Penantian Kinara

Penantian Kinara
Sedih


__ADS_3

Setelah pembicaraan itu, kini Kinara lebih banyak diam. Ali pun tidak berani berbicara lagi. Waktu sudah sore. Dan mereka pun sudah di perjalanan saat ini.


Sepanjang perjalanan Kinara tertidur dengan wajah sembab karena terus menangis. Menangisi Ali yang akan pergi meninggalkan nya untuk yang kedua kalinya.


Ali memegang erat stir kemudi saking sakit hatinya saat melihat sang istri sedih karena ulahnya.


Tetapi apa yang harus ia perbuat, jika itu yang harus terjadi padanya?? Ali hanya bisa pasrah saat ini. Sisa waktu dua puluh hari lagi ini akan Ali manfaatkan sebaik mungkin dengan Kinara.


Ia hanya ingin meninggalkan kenangan manis untuk sang istri agar tidak selalu bersedih karena kepergian nya.


Dua jam lebih, kini mereka berdua sudah tiba di kediaman nya. Diluar rumah Lana sudah nampak dua mobil sedan pertanda jika Jendral Sudirman dan istri sudah datang. Begitupun dengan anak-anak nya.


Ali menghela nafas pelan. Ia membuka selbert Kinara dan turun untuk membawa masuk ke dalam rumah. Ali tidak ingin ke rumah Lana.


Ia hanya ingin bersama istri kecilnya saja. Kinara membutuhkan nya saat ini. Ali membuka pintu dan mengangkat Kinara menuju rumah mereka.


Kinara tersentak saat merasakan tubuhnya melayang. Mata sembab itu terbuka. ''Abang?'' panggilnya pada Ali.


Ali tersenyum, ''Ya sayang. Kita udah sampai rumah.'' sahutnya dengan terus berjalan ke depan pintu rumah mereka.


Sedangkan Maura yang mendengar suara mobil di depan pintu rumah adik iparnya itu segera memanggil Lana.


Kabar pun keluar langsung menuju kerumah Kinara dan Ali. Ia berdecak sebal saat mendapati sang adik sedang di gendong ala bridal style oleh Ali.


''Kalian itu darimana? Abang nyariin kalian loh sedari tadi pagi? Kerumah dulu ya? Ada tamu yang ingin bertemu dengan mu. Terutama kamu Ali. Adek harus ikut. Ini bersangkutan denganmu!'' ucap Lana dengan segera berlalu meninggalkan Ali dan Kinara yang mematung karena ucapan Lana baru saja.


Mata Kinara berkaca-kaca. ''Ya udah, kita kesana dulu ya? Sholat disana aja yuk? Nggak enak sama Abang, ya?'' bujuk Ali pada Kinara.


Kinara hanya bisa pasrah. Tanpa menurunkan Kinara dari pelukan nya, ia berjalan menuju rumah Lana.


Tiba di depan pintu rumah Lana, Ali menurunkan Kinara dengan pelan. Tubuh Kinara sempoyongan.


''Hati-hati sayang! Abang pegang, ayo!'' katanya pada Kinara yang hampir limbung karena tubuhnya sangat tidak bertenaga saat ini.


Mereka berdua masuk setelah mengucapkan salam. Terlihat jika Jendral Sudirman dan istri sedang menatap mereka dengan tersenyum. Begitupun dengan ketiga anaknya.


Tetapi tidak dengan putra bungsu Jendral Sudirman.

__ADS_1


''Kinara??''


Deg!


Deg!


Salahnya membuat Kinara mendongak. Ia yang tadinya masih pusing, bertambah pusing dan terkejut saat melihat ada sahabat nya disana.


''A-adam!'' seru Kinara dengan tergagap.


Tiba-tiba saja mata itu ingin terpejam. Ali panik. ''Astaghfirullah! Sayang! Bangun! Hei, lihat Abang! Abang masih disini! KINARA!''


Deg!


Deg!


Jantung Lana dan Adam berdenyut tak karuan saat melihat Ali menyentak Kinara. Mata Kinara terbuka. Dengan cepat tubuh ringkih itu memeluk Ali dengan erat hingga rasanya sulit untuk bernafas.


Ali mematung dengan mata menatap seluruh tamunya Lana. ''Hiks.. hiks.. Abang nggak boleh pergi! Abang nggak boleh pergi! Kenapa harus pergi lagi disaat Abang sudah kembali?! Tidak cukupkah selama satu setengah tahun ini Abang meninggalkan ku!!!'' seru Kinara dengan suara meninggi.


Lana, Adam, dan kelima orang lainnya terkejut bukan main mendengar ucapan Kinara yang begitu menyayat hati.


