Penantian Kinara

Penantian Kinara
Memang kamu, orangnya!


__ADS_3

"Ja-jadi.. Kamu lah orang nya Al?" tanya nenek Ayu dengan wajah terkejutnya.


Masih teringat olehnya dulu, jika sang suami pernah mengatakan hal ini padanya sebelum ia bertugas dan menghilang sekitar lima belas tahun yang lalu.


"Heh? Orang apa maksud Nenek?" Tanya Al yang kini sedang bingung dengan menatap nenek Ayu matanya yang kini berbinar cerah.


"Kamulah yang dikatakan oleh kakek Raja. Bahwa akan ada seorang pemuda Indonesia suatu saat nanti akan datang untuk menjemputnya. Kamu kah, NaK? Ya Allah.. Berarti kamulah orangnya!" ucapnya yang semakin membuat Al menganga.


"Hah? Aku. Nek? Tapi.. Bagaimana mungkin? Sedang aku saja tidak kenal dengan beliau?"


Nenek Ayu tersenyum lebar, "Suatu saat kamu pasti akan mengenalnya Al! Kita harus bersiap dan segera menyusulnya ke Mekkah. Kita akan pulang apapun yang terjadi nantinya. Ini Paspor kamu Nenek temukan di dalam kantong celana kamu saat kamu koma selama satu bulan. Sempat kaget sih. Makanya ketika pihak imigran datang kesini dan bertanya paspor kamu. Nenek segera menunjukkannya. Alhamdulillahnya, Paspor kamu ini akan hidup sampai sepuluh tahun lamanya. Kok bisa ya?"


Al menggeleng, "Aku nggak tau, Nek. Yang jelas sebelum jatuh ke dalam laut. Aku sempat membawa paspor itu dan barang lainnya terkecuali buku rekening dan sebuah perhiasan untuk istriku. Itu yang saat itu sengaja aku buang. Berharap akan ada yang menemukannya.."


"Hemm.. Ya sudah. Nenek masih punya uang untuk kita berangkat ke Mekkah. Satu bulan lagi kita akan segera kesana. Kalau masih hidup, Alhamdulillah. Kalau pun tidak. Maka cukup sampai disini saja penantian Nenek. Dan kita akan pulang ke Indonesia bersama nantinya."

__ADS_1


Al tersenyum, "Pasti!" sahutnya


Ia memiliki sedikit secercah harapan saat Nenek Ayu mengatakan hal itu padanya.


Tunggu Abang, sayang.. Abang pasti pulang untuk menemui dan anak-anak kita!


Batinnya begitu senang.


Sementara di Medan sana.


Saat ini Kinara sedang di sibukkan dengan perannya sebagai ibu, pengusaha sekaligus mahasiswa.


Lana tidak pernah mengeluh dengan kelima anaknya yang sangat rewel saat pertama kali berjauhan dari Mami mereka.


Untuk sementara Maura tidak di ijinkan bertemu ke lima anaknya oleh Abi Madan. Apalagi Malda yang begitu ketakuatan saat melihat dirinya.

__ADS_1


Butuh waktu untuk menyembuhkan psikis anak sulung Lana itu. Kinara sering membawa Malda untuk berinteraksi dengan sekitar.


Agar Malda tidak ketakutan saat ada ibu-ibu yang sedang menegur anaknya dihadapan Malda.


Psikis anak kecil itu sangat terganggu lantaran kekerasan yang Maura lakukan padanya. Malda sudah diperiksakan ke dokter anak.


Dan ya, Malda trauma. Ia ketakutan saat melihat foto Maura yang seperti ingin memarahinya. Padahal hanya wajah datar biasa saja.


Tetapi sudah membuat Malda ketakutan setengah mati. Kinara selalu membujuknya untuk bermain. Dan alhamdulillahnya, Malda sudah lebih baik.


Mereka melewati masa-masa sulit itu dengan sabar. Apalagi Kinara yang semakin lama semakin hatinya merindukan sang suami yang entah ada dimana saat ini.


Kinara hanya bisa sabar menunggu. Menunggu di dalam ketidak pastian. Tetapi ia tetap ikhlas menerimanya.


"Adek akan menunggu Abang sampai kapan pun. Adek tidak akan pernah berubah bang Ali. Sampai kapanpun hanya kamu. Tiada yang lain. Hanya Abang seorang. Penantian Kinara tidak akan pernah usai sebelum Abang kembali. Jika pun Abang tidak kembali, maka surga lah tempat terakhir kita bertemu." Ucap Kinara sambil menatap figura besar di kamarnya sambil menyusui Alkira.

__ADS_1


Semoga saja Kinara kuat menantinya.


Kita masuk ke lima tahun ke depan ye?


__ADS_2