
Lima bulan berlalu.
Malam ini Kinara merasakan sedikit perbedaan pada perutnya yang semakin turun ke bawah. "Sssttttt.. Huufftt.. Adek mau keluar ya? Udah pingin ketemu Mami? Hem?" tanya pada perutnya yang semakin turun ke bawah
Sesekali Kinara merasakan sesak. Tetapi tetap beraktivitas. Kak Annisa sudah mewanti-wanti dirinay agar tetap waspada.
Bila sudah menunjukkan salah satu tanda yaitu perutnya semakin sesak dan turun ke bawah, itu tandanya Kinara akan segera melahirkan.
Berhubung Kinara hamil anak pertama tiga sekaligus pastilah akan sangat sakit. Dan ya, Kinara sudah merasakan sesekali merasakan mulas.
Gading yang melihat Kinara meringis menahan sakit mengelus perutnya dengan lembut. "Kita kerumah sakit ya Mi?" ucapnya pada Kinara yang kini sesekali menahan sakit.
"Sebentar lagi sayang. Jam segini uwak Lana masih terjaga. Kita tunggu sampai Uwak tidur baru kita kerumah sakit. Abang ambilkan aja segala kebutuhan Mami, untuk ketiga adikmu dan juga baju kamu. Untuk sementara kita nggak pulang kerumah, kita akan tinggal dirumah sakit. Tak apa kan ya?"
Gading menggeleng dan tersenyum sendu pada Kinara. "Tentu, Mi. Sebentar Mi. Abang persiapkan dulu segala kebutuhan kita. Mami hubungi saja ojek online nya. Jangan Motor. Tetapi mobil." peringat Gading padanya.
Kinara tersenyum dan mengangguk. Ia begitu beruntung. Dikala semua orang sibuk dengan kehidupan masing-masing dan jarang melihat keadaan Kinara.
Masih ada malaikat kecil penolong yang Ali selamatkan dan sekarang dirinya lah yang menolong Kinara.
Gading berlari-lari kecil menyiapkan semua barang untuk mereka menginap dirumah sakit selama Kinara melahirkan nanti.
__ADS_1
Semua sudah Gading kumpulkan di dekat Kinara. Mobil pun sudah ia pesan. Tinggal menunggu pukul satu dini hari untuk bisa kerumah sakit saat semua orang terlelap.
Ternyata dirumah Lana, Maura pun sudah merasakan hal yang sama. Lana panik dibuatnya tidak tau harus berbuat apa.
Sementara Maura yang begitu cengeng dan manja membuat Lana sedikit kesal dengan tingkahnya itu.
Ia hanya bisa mengusap perut itu dengan lembut. Terbayang olehnya Kinara yang saat ini sendiri dirumahnya.
Siapa kiranya yang bisa menolongnya? Sedang suami pun ia tidak ada? Memikirkan itu Lana menangis. Maura panik. Ia pikir Lana menangis karena melihat dirinya.
Tetapi bukan. Ia sedang memikirkan Kinara yang seorang diri dirumahnya. Tanpa seorang pun yang menemaninya kecuali Gading.
Kinara masih terus saja berjalan kesana kemari. Ia masih sempat makan saat sedang sakit. Gading menyuapinya.
Katanya untuk tambah tenaga.
Jam berjalan begitu lambat, rasanya Kinara ingin segera kerumah sakit lantaran perutnya yang semakin mulas saja.
Gading semakin gelisah saat melihat dahi Kinara yang dipenuhi dengan keringat dingin.
Mereka bersabar menunggu waktu yang di tentukan akan keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Tepat pukul satu dini hari supir mobil online itu memasuki pekarangan rumah Kinara karena permintaan Kinara untuk membawa semua barang-barangnya dan mengunci rumahnya.
Setelah selesai. Mereka bertiga mulai berjalan pelan menuju mobil yang tidak jauh berada di rumah nya.
Sempat Kinara menoleh kerumah itu dan melihat cahaya lampu yang masih menyala. Pertanda Lana pun belum tidur. Mungkin Maura sedang merasakan sakit juga saat ini sama sepertinya.
Tiba di mobil langsung saja supir itu tancap gas untuk menuju kerumah sakit kak Ira untuk ia melahirkan disana seperti kata kak Ira dulunya.
Saking kencangnya mobil itu, cukup sepuluh menit saja mereka sudah tiba disana karena jalanan malam yang sudah sunyi.
Tiba dirumah sakit, Kinara langsung saja dibawa ke ruang inap yang sudah di berikan oleh kak Ira jauh hari sebelum ia melahirkan.
Gading dengan segera membayar supir mobil dengan uang merah sepuluh lembar begitu kata Kinara membuat sang supir tertegun dengan uang yang saat ini ada di tangannya.
"Semoga persalinan kamu lancar nak.. Kamu dan anakmu sehat semua... Amiinn.." ucapnya mendoakan Kinara.
Baru sebentar Kinara masuk ke ruang inapnya, mobil Lana pun masuk ke dalam lokasi rumah sakit.
Ia tidak tau harus dibawa kemana selain kerumah sakit kak Ira. Dan bang Raga pun sudah di hubungi olehnya.
Tetapi kak Ira melarang suaminya untuk datang kesana. Bukan apa. Kak Ira sangat tau dengan sifat iparnya itu yang kelewat manja.
__ADS_1