Semua yang ada disana panik melihat nya. Mereka ingin bangkit, terutama Adam. Tetapi di cegah oleh Papa nya. Beliau menggeleng. Lana dan Maura mendekati Kinara dan Ali yang saat ini sedang menangis sambil berpelukan.


''Dek...'' panggil Lana dengan suara tercekat. Ia tidak sanggup melihat Kinara bersedih seperti itu. Maura pun demikian.


Ia pun ikut menangis melihat kerapuhan Kinara. ''Sayangku... bangun dulu. Ayo kita duduk, hem?'' bisik Ali di telinga Kinara.


Tetapi Kinara tidak peduli. Ia hanya ingin memeluk erat tubuh kekar Ali yang selama sebulan ini selalu memeluknya saat tidur. Hangat dan nyaman menelusup ke relung hatinya yang sedang bersedih saat ini.


Ali tidak tau harus bicara apa. Sungguh, kepergian nya kali ini begitu berat. Seperti akan terjadi sesuatu, tetapi entah apa.


Belum lagi mimpi itu selalu menghampiri Ali. Dimana ia selalu melihat Kinara menangis dan meraung di tepi jurang dengan terus berteriak memanggil namanya.


Sedang dirinya tidak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa menatap Kinara di dalam jernihnya air yang membawanya semakin tenggelam ke dasar laut.


Mengingat itu Ali semakin erat memeluk tubuh Kinara. Istri kecilnya. Ia semakin tersedu. Tak kuat rasanya meninggalkan Kinara begitu saja.

__ADS_1


Sungguh, hal terberat bagi Ali sekarang ialah meninggalkan Kinara. Suasana yang tadinya hangat kini menjadi sedih dan pilu.


Adam yang tidak tahan pun ikut menangis. Ia juga tidak sanggup melihat cinta nya itu menangis tersedu seperti itu. Belum lagi, hatinya begitu sakit saat melihat cintanya itu memeluk tubuh pria lain yang kini sudah menjadi suaminya.


Adam sangat terluka saat ini. Tetapi apa yang harus ia perbuat selain hanya bisa menangis. Sang Mana yang duduk disampingnya kini memeluk erat tubuh putra bungsunya itu.


Jendral Sudirman pun tidak bisa berbuat apapun. Karena mereka datang pun ingin memberitahukan keputusan tentang keberangkatan mereka yang semakin di percepat.


Mengingat jika di Papua sana semakin tidak terkendali selama mereka berdua pulang ke tanah air.


Ali masih dengan setia memeluk erat tubuh Kinara. Keduanya kini menangis tetapi tidak sekuat tadi hingga yang di ruangan itu pun ikut menangis.


Ali mengurai pelukannya dari tubuh Kinara. Kinara masih saja terisak dengan air mata bercucuran.


''Sayang, dengarkan Abang!'' ucapnya pada Kinara.


''Abang akan pergi tetapi untuk kembali. Bisakah kamu berjanji satu hal sama Abang, Kinara??''


Deg!


Entah kenapa hatinya merasa tidak nyaman dengan apa yang akan Ali katakan padanya. Mata sembab nan sayu itu memandang Ali walau dengan terisak.


''Abang akan pergi jika kamu mengizinkan! Tetapi jika tidak, maka Abang tidak akan pergi! Dan kalaupun Abang pergi, bisa kah kamu berjanji satu hal sama Abang?''


Kinara tidak menyahut, tetapi mata itu tetap menatap Ali. ''Jika suatu saat Abang bertugas tetapi tidak kembali, maukah kamu menunggu dan menanti kepulangan Abang??''


Deg!


Kinara semakin tidak nyaman dengan ucapan Ali. Seluruh tubuhnya bergetar. Tetapi ia tetap menahannya.


''Bisa kamu berjanji sayang?? Kalau suatu saat terjadi sesuatu pada Abang, dan Abang tidak kembali ke sisimu. Bisakah kamu menunggu dan menanti kepulangan Abang?? Abang ingin minta ini saja darimu. Tidak yang lain. Abang hanya ingin kamu menanti kepulangan Abang. Apa kamu bisa Kinara Zivanna Bhaskara binti Gilang Bhaskara untuk menunggu dan menantu kepulangan Abang sampai kapan pun?? Walau Abang sendiripun tidak tau apakah Abang akan kembali nantinya??''


💕💕


Ada yang tau, apa kira-kira jawaban Kinara pada Ali? Pantengin terus ye?


Sambilan nunggu adek Nara update, mampir dulu yuk kesini.

__ADS_1



Noh, cus kepoin!


__ADS_2