
Lana masih berada di pelukan Papi Gilang saat merasakan ingin nya ia menahan Manisa mangga tapi di cocok bumbu rujak.
''Mak, mana manisan mangga nya? Abang ingin banget makanan itu..'' rengek Lana pada Mak Alisa.
Papi Gilang terkekeh. ''Ingin banget ya?''
Lana mengangguk cepat. ''Rasanya, liur Abang mau menetes membayangkan manisan mangga dicocol bumbu rujak! Hemm.. enaknya... nyam.. nyam..''
Mak Alisa dan Papi Gilang terkekeh. Termasuk othor. Ini ngidam teraneh yang pernah othor rasakan. Masa' iya pingin makan manisan mangga yang berwarna hijau tapi di cocol bumbu rujak! 🤣🤣🤣 Pengalaman anak ketiga. Yang sekarang! hihi..
Ali terkekeh kecil. Ia pun jadi kepikiran Nara. Ingin menghubungi, tapi waktu di Medan kan berbeda dari Papua.
Ali tersenyum-senyum sendiri. Mak Alisa terkekeh. Begitu juga dengan Papi Gilang. ''Ayo sayang. Berikan padanya. Ternyata keinginan menantu kita sama persis dengan keinginannya ya??''
Mak Alisa terkekeh lagi. ''Hooh. Kayaknya bakalan nyusul baby twins lagi nih!''
Hahaha...
__ADS_1
Papi Gilang dan Ali tertawa terbahak bahak melihat wajah Lana seperti orang bingung. ''Kalian kenapa? Ada yang aneh kah dengan Abang??'' tanya Lana sambil makan manisan mangga di cocol bumbu rujak.
Manis, pedas, asam begitu terasa di lidah Lana. Ali sampai meringis ngilu melihat nya. Ia bergidik ngeri membayangkan rasa asam dari buah mangga itu.
Tapi tidak dengan Lana. Ia begitu menikmati buah asam itu. Bagaimana tidak asam. Buah mangga itu baru satu hari di buat oleh Mami Alisa, sudah dibawa langsung ke Papua.
Ali sempat menggigit nya sedikit. Kecut. Ali meletakkan kembali. Mangga itu sesuai dengan pesanan Maura dua hari yang lalu. Biarkan asam Kata nya. Itu lebih enak.
''Lagi??'' tanya Mak Alisa pada Lana.
Lana mengangguk, ''Lagi. Abang mau lagi! Enak banget manisan di cocol bumbu rujak begini. Hemm.. apa Maura minta ini juga Mak?'' tanya Lana untuk memastikan. Mulut itu terus saja mengunyah.
Mami Alisa tertawa. ''Ya, karena dialah yang sangat ingin makanan ini. Bahkan sudah dua bulan ini ia selalu merepotkan adek kamu, Nara. Katanya lauk buatan Nara itu sangat enak. Berbeda dengan masakan nya sendiri. Padahal yang Mak tau selama ini, kalau Maura itu tidak pilih-pilih makanan. Dan ya, sempat terpikir oleh Mak. Apakah istri kamu hamil?''
''Dan untuk membuktikan nya, Mak datang kerumah mu bersama Algi. Saat itu Papi sedang meeting di luar kantor. Jadi terpaksa Algi yang mengantarkannya. Benar sekali dugaan Mak. Bahwa istri kamu itu sedang hamil. Mak baru datang langsung ia ingin rendang jengkol sama ikan asin buatan Mak. Sempat Mak melongo dibuatnya. Tapi setelah Mak mengingat mu, Mak tertawa terbahak. Sampai-sampai Maura menangis. Dikira Mak kerasukan euuyy!'' celutuk Mak Alisa yang membuat ketiga pria itu tertawa bersama.
Mami Alisa tidak pernah berseloroh seperti itu. Tetapi sekali seloroh, membuat tiga pria beda usia itu tertawa terbahak dibuatnya.
__ADS_1
''Hahaha.. ternyata cebong kamu sama kayak kamu Bang! Doyan sama jengkol! Kira-kira anak kamu nanti mirip kamu atau mirip rendang jengkol ya?'' goda Papi Gilang yang dihadiahi tepukan pedas tangan Mami Alisa di lengannya.
Plaaakkk..
Mami Alisa menepuk lengan Papi Gilang dengan kuat. Sementara Lana semakin merengut masam. Sama seperti buah mangga yang saat ini ia makan.
''Hahaha.. Abang manyun! Pasti anaknya ini perempuan sayang! Hahaha.. mudah mellow dia!'' celutuk Papi Gilang dan diangguki oleh Ali yang saat ini sedang makan makanan buatan Mak Alisa baru saja.
''Benar Pi! Abang sering kali ngambek sama aku, Mak. Haha..'' Ali ikut menimpali
''Hahaha.. pasti Maura ngidamnya yang laki-laki. Sedang kamu perempuan! Hahaha.. sama kayak Papi dulu!'' lanjut Papi Gilang lagi.
Ia sangat suka menggoda putra sulung Mami Alisa itu. Hingga membuat bibir pria dewasa itu mengerucut sebal.
Hahaha..
Suara gema tawa itu hingga terdengar keluar ruangan. Siapa pun yang mendengar nya, mereka pun ikut tertawa. Dasar Papi Gilang! Sama usilnya kayak Lana.
__ADS_1
Ingat saja dulu, saat mereka makan bersama. Bisa-bisa Mak Alisa di goda oleh Papi Gilang dan Lana. Hingga membuat wanita paruh baya itu kesal bukan main.
''Lana.. Lana. Semoga cepat sehat dan kembali bertugas. Nikmati saja masa-masa indah saat mengidam. Karena hal istimewa ini jarang terjadi kepada siapa pun. Hanya yang terpilih dan memiliki ikatan batin dengan sang istri begitu kuat maka terjadi lah hamil simpatik ini. Tidak mesti kembar. Satu pun bisa jadi hamil simpatik!'' celutuk dokter yang sedari kemarin mengurus Lana.