
Kinara tersenyum saja saat melihat sang papi yang begitu berharap ingin tau darimana Kinara punya uang bisa membeli tanah itu.
Papi Gilang menatap Annisa yang kini sedng bernain dengan si kecil Adam yang sednag terlelap.
Ia tidak peduli jika sang Papi saat ini sedang menatapnya. Toh, ia tak punya salah? Kenapa harus mengakuinya? Pikir Annisa yang sibuk sendiriri dengan Adam. Putra sulung Kinara.
Papi Gilang menghela nafasnya. Ia sudah bisa menebak siapa yang membantu Kinara. Karena ia sangat tau semua anak-ankanya ini tanpa mereka berbicara.
Termasuk Lana yang selalu mereka marahi karena tidak adil dengan Kinara. Dan beliau pun tau apa yang Lana lakukan saat Kinara hamil.
Tetapi tentang dapur Kinara, itu yang beliau tidak tau. Entah sejak kapan dapur itu beroperasi hingga menjadi sebesar itu dalam waktu yang singkat.
Ya, dapur Kinara itu tercetus saat ada uang lebih sekitar seratus juta lagi. Kinara ingin mengembalikannya tetapi Annisa menolaknya.
Ia mengataan pergunakan itu puntuk biaya kehidupannya. Tetapi Kinara memikirkan hal lain. Hingga tercetus lah sebuah ide tentang dapur Kinara ini.
__ADS_1
Usaha yang ia mulai dari nol hingga menjadi pesat dalam beberapa bulan ini. Dan namanya pun sudah terkenal semua kalangan pengusaha.
Yang belum tau tentang itu hanya mami Alisa. Karena beliau sibuk ikut Papi Gilang untuk menemaninya setiap ada perjalanan bisnis dan juga proyek pai Gilang yang mengharuskan membawa Mami Alisa kesana ikut bersamanya.
Makanya tadi beliau sangat terkejut ketika melihat sebuah mobil boks bertuliskan dapur Kinara yang menununjukkan foto Kinara, Ali dan Gading disana.
Foto mereka bertiga dua sebelum keberangkatan Ali kembali ke Papua. Kinara meminta Ali untuk memakai seragamnya dan Kinara juga memkaia seragam seorang istri tentara dan juga Gading memakai seragam yang sama seperti Kinara gunakan.
Semuanya sempat shock dengan foto mereka bertiga apalagi Maura. Ia yang paling terkejut dengan semua itu.
Sempat terbesit di hati, jika usaha itu merupakan uang suaminya yang diberikan kepadanya secara diam-diam.
Maura sangat iri dengan Kinara hingga saat ini. Ia berpikir jika suami dan mertuanya lebih mengutamakan Kinara dibandingkan Lana.
Oleh karena itu, ia tidak mengizinkan Lana mendekati Kinara hingga hari ini. Lana hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Ternyata sifat ummi Aini paling tidak sedikitnya menurun kepada Maura salah satunya sifat egois.
Tetapi Lana tidak peduli walau Maura mengancan akan berpisah dengannya, Lana menyanggupinya.
Rasanya Lana sudah sangat lelah menghadapi sifat Maura yang tidak pernah berubah.
Dan hari ini Lana mengucapakn kata keramat itu padanya membuat dirinay mematung. Setelah kepergian seluuh keluarga Maura marah-marah padanya hingga tercetuslah ucapan keramat yang sebenarnya menggertak saja.
Bukan yang sesungguhnya. Karena Lana tau, jika Maura belum suci dari nifas. Jadi mana mungkin kata keramat itu sah.
Setelah mengucapkan hal itu ia segera berlari menuju kerumah Kinara yang saat ini sedang berkumpul di rumah Kinara bagian belakang yang saat ini sudah semakin lebar dan membuat Lana tertegun di tempatnya berdiri.
Mami Alisa yang melihat kedatangn Lana, memanggilnya. "Sini, Nak!" panggilnya
Lana yang sedang melamun pun terkejut. Begitu banyak hal yang ia tidak tau tentang adik kandung se ibu dengannya ini.
__ADS_1