Penantian Kinara

Penantian Kinara
Dirawat


__ADS_3

Setelah sambungan ponsel kedua nya terputus, kini Lana sedang berada di dapur membantu Maura yang sedang memasak rendang jengkol, ikan asin dan juga telur balado Kesukaan Papi Gilang.


''Sudah siap semua nya??'' tanya Lana pada Maura.


Maura mengangguk, ''Alhamdulillah, sudah semua Bang. Hanya tinggal dimasukkan ke dalam rantang saja,'' jawab Maura


Ia mengambil rantang dan mengisi semua makanan itu ke dalamnya. Sedangkan nasi ia pisah dan dimasukkan dalam rantang lainnya.


Setelah beres, Maura dan Lana beranjak ke kamar untuk bersiap sebelumnya Lana menghubungi Ali untuk menahan mereka bersama kerumah sakit.


''Abang hubungi Ali sama adek dulu ya, sambilan nungguin kamu mandi.'' kata Lana pada Maura.


Maura mengangguk. Kemudian ia pun berlalu masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk dan baju ganti sekalian.


Sementara Lana segera menghubungi Ali.


Tut.


Tut.


Tut.


Tut.


''Ishh.. kemana sih ni anak? Kok nggak diangkat? Coba lagi sekali lagi, kalau nggak di angkat juga ku dobrak pintu rumahnya!'' gumam Lana sambil tangan mendial kembali nama Ali di ponsel miliknya.


Tut.


Tut.


Tut.


Ali yang sedang terlelap dalam tidurnya bersama Nara mengerjabkan matanya. Ia mendengar suara berisik dari ponsel miliknya.


Ia mengambil dengan sebelah tangan karena Nara masih berada di dalam pelukannya. ''Bang Lana?? Ehem, hallo Assalamualaikum Bang??''


''Waalaikum salam, kok lama sih?! Kamu sama adek ngapain aja?!'' seru Lana begitu kesal

__ADS_1


''Kami nggak ngapa-ngapain Abang. Kami cuma kelonan berdua aja. Bingung harus buat apa, sementara Nara sangat panas suhu badannya. Ya.. terpaksa di kelon lah Bang! Gimana sih? Abang lupa ya pelajaran ketika kita SMA dulu kayak gimana??'' jawab Ali begitu panjang membuat Lana melototkan matanya.


''Heh! Bangun nggak! Bangunin adek juga! Kita ke rumah sakit! Algi kecelakaan! Sekarang, Abang tunggu dirumah! sekalian bawa adek juga biar sama dirawat di rumah sakit! Paham?!'' kata Lana pada Ali dengan suara naik satu oktaf


Ali memutar bola matanya malas. ''Ck! Abang ngegas ngomong nya! Bilang aja iri sama aku, iya kan??'' Ledek Ali.


Ia sengaja meledek Lana agar Abang ipar sekaligus rekan dan sahabatnya itu semakin kesal padanya.


''Diam kamu Jaber!!! Abang pecat jadi adik ipar mau kamu?!'' ketus Lana pada Ali.


Ali tertawa terbahak. ''Iya, iya, Abang ku yang tampan dan keren sejagat raya... ini mau bangunin adek dulu. Udah, aku tutup. Waalaikum salam!''


Tut!


Sambungan ponsel itu terputus sepihak dari Ali. Lana melototkan matanya. Maura yang baru saja siap mandi, terkekeh melihat wajah juteknya Lana pada Ali.


''Hahaha.. udah ih! mandi sana. Nggak akan ada habisnya kalau berdebat sama Ali. Dia itu sebelas dua belas sama Abang! Jadi, jangan heran jika tingkah nya juga mengesalkan seperti itu,'' ucap Maura pada Lana.


Lana menghela nafasnya. ''Ya, Abang mandi.''


Lana terkekeh, ''Karena yang basah itu lebih menyenangkan!'' kata Lana sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Maura.


Maura tersipu malu.


Sedangkan dirumah Ali dan Nara. Pasangan pengantin baru itu masih saja bergelung dalam selimut.


Ali menatap Nara yang masih terlelap di dalam pelukan nya. ''Kamu sangat cantik! Abang beruntung bisa mendapatkan mu! Bangun sayang.. kita ke rumah sakit ya? Algi masuk rumah sakit.. bangun sayang ku! Cup!''


Nara menggeliat kan badannya yang masih dalam pelukan Ali. Ada sensasi aneh saat tubuh mereka berdempetan seperti itu. Ali memejamkan kedua matanya saat Nara mencoba bergerak di dalam dekapannya.


''Ehem.. udah jam berapa Bang??'' tanya Nara masih dengan mata terpejam.


