Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kami semua bersama mu


__ADS_3

Sedari Kinara masuk hingga berbaring di sisi kedua orang tuanya yang kini tdur lesehan di lantai berlapiskan amabl beludru tebal, Mami alisa dan Ummi Siti terus memperhatikan Kinara.


Tadi, saat mereka berdua melihat Kinara membawa ransel itu membuat keduanya saling menatap dan menagngguk.


Mereka banyak bercerita banyak hal tentang kedua anak mereka. Dan terakhir tentang kepergian Ali yang begitu mendadak.


Belum lagi saat ini Kinara sedang hamil. Ummi siti beranggapan jika Kinara wanita yang kuat dan tegar di usia nya yang masih muda sudah diberikan ujian hidup berpisah dengan sang suami.


Jika wanita lain pastilah sudah depresi saat ini. Mana lagi sedang hamil sang suami sudah pergi meninggalkan nya.


Ummi Siti salut pada pendirian Nara yang tidak cengeng. Malah ia terlihat begitu kuat dan tegar menghadapi semua ujian itu.


Padahal sebaliknya, Kinara akan terlihat kuat dan tegar di hadapan seluruh keluarga besarnya dan juga untuk menjaga agar pikirannya tetap waras oleh karena nya Kinara berbuat seperti itu.


Serasa ingin mati saat itu ketika mendengar kabar yang Lana bawa pulang dari Papua tentang suami nya.


Tetapi saat ini berbeda setelah Kinara kembali dari dapur dengan wajah yang sembab dan mata memerah seperti baru saja habis menangis.


Kedua orang tua itu pura-pura tidur saat melihat Kinara mendekati kedua paruh baya dan tidur di kedua sisi orang tua nya itu.


Annisa yang berada di ranjang bersama ketiiga bayi nya menatap sendu pada adiknya itu. Masih ringan Annisa dibandingkan dengan Kinara.

__ADS_1


Jika Annisa masih bisa melihat walau hanya dari status wa Tama saat mereka terpisah dulunya.


Tetapi Kinara berbeda. Ia lebih terluka. Disaat hamil, jangankan bisa melihat statusnya kabar pun tidak ada yang tau tentang Ali yang masih hidup atau sudah mati.


Entah dimana keberadaan suami Kinara itu, Annisa tidak bisa menebaknya. Tetapi keyakinan hati Kinara begitu kuat.


Ia begitu yakin, jika sang suami masihlah hidup sampai saat ini. Entah benar atau tidak, hanya Tuhan lah yang tau.


Mereka tidur dalam pikiran dan hati begitu sendu memikirkan nasib Kinara yang masih muda tetapi sudah di tinggal pergi oleh sang suami tercinta nya.


*


*


*


Pukul tiiga lewat dua puluh lima Kinara sudah bangun dan mulai bersih-bersih. Setelah selesai, ia segera keluar dan ikut sholat berjamaah dengan para lelaki yang saat ini sedang melaksanakan sholat tahajud yang di pimpin oleh Tama.


Sholat itu begitu khusyuk untuk Kinara saat ia berdoa. Hingga ia tidak sadar saat ini ia di kelilingi oleh seluruh kelurga nya.


Saking kusyuk nya Kinara berdo'a sampai buliran mengalir di kedua pipinya pun ia tidak sadar. Ppai Gilang yang dekat denagnnya segera mengusap wajah yang begitu semabb mulai dari semalam.

__ADS_1


Mami Alisa, Ummi Siti dan Annisa ikut tersedu melihat Kinara begitu sedih sampai saat berdo'a saja ia sampai menangis seperti itu.


Semua yang melihatnya pun ikut tersedu. Ia sudah selesai berzikir pun membuka kedua matanya. Kinara begitu terkejut kini melihat seluruh keluarga sedang mengelilingi nya dengan wajah basah air mata.


Terutama sang Papi. Wajah itu sembab sudah karena sedari tadi malam terus saja menangis. Kinara tersenyum lembut padanya, membuat semua orang seperti teriris melihat ketegaran Kinara.


"Sssttt.. Udah.. Jangan menangis. Adek nggak pa pa kok Pi, Mami, Abi, Ummi, Kakak, Abang. Beneran! Adek nggak sedih kok. Hanya saja air mata ini selalu mengalir setiap kali lidah ini berdoa untuk Bang Ali.." lirihnya tetapi masih tersenyum.


Mami Alisa dan Papi Gilang sudah tidak tahan lagi. Mereka segera memeluk erat Kinara masih dengan tersedu.


"Udah.. Jangan menagis ih! Apa kalian ingin kandunganku nantinya bermasalah karena selalu menangis?"


Deg!


Kedua paruh baya itu terkejut. Dengan segera mereka berhenti menangis dan tersenyum melihat Kinara yang kini sedang tersenyum lembut pada mereka semua.


"Ya, kami tidak akan menangis selama kamu pun tiidak menangis. Kami semua bersama mu sayang.. Jangan merasa sendiri."


"Tentu, ada Allah bersama kita. Kenapa kita harus takut??"


Mereka semua memeluk erat Kinara yang kini tertawa tetapi air mata berjatuhan ke pipinya.

__ADS_1


Mulut Tertawa Hati Menangis


Inilah yang Kinara lakukan saat ini. Demi keluarga dan juga kandungan nya, Kinara menahan sendiri rasa sesak yang selalu muncul disaat teringat Ali yang entah saat ini ada dimana.


__ADS_2