
Mbak sus Tia segera keluar dengan membawa tas besar miliknya. Ia memang sudah bertekad akan pergi dari umah itu karena tugasnya sudah selesai saat Lana pulang sebulan yang lalu.
Tetapi karena suatu kejadian yang mengharuskan dirinya tetap tinggal, maka ia lebih memilih tinggal.
Semua itu pun karena permintaan Lana demi menjaga istri dan adiknya sekaligus. Hal yang Maura sendiri tidak tau.
Ia berjalan menuju semua orang yang kini memtaung di pintu rumah mereka termasuk Lana.
"Maaf komandan Lana. Tugas saya sudah selesai! Saya harus segera kembali ke markas. Sudah cukup saya melindungi dan mengawasi keluarga Anda. Lagi pun istri anda bisa jaga diri sendiri!" tegasnya sambil menatap Lana dengan wajah datar tetapi sembab.
"Tia.. Tolong jangan pergi dulu. Kami belum menemukan keberadaan Ali hingga saat ini. Markas terus bergerak mencarinya. Bisakah kamu akan tetap tinggal disini?" tanya Lana dengan penuh harap
"Maaf komandan! Saya tidak bisa terkecuali...." Mbak sus melirik Maura
"Katakan!"
"Saya ingin tinggal bersama nona Kinara! Tugas saya sudah selesai dengan anda. Karena saya melihat istri anda sudah bisa menjaga diri sendiri. Saya akan tinggal bersama Nona Kinara sebagai penjaganya selama komandan Ali belum ditemukan. Bisa anda memenuhi keinginan saya komandan? Jika iya, saya tidak akan pergi. Tetapi hanya pindah rumah saja."
Lana menatap dalam pada Tia yang dibalas tatap oleh Tia dengan wajah datar.
Biarkan saya pergi komandan! Agar anda bisa berbicara berdua saja dengan istri Anda. Sudah cukup selama ini saya menjaga nya. Dan saat ini adalah giliran Nona Kinara. Bukankah seperti ini dulu perjanjian kita?
Baiklah. Jika itu yang menjadi keputusanmu!
__ADS_1
Begitulah kira-kira arti tatapan mata dari keduanya dan saling mengangguk yang hanya mereka berdua yang tau.
"Baik. Mulai saat ini kamu saya pecat untuk menjadi baby sitter anak saya dan akan saya gantikan dengan menjadi baby Sitter sekaligus penjaga bagi adik kandung saya. Kinara Zivanna Bhaskara!"
"Siap komandan!" sahut Mbak sus Tia dengan mantap dan suara yang tegas.
Mirip dengan suara tentara wanita. Ya, Tia merupakan salah satu tentara wanita andalan Lana saat mereka bertugas dimana pun.
Tetapi karena sebuah kesalahan ia di pecat dan diberhentikan. Tetapi tidak dengan Lana. Ia sengaja menyuruh Tia untuk menjaga keluarga kecil serta adik kandungnya saat nanti ia kembali bertugas.
Karena Lana sangat tau jika keluraga Tia sangatlah membutuhkan biaya untuk adik-adiknya yang masih sekolah.
Mbak sus pergi dari rumah itu dan di ikuti Algi di belakangnya. Tinggallah kini empat orang tersisa yang masih berdiri di depan pintu rumah Lana.
Mami Alisa yang baru saja keluar dari kamarnya pun melewati Maura begitu saja. Mereka berdua berjalan kerumah Kinara tanpa mempedulikan dua anaknya yang lain.
Tiba disana, mereka tidak melihat keberadaan Kinara dan juga si kembar. Mereka masuk kerumah itu hingga menuju ke belakang rumah Kinara yang saat ini sudah di sulap menjadi kebun mini milik Kinara dan juga sudah ada sebuah pendopo yang begitu luas disana.
Membuat dua paruh baya beda usia itu tertegun. "Sejak kapan ada pendopo disini Pi? "
Papi Gilang menggeleng. "Nggak tau sayang. Papi 'kan selama lima bulan ini jarang kesini karena sedang mengurus proyek kita yang di Aceh dan Kalimantan? Kamu 'kan juga ikut Papi kesana?"
" Iya sih. Apa-,"
__ADS_1
"Permisi Nyonya, Tuan! Saya mau lewat ingin mengantarkan daging aqiqahan si kembar khusus untuk keluarga makan siang ini." Celutuk salah satu orang Kinara yang membuat keduanya terkejut dan segera menggeser untk memberikan ijin mereka untuk lewat.
"Ini lagi Pi. Sejak kapan putri kita punya dapur Kinara seperti ini? Apa jangan-jangan.. Ia sengaja menolak pemberian kita ini karena usahanya ini?"
"Bisa jadi. Untuk lebih jelas, ayo kita tanya saja pada putri kamu itu!" ketus Papi Gilang dengan segera mendekati Annisa dan Kinara yang saat ini sedang tertawa bersama.
"Hemmm.. Gini kamu ya Dek? Nggak mu kasih tau Papi dan juga selalu menolak uang pemberian dari Mami kamu karena ini?" ketus Papi Gilang kepada Kinara yang kini terkekeh karena wajah papi Gilang begitu masam melihat nya."
"Lihatlah Papi mu Kak. Masa' iya gara-gara dapur Papi kok marah sih sama adek?" goda Kinara yang membuat sang papi semakin merengut sebal padanya.
Annisa tertawa. "Kamu yang kayak nggak kenal aja sama Papi kita, Dek! Kamu 'kan tau sendiri? Kalau Papi kita itu orangnya memang ambekan! Kayak orang lagi PMS! Sensian!"
Papi Gilang melotot pada Annisa dan dibalas tawa oleh Kinara.
Saat ini mereka semua sedang duduk di sebuah pendopo yang lumayan luas dan juga banyak pohon duku di sekitarnya.
Ada juga jambu madu. Di sudut setiap pagar tinggi berukuran tiga meter itu ada pohon kelengkeng disana yang saat ini sedang dinaiki oleh Algi dan gading.
Mereka berdua berada di atas pohon itu dan memekan buah kelengkeng itu langsung dari pohonnya.
Mbak Sus Tia pun ikut dibawahnya. Ia sibuk memetik buah rambutan yang kini begitu berbuah lebat.
Ummi Siti, Abi Husen dan ketiga adik ipar Kinara pun sedang sibuk memakan buah itu dengan santainya langsung dari pohonnya.
__ADS_1
Kinara tersenyum melihat keluarga suaminya itu. Tetapi Papi Gilang menatap sendu pada putri bungsunya itu.