Ali Terkekeh, ''Sudah hampir ashar sayang.. bangun. Kita sholat dulu. Setelah nya kita kerumah sakit, hem??''


Nara mengangguk. Ia mencoba untuk bangun. Kepalanya masih berdenyut sakit. Ali mengikuti Nara yang berusaha untuk duduk.


''Nggak usah mandi ya?'' Nara menggeleng.

__ADS_1


''Harus mandi Abang.. badan adek bau masam! Nggak enak ih! Ke rumah sakit dengan bau keringat kayak gini. Tadi panas adek tinggi banget ya? Sampai Abang peluk gitu?''


Ali tersenyum, ''Sekarang panas nya udah hilang. Ayo, Abang bantu! Abang gendong aja ya biar cepat.'' Katanya pada Nara.


Nara menurut.


Mereka berdua masuk ke kamar mandi dan mandi dengan air hangat terutama Nara. Setelah selesai, mereka berdua berwudhu karena sudah memasuki waktu ashar.


Mereka sholat berjamaah bersama. Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah selesai. Mereka keluar dari rumah bertepatan dengan Lana dan Maura juga baru saja keluar dari rumah mereka.


Ali dan Nara menuju rumah Lana yang bersebelahan. Melalui pagar samping, mereka bertemu disana. Setelah itu mereka berempat menaiki mobil Pajero milik Lana dan menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Algi sekalian merawat Nara yang kuah masih demam.


Di perjalanan, Lana terus saja mengomel pada Ali. Nara dan Maura hanya bisa terdiam. Jika menyahuti pun, Lana akan bertambah kesal nantinya.


Ali yang sedang menjadi supir hanya terkekeh dan terkikik geli kala mendengar ucapan Lana begitu ketus padanya.


''Kamu itu gimana sih? Hampir satu jam Abang nungguin kamu! Kamu malah enak-enak and kelonan! Orang lagi khawatir, dianya sibuk bermesraan!'' ketus Lana begitu kesal kepada Ali.


Ali terkekeh, ''Kan udah halal Bang? Nggak ada yang larang loh.. udah ijab kok sama Papi. Jadi apa salahnya suami istri jika tidur berdua an dan bermesraan? Kalau belum sah, cocok Abang marah sama aku. Lah ini?''


Lana berdecak, ''Ck. Diam kamu Jaber! Adek Abang itu lagi kecelakaan dan masuk rumah sakit! Belum lagi Nara! Jika Algi sakit, maka Nara pun sama! Kamu tau kenapa bisa Abang memilih menikah sekarang??'' tanya Lana pada Ali dengan tatapan kosong nya.


Ali menghendikkan bahunya. Lana menghela nafas nya. ''Semua itu karena Nara!''


Deg!


Nara yang sedang memejamkan matanya seketika terbuka lagi. Maura pun begitu. Kini ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi senyap karena mendengar ucapan Lana.


''Maksud Abang??'' tanya Ali, ia menoleh sekilas pada Lana setelah nya ia kembali melihat ke depan lagi.


Lana menerawang jauh ke depan. ''Semua ini karena janji Abang sama Nara. Dulu, ketika adek berumur tujuh tahun adek pernah jatuh bersama Abang dengan naik motor. Waktu itu, tanpa sengaja Abang melindas lubang hingga kami berdua terjatuh. Adek pingsan. Dan Abang bawa kerumah sakit. Mak sama Papi sangat panik waktu itu. Sempat Mak ngamuk sama Abang. Beliau bilang, Abang boleh menikah jika Nara sudah menemukan calon pendamping hidupnya.''


''Abamg boleh menikah dengan Maura, saat adek juga sudah memilki calon suami. Abang termenung memikirkan hal itu. Berarti Abang udah tua dong kalau nunggu adek dapat jodohnya? Tapi apa yang Mak bilang selanjutnya membuka mata Abang.''


Lana menghela nafasnya. "Mak bilang, adek Nara yang paling bungsu. Jadi ia harus ada yang jaga. Sebelum ia menikah, tugas itu Abang kah yang memegang nya. Selagi calon Nara belum ada, Abang bertanggung jawab terhadap hidupnya. Maka dari itu, Abang menunda lagi pernikahan Abang bersama Maura. Dan kejadian dua tahun lalu itu merupakan salah satu takdir Abang dengan Maura yang terhubung langsung dengan mu, Ali."


Ali dan Nara tertegun. Begitu juga dengan Maura. Ternyata pernikahan mu ituepmmg sudah di tentukan oleh takkdir. Semua ini. terhubung dengan takdir Nara. Yaitu Ali.

__ADS_1


__ADS_2