa sebab dan musabab nya? Lana mengalah, demi kebahgaian adiknay ia rela melepaskan seseorang yang begitu ia cintai. Sekarang mereka sama. Jika Kinara seorang janda karena kehilangan suaminya saat bertugas. Dan Lana menjadi Duda demi melindungi adiknya dari sang istri yang dengan segaja menyerang adiknya tanpa belas kasih. Belum lagi saat hamil dan melahirkan pun Maura tidak bisa dikondisikan lagi. Lana sudah lelah menegur Maura. Maura tetap tidak mau. Ia malah mengancam Lana denagn mengatakan Maura memilih berpisah dengannya jika Lana lebih mementingkan Kinara," jelas Papi gilang yang membuat ke empat orang itu terdiam tanpa kata.
Semua bukti sudah terlihat jelas di dalam rekaman itu.
Apa yang bisa mereka perbuat jika itu memang kesalahan Maura. Abi Madan menatap datar pada maura yang kini membeku di tempat dengan air mata terus mengalir deras di pipinya.
"Inikah yang kamu katakan tadi pada Abi, Maura? Inikah yang ingin kamu coab katakan? Kamu ingin memutar balikakn fakta? Sungguh, abi kecewa sama kamu! Abi pikir, kamu tidak akan sama dengan Ummi kamu! Tetap saja. Buah itu tidak jauh jatuh dari pohonya! Dan itu yang sekarang kamu lakuakn Maura Putri Kartika. Kamu egois! Kamu menghalalakan segala cara agar nafsu mu terlampiaskan untuk menyakiti adikmu! Sungguh, Abi sangat kecewa padamu maura, sanagt kecewa. Dan kepada kalian berdua! Sekarang terserah kepada Lana dan Gilang saja. Abi pasrah!" ucapnya begitu sesak.
Ia tersender di sofa ruang tamu milik Lana. Lana tidak ingin melihat siapa pun. Ia tetap memilih menunduk. Itulah yang menjadi keputusannya saat hamil dan juga sekarang.
__ADS_1