
Enam hari sudah berlalu.
Sejak enam hari itu juga Lana terus memantau rumah Kinara yang seperti tidak berpenghuni tetapi ada penghuninya di dalam sana.
Kinara sedari pukul empat tadi pagi, sat lamna masuk kerumahnya untuk sholat tahajud, langsung keluar rumah disaat Lana sudah masuk.
Hari ini merupakan hari Aqiqah dan juga penabalan nama untuk si kembar Kinara dan Lana.
Acara yang sama dilakukan dalam satu hari tetapi di tempat yang berbeda. Jika Kinara mengadakan aqiqahan itu di pesantren kenalannya.
Sedangkan Lana mengadakan aqiqahan di rumahnya sama seperti si kembar dan Maldalya dulunya yang dilakukan bersamaan dengan si kembar Malik dan Zia.
Rumah Kinara selama seminggu ini seperti tidak terurus. Jika malam hari hanya gelap gulita. Hanya lampu luar saja seagai penerangan.
Kinara memang sengaja melakukan hal itu. Agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi seluruh saudaranya.
Jangankan Lana yang gelisah, Kak Ira, Annisa dan Algi pun ikut merasa khawatir dengan menghilangnya Kinara yang tak berjejak sedikit pun.
Hanya satu orang yang tau. Yaitu Bang Raga. Ia sengaja memilih diam dan tidak tau menau tentang Kinara karena sengaja.
Ia ingin melihat, rencana apa yang sudah ia susun untuk Abang tersayang nya itu. Dan hari inilah waktunya.
Bang Raga tau itu.
Sedari pagi di rumah Lana sudah ramai berdatangan orang dan para tamu yang di undang untuk acara aqiqahan bayi kembar Lana.
Semuanya sibuk dengan acara itu. Tiada satu pun yang mengingat Kinara. Termasuk Papi Gilang dan Mami Alisa.
Saking senang nya dengan cucu baru dari Lana, mereka melupakan keberadaan Kinara yang entah ada dimana saat ini.
__ADS_1
Hanya Lana, Kak Ira, Annisa dan Algi yang begitu khawatir. Sedari mereka datang kerumah Lana, tatapan mata mereka tidak pernah lepas dari rumah Kinara yang tampak sepi tanpa berpenghuni.
Sampai-sampai ada salah satu tetangga yang menanyakn keberadaan Kinara barulah semua nya sadar. Termasuk Maura.
"Aduh.. Masyaallah.. Cantik sekali bayinya? Semoga menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tua ya?"
"Amiinnn.." sahut mereka semua setelah acara penabalan nama tadi selesai.
"Emm.. Maaf nih ya Nyonya Alisa. Kinara kok Nggak ada ya? Sedari tadi saya sama sekali tidak melihat ada Kinara disini? Bukankah Maura dan Kinara itu hamilnya sama Ya? Bahkan kelahiran nya pun sama?? Apakah Kinara tidak melahirkan disini bersama kalian? Apakah ia ikut suaminya pulang ke Bandung dan melahirkan disana??"
Deg!
Deg!
Deg!
Semuanya tersentak. Lana menghela nafasnya. Inilah yang ia takutkan. Pasti ada salah satu warga yang akan bertanya dimana keberadaan Kinara.
Saat Lana ingin menjawab, bertepatan ada salah satu orang Kinara yang mengantarkan daging kambing aqiqahan si kembar kerumah Lana.
"Kinara-,"
"Assalamu'alaikaum.. maaf mengganggu Tuan Lana. Saya hanya ingin menyampaikan barang pemberian dari dapur Kinara untuk seluruh keluarga dan tetangga yang ada disini. Saya letakkan dimana ya Tuan?" tanya salah satu pegawai dapur Kinara.
Lana terkejut. Dengan segera ia bangkit dan menuju sebuah mobil boks bertuliskan dapur Kinara dan lengkap dengan foto Kinara, Gading dan Ali yang memakai seragam Tentara.
Terpaku di tempat Lana saat mobil boks itu. Begitu pun dengan seluruh keluarga yang keluar karena ingin tau ada apa dengan dapur Kinara itu.
Dan seperti Lana tadi, semuanya pun ikut terpaku melihat mobil boks itu. Algi sampai menganga melihatnya.
__ADS_1
Apalagi kak ira dan Annisa.
Karyawan dapur Kinara segera mengeluarkan barang itu dan meletakkan nya di hadapan mereka semua.
Selebihnya mereka bagikan pada seluruh tetangga. Mereka pun sama terkejutny dengan keluarga Kinara.
"Acara Aqiqahan Dan penabalan nama untuk si kembar tiga. Putra dan Putri Kinara di pesantren Ustadz Mahmud salim. Selamat Menikmati. Salam dari Kinara Zivanna Ali Jaber al Bashri!"
Ddddduuuaaaaarrrrrr...
Bruuukkk..
"Mamiiiii!!!!" pekik Algi yang melihat Mami Alisa jatuh pingsan di hadapan Papi Gilang tetapi lelaki paruh baya yang masih tampan itu seperti blank.
Semuanya terkejut,. Apalagi tetangga sekitar. Bang Raga Terharu. Berarti inilah tujuan Kinara memilih menyembunyikan diri.
Agar Lana dan saudara yang lainnya berkumpul bersama dirumah nya tanpa kehadiran nya yang sengaja ingin menyatukan mereka semua.
Bang Raga menangis.
Kak Ira menoleh padanya. "Kamu kenapa menagis by??"
Bang Raga tidak menjawab. Tetapi ia menunjuk pada rumah Kinara yang saat ini ada Kinara dan juga ustadz pemilik pesantren dan dokter Andini. Dokter Erina dan Pak Herman sekeluarga.
Bertepatan saat itu keluarga Kinara yang dari Bandung pun baru tiba.
"Cucuku!! Ya Allah! Tampannya!! Mirip Ali, bi! Saat kamu mengabari kami malam minggu kemarin. Kami ingin segera kesini. Tetapi kamu melarangnya hingga tujuh hari ketiga cucu ummi ini kami baru boleh datang. Ya Allah.. Kamu dari mana nak? Kenapa tidak diadakan dirumah saja?" tanya ummi Siti pada Kinara.
Tetapi Kinara tidak menjawab, ia tersenyum melihat seluruh keluarga nya kini sedang menatapya dengan terkejut.
__ADS_1
Begitu pun denagn seluruh tetangga nya.