Penantian Kinara

Penantian Kinara
Bertemu Fathir di Madinah


__ADS_3

Ali terus saja memandangi wajah Kinara yang saat ini begitu damai saat terlelap. Paras ayu yang selalu mengisis hari-harinya saat ia di Filipina dan juga di Arab Saudi.


Ali terkekeh saat mengingat pertemuannya dengan fathir satu tahun yang lalu di arab saudi.


Ia yang baru saja pulang dari berperang bertemu tanap senagaj dengan Fathir di Madinah saat Ali melakukan Umroh bersama Nenek Ayu untuk mendoakan keluarga dan juga Kakek Raja yang belum bebas saat ini.


Umroh yang diberikan khusus untuk mereka berdua karena berhasil selamat dan pulang kembali ke Arab Saudi walau sebenarnya itu sulit untuk terjadi.


Ali terus saja terkekeh saat mengingat pertemuan mereka berdua yang menimbulkan banyak perhatian dari para jamah umroh terkhusus nya Indonesia.


Flashback


"Alhamdulillah, Al. Kita bisa juga akhirnya menginjakkan kaki di Madinah. Tempat Nabi kita di makamkan. Kamu tau? Nenek dan Kakek dulu pernah berjanji akan berhaji dan umroh bersama setelah ia pulang dari tugasnya. Tetapi tidak. Karena berpisah. kami belum juga dipertemukan hingga saat ini. Padahal kita sudah berada disini dan juga sedang melaksanakan umroh gratis yang disediakan oleh pihak Arab karena keberhasilan kita." ucap Nenek Ayu dan diangguki oleh Ali


"Benar Nek. Aku juga begitu. Pernah berjanji untuk umroh bersama setelah aku selesai bertugas. Tetapi tidak. Aku dan kakek kami berdua sama. Sam-sama pernah berjanji. Dan ya, Allah kabulkan. Tetapi tidak dengan pasangan. Tetapi dengan pasangan lain." Ali tertawa sambil merangkul bahu Nenek Ayu.


Wanita yang tidak lagi tua itu pun segera membalas merangkul pinggang Ali. Mereka terlihat seperti cucu dan Nenek saja.


Sementara nan jauh disana, ia pun sedang berjalan bergandengna dengan sang istri yang saat itu sedang hamil muda.


"Sayang,"


"Hem? Apa? Apa Abang ingin bilang lagi kalau kita harus sering mendoakan suami Kinara agar cepat kembali??"


Ia tertawa. "Iya dong. Mungkin inilah jalan Allah agar kita kesini dan menunaikan umroh bersama agar bisa mendoakan Bang Ali. Hem semoga saja Bang Ali cepat ketemu. Abang ingin sekali bisa bertemu dengannya disini!"


Deg!

__ADS_1


Deg!


Matanya membola dengan jantung itu seperti di pompa dengan kuat saat pandangan mata nya menangkap siluet dari orang yang saat ia bicarakan.


"Bang Ali?? Disini??" ucapnya dan terdengar oleh sang istri.


Ia menoleh pada sang suami yang kini sedang menatap lurus ke depan sana.


Deg!


Deg!


"Bang Ali!!!" pekiknya pula


Keduanya tercengang saat melihat jika itu memanglah Ali. Seseorang yang mereka tunggu selama empat tahun ini.


Tes.


Tes.


"Bang Aliiiiiiii!!!!!!!"


Deg!


Deg!


Ali yang saat itu sedang berjongkok membetulkan pakaian umroh Nenek ayu yang tersangkut mendongak ke depan.

__ADS_1


Dimana dua orang berjarak dua puluh meter darinya kini sedang tersedu sambil berangkulan melihatnya dengan terus memanggil namanya.


"Bang Aliiiii!!!"


"Bang Aliiiiiii!!!" teriak kedua pasangan itu dengan segera berlari mendekati Ali yang kini terkejut saat melihat dua orang yang memang sangat di kenalnya.


Nenek ayu yang melihat Ali terdiam tanpa bergerak sedikitpun kini menoleh padanya. "Ada apa Al? Siapa yang memanggil mu?"


"Bang Aliii!!!" pekik kedua orang itu lagi masih dengan berlari.


Air mata Ali jatuh menetes ke pipi. "Ya Allah.. Fathir!!!!" balas Ali pula.


Ia tertawa namun menangis. "Hahahaha.. Kita ketemu lagi dek!"


"Huaaaaaa... Bang Aliiii!!!"


Grep!


Bruuukkk..


"Aduhhh..."


"Huaaaaaa... Abang masih hidup!! Huaaaaa..." seru Fathir begitu erat memeluk tubuh Ali yang kini juga memeluknya dengan erat.


Nenek Ayu terkejut melihat Ali sedang di peluk oleh seorang pemuda dan juga seorang gadis yang kini sedang memeluk erat tubuh Ali.


Keduanya tersedu bersama. Begitu pun dengan Ali.

__ADS_1


__ADS_2