
Mereka keluar dari hutan saat adzan subuh selesai berkumandang. Ali masih setia memeluk Gading. Putra dari seorang penyusup yang tertembak karena melarikan diri.
Ali membawa Gading menuju biliknya dan Lana. Tiba disana, ia meminta salah satu rekannya untuk memasakkan air hangat agar Ali bisa mandi.
''Fatir! Tolong sediakan air panas untuk aku mandikan Gading. Ia tidak mungkin mandi air dingin seperti kita. Ia sudah terlalu lama di dalam hutan dalam udara yang begitu dingin. Kita mandi ya Nak? Papi yang akan memandikan mu.''
Gading menatap Ali dengan sendu. ''Hiks.. terimakasih Papi.. Abang beruntung bisa bertemu Papi. Dulu, Abi pernah bilang. Kalau Abang akan punya Papi baru selain Abi. Dan benar. Papi yang menjadi Papi Abang.'' Katanya pada Ali.
Tubuh kurus Gading memeluk Ali dengan erat. ''Hiks.. Abang sayang Papi.. jangan buang Abang.. jangan perlakukan Abang seperti mereka.. mereka sengaja menyuruh Abang untuk masuk ke kamar laki-laki tua itu. Abang disuruh untuk memegang telur bulat miliknya. Hiks.. Abang takut! Belum lagi Abang dipaksa nungg*** sama bapak bapak hitam itu! Hiks.. itu Abang mau di.. di.. di.. hiks.. hiks..'' Gading tidak meneruskan ucapan nya itu.
Karena tidak ingin membuka lagi kejadian yang begitu menakutkan untuk dirinya yang masih kecil. Ali semakin erat memeluk tubuh putra angkat nya itu. ''Ssstt.. Papi tidak akan melakukan hal itu kepadamu. Itu dosa nak. Mereka tidak tau itu. Sudah. Kita mandi dulu ya? Ayo, Om Fatir sudah menyiapkan air hangat untuk kamu mandi. Setelah ini, baru kita obati luka kamu. Ayo!''
Ali mengangkat tubuh putra angkat nya dan memandikan nya disana. Ali mengepalkan kedua tangannya saat melihat tubuh Gading begitu banyak luka lebam.
Bahkan pada senjata tempur nya yang masih kecil itu memerah. Saat di sentuh pun Gading merintih kesakitan. ''Sakit?? Di apa kan oleh mereka disini??'' tanya Ali sambil memperhatikan senjata tempur milik gading yang masih kecil dan belum disunat itu.
Gading menangis lagi. ''Hiks.. mereka menyiksa Abang dengan cara di jepit pakai tang kecil. Hiks.. sakit Papi.. Abang ingin mati saja waktu itu. Hiks.. ingin lari. Kaki dan tangan Abang di ikat oleh mereka. Belum lagi di lubang an** Abang, mereka masukkan benda kayak besi kecil. Sakit Papi.. Abang nggak bisa jalan. Bahkan sampai kencing pun Abang menangis. hiks.. hiks..'' adunya pada Ali.
Ali menangis mendengar cerita Gading. Ali mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya. ''Sudah, nanti akan Papi cari orang itu. Dan akan Papi hukum dengan tangan Papi sendiri. Papi janji. Ayo, Papi juga mau mandi. Mau sholat subuh. Abang bisa sholat??''
__ADS_1
Gading mengangguk, ''Bisa Pi. Abang sering diajarkan sholat oleh Abi saat umur Abang enam tahun. Abi.. hiks..'' lirih Gading lagi.
Semakin sakit hati Ali. Sungguh, luka terbesar seorang anak ialah saat ia masih kecil di tinggal pergi selamanya oleh kedua orang tuanya.
''Papi mandi dulu ya? Abang duduk disini saja.'' katanya pada Gading.
Gading mengangguk. Ali pun dengan segera membuka seluruh pakaiannya dan mulai mandi. Mata gading membulat sempurna saat melihat sesuatu yang menggantung seperti belalai gajah itu.
Seketika tubuh Gading gemetar ketakutan. ''Jangan! Abang nggak mau! Itu besar sekali! Mana mungkin bisa muat di itu Abang?! Nggak! Nggak!!'' pekiknya sembari memejamkan kedua matanya.
Ali terkejut. ''Abang kenapa nak?? Abang Kenapa?? Buka matanya. Papi disini sayang!'' kata Ali pada Gading.
Gading mematung. Sepertinya memori bocah kecil berusia tujuh tahun itu sedang berputar mengingat suara yang begitu ia kenal baru beberapa jam ini.
''Papi??'' panggil nya dengan mata terpejam.
''Ya sayang. Ini Papi! Papi Ali! Buka mata kamu!'' titah Ali pada Gading yang masih terpejam.
''Papi?? Beneran ini Papi??'' tanya lagi.
__ADS_1
''Iya Nak.. ini Papi. Papi Ali. Kamu kenapa??'' tanya Ali begitu panik saat melihat tubuh Gading masih gemetar karena takut pada sesuatu.
''Papi! Papi! Abang takut! Itu! I-itu! I-tu ya- yang me-menggangtung di tubuh Papi itu! Be- belalai gajah Papi! Sama kayak punya orang itu! Besar dan Panjang!'' seru Gading masih dengan mata terpejam.
Sementara Ali yang masih belum konek kebingungan. ''Apa sih?? Belalai gajah? Yang mana Nak?? Papi mana punya yang begituan! Aneh kamu!'' katanya pada Gading sambil terkekeh kecil.
Gading mengangguk yakin. ''Ada Pi! Ini!'' kata Gading sembari memegang belalai gajah milik Ali yang lembek seperti jeli dan tertutup dengan kain tipis setinggi paha saja.
Ali melototkan matanya. Setelah sadar, jika Gading takut dengan benda itu, Ali tertawa terbahak-bahak. Sementara Gading, cengengesan.
Putra angkat Ali begitu senang ketika melihat Ali tertawa. Lana yang sedang berdiri di samping pintu pun ikut Terkekeh-kekeh.
''Makanya kalau mandi itu jangan cuma pakai kain tipis gini Ali. Ya.. keliatan lah senjata tempur kamu! Hihihi.. Gading aja takut melihat nya? Apa kabar sama adek Abang ya?'' goda Lana pada Ali.
Ali terkekeh kecil. ''Nara nggak takut Abang. Yang ada mah, ia suka banget mainin ini belalai. Katanya kayak jeli. Senang aja di unyek-unyek!''
Buhahahaha...
Lana tertawa terbahak mendengar ucapan Ali. Pagi itu seharusnya Gading sedih karena Abi nya baru saja meninggal. Tapi tidak, ia pun ikut tertawa ketika melihat Ali dan Lana saling tertawa bersama karena belalai gajah punya Ali.
__ADS_1
Kebersamaan yang akan mengikat Ali dan Nara nantinya. Gading. Bocah kecil penyambung hubungan Nara dan Ali di suatu saat nanti.