Penantian Kinara

Penantian Kinara
Mimpi yang menakutkan


__ADS_3

''Astaghfirullah!! Naraaa!!!''


''Abaaaaaaaannnggggg!!! Tidaaaaaaakkkk... jangan pergiiiii!!! Aaaaaaaaaa...''


''Na-naraaa... sa-sayang...'' lirih Ali dengan nafas tersengal-sengal.


Nara menangis meraung-raung di atas daratan sana karena melihat Ali yang sudah tenggelam ke dasar laut. Terhisap oleh pusara hitam yang begitu pekat.


Sementara Ali tidak bisa melakukan apapun selain hanya bisa menatap Nara yang seperti orang mengamuk menangis histeris di tepi jurang nan terjal itu.


''Hiks.. Abang... hiks.. jangan pergi.. jangan tinggalkan aku.. aku harus apa tanpa mu bang..''


''Na-naraaa...'' lirih Ali dalam hati sementara dirinya semakin tenggelam ke dasar laut hingga kepalanya terbentur karang.


Plukkk.


''Astaghfirullah!! Ya Allah!!'' pekik Ali begitu terkejut saat sadar dari mimpinya.


Lana pun ikut terkejut karena mendengar pekikan Ali hingga membuat nya terjingkat kaget. Ali duduk tepekur dengan keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


''Ali? Kamu kenapa??'' tanya Lana begitu panik saat melihat wajah pucat Ali begitu terlihat.


Seluruh tubuhnya basah dengan keringat. Ali masih termenung dengan nafas tersengal-sengal. ''Ali??''


''Ha? I-iya Bang! Aku mimpi buruk. Bahkan sangat buruk. Belum pernah selama ini aku memimpikan hal ini. Ada sih. Tapi itu pada saat pertama kali menikahi Nara. Waktu itu aku juga bermimpi hsk yang serupa. Di dalam mimpi itu, aku terhisap oleh pusara hitam yang begitu pekat. Aku terhisap ke dalamnya hingga ke dasar. Dan makan ini? Mimpi yang sama hadir lagi. Astaghfirullah adek.. aku harus apa Bang? Di dalam mimpi itu begitu terlihat jelas kalau Nara menangis meraung memanggil namaku sedang aku tidak bisa berbuat apapun. Aku hanya bisa memanggilnya di dalam hati. Hiks.. Kinara...'' lirih Ali dengan dada begitu sesak.


Lana tertegun dengan ucapan Ali. ''Kamu yakin? Maksud Abang..''


''Nggak tau bang.. tapi mimpi itu begitu nyata terlihat. Apakah.. Abang juga memimpi kan sesuatu tentangku dan Kinara??''


Deg!


Deg!


''Bang Lana!!''


Lana menghela nafasnya. ''Ya, Abang pun melihatmu seperti itu. Sama seperti mimpi kamu. Tapi Abang hanya berdiri diam di sudut lain tidak bisa berbuat apapun. Mulut Abang terkunci walau hanya untuk memanggil Kinara begitu juga dengan kaki Abang. Kaki Abang seperti terpaku di tempat tidak bisa bergerak sedikitpun. Abang hanya bisa melambai-lambai saja untuk memanggil kalian berdua...'' lirih Lana dengan leher tercekat.


Ali menangis pilu. Lana pun ikut menangis. ''Ada apa dengan mimpi itu Bang?? Hiks.. mimpi ini seolah petunjuk untuk hubungan ku dan Nara. Hiks.. aku harus apa Bang??''

__ADS_1


Lana memeluk tubuh tegap Ali yang sudah berguncang. ''Bangun, ambil wudhu dan sholat lah. Berdoalah. Hanya doa yang bisa mengubah takdirmu. Ayo kita sholat tahajud bersama,''


Ali mengangguk setuju.


Mereka berdua bangkit dan mulai berwudhu. Selesai berwudhu mereka berdua mulai melaksanakan sholat tahajud bersama. Mereka melaksanakan sholat tahajud disambung dengan sholat istikharah.


''Assalamu'alaikum warahmatullahi..'' ucap Lana pada salam terakhir mereka.


Lana dan Ali masing-masing menadahkan tangan keatas dengan kepala tertunduk ke bawah. Terutama Ali. Tubuhnya bergetar. Air matanya menyeruak hingga jatuh membasahi telapak tangannya.


''Ya Allah ya Robbi.. jika memang ini adalah takdir pernikahan ku dan istriku. Hamba mohon.. dimana pun Kinara berada tenangkan hatinya. Berikan kesabaran yang luas di dalam hatinya dalam menerima keputusan takdir yang sudah Engkau goreskan untuk pernikahan kami berdua. Hiks.. hamba ikhlas. Apapun yang sudah menjadi keputusan Mu pastilah yang terbaik untuk hamba ke depannya. Hamba hanya bisa memohon.. jika memang ke depannya hamba akan mendapatkan sesuatu sesuai petunjuk mimpi hamba tadi, hamba mohon Ya Allah.. berikan lah kesabaran dan ketabahan yang kuat pada istri hamba. Lindungi dirinya dimana pun ia berada.. Dan juga jikalau hamba masih di berikan hidup nantinya.. izinkan hamba untuk bertemu istri hamba.. agar hamba bisa meneruskan perjalanan rumah tangga kami yang tertunda selama kepergian hamba.. hiks.. hamba sangat menyayangi nya Ya Robb.. hamba tidak ingin melihatnya terluka.. hiks.. bukankah ibadah terpanjang seumur hidup ialah dengan menikah? Maka berikanlah kesempatan bagi hamba agar hamba bisa kembali lagi kepadanya suatu saat jikalau terjadi sesuatu pada hidup hamba nantinya.. Lindungi istriku dimana dia berada. Dan berikan kesembuhan kepada putra kecilku yang saat ini sedang berobat nan jauh disana. Hamba percaya ya Allah.. apapun yang sudah Engkau tetapkan pasti kan terjadi. Hamba tidak bisa menolak. Karena inilah takdir hamba. Amiin...'' Ali mengakhiri doanya dengan terus menangis.


Wajah tampan itu basah dengan air mata. Begitu juga dengan Lana. Ia berbalik dan memeluk Ali dengan erat. ''Sabar .. ikhlaskan semua yang akan terjadi dan yang sudah terjadi. Semua ini sudah menjadi ketetapan Nya. Kita hanya bisa pasrah mengikuti jalannya takdir Allah. Percuma pun kalau kita menentang arus, itu tidak akan ada gunanya. Semua itu akan sia-sia.. percaya lah pada takdir Allah. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua nya pasti akan terjadi cepat atau lambat. Kuncinya hanya bersabar. Pesan Abang, kalau suatu saat terjadi sesuatu dengan kamu, Abang mohon.. jangan pernah berubah. Walaupun kamu jauh, jangan pernah lupakan kami yang selalu menunggu mu..''


Deg!


''Apa maksud Abang??''


Lana tersenyum, ''Tidak ada maksud apapun. Cuma mengingatkan. Sudah, ayo kita lanjut berkemas. Sebentar lagi kita harus berangkat bukan? Waktu subuh masih jauh. Ayo!''

__ADS_1


''Ya,'' jawab Ali masih dengan tidak bersemangat.


Mereka berdua bergegas masuk ke camp untuk bersiap-siap karena setelah ini mereka akan bertugas kembali ke perbatasan.


__ADS_2