Penantian Kinara

Penantian Kinara
Bahagia ku bersama mu


__ADS_3

"Hem, jadi begitu toh ceritanya. Pantas saja kamu nggak pulang-pulang. Maaf Li. Kami sempat menduga jika kamu sudah tiada. Tetapi tidak dengan istri kamu. Kinara. Ia sangat yakin jika kamu sampai saat ini masih hidup. Mungkin butuh waktu saja untuk kamu kembali kesini." Imbuh Lana dan diangguki oleh Kinara.


Ali tersenyum, ia semakin erat memegang kedua tangan Kinara. "Terimakasih karena sudah menunggu Abang, sayang. Terimakasih karena kamu masih setia menunggu pria tua ini," kelakar nya dan disambut tawa oleh Kinara dan Lana.


Kinara tersenyum, "Abang itu tidak tua, tetapi pria dewasa berumur cukup matang! Apa salahnya dengan itu? Nggak ada kan ya?" Ali menggeleng, "Maka dari itu, jangan selalu merendahkan dirimu kalau kamu itu sudah tua. Kamu itu belum tua Bang Ali. Hanya sudah cukup matang. Lagi pun saat ini aku sudah dewasa kok. Sudah dua puluh tiga tahun? Nggak ada yang salah dengan umurmu. Kamu memang dijodohkan dengan ku. Kamu lihat papi sama Mami? Berapa usia mami dan papi? Jauh kan? Tetapi mereka tetap harmonis dan bahagia bukan?" Ali mengangguk dengan bibir terus tersenyum.


"Bukankah dulu sudah pernah aku katakan sama Abang? Aku menikah denganmu karena kamu memanglah jodohku. Aku menerima mu karena aku sendiri yang menginginkan pria dewasa yang mendampingimu sama seperti Kak Annisa. Aku mengambil semua hikmah dan perjalana hidup Kak Annisa. Lihatlah sekarang. Mereka bahagia bukan? Umur tidak menjamin kedewasaan seseorang Bang Ali. Bisa jadi yang terlihat umurnya lebih muda tetapi ia sudah dwasa. Begitu pun sebaliknya. Ada yang sudah tua tetapi kelakuan nya sama seperti anak-anak. Semua itu berdampingan."


"Aku tidak masalah memiliki suami tua. Aku malah senang memiliki nya karena kamu bisa mengimbangi sikap labilku. Dan ya, semua itu terbukti kan?"


Ali tersenyum, "Benar. Abang sengaja mengatakan hal ini kepada mu. Mana tau kamu lebih menyukai yang seumuran denganmu. Dan jika pun kamu bahagia dengan itu, Abang ikhlas melepasmu. Asal kamu bahagia, Abang bisa menerima nya. Kebahagiaan mu adalah yang utama, sayang."

__ADS_1


"Nggak. Bahagia ku bersama mu. Bukan dengan yang lain. Walau beribu pria tampan dihadirkan untukku, maka aku tetap memilihmu. Aku tidak pernah menyesal menikah dengan mu, Bang Ali. Aku bahagia bahkan sangat bahagia. Aku tidak menginginkan pemuda lain. Yang aku inginkan hanya kamu. Suamiku, Imamku dunia dan akhirat. Tidak ada yang lain.." lirih Kinara dengan bibir bergetar dengan mata mentap sayu pada Ali yang kini tersenyum teduh padanya.


Nenek Ayu menyusut bulir bening di pipinya. Begitu pun dengan kedua orang yang duduk di samping Lana.


Kedua orang tua Adam. Papi Gilang dan mami Alisa pun terharu mendengar ucapan Kinara yang memang benar adanya.


Lana terkekeh kecil, ia pun menyusut bulir bening yang mengalir di sudut matanya. Ia bahagia jika Kinara bahagia.


Lana rela melakukan apapun asalkan Kinara bahagia. Ia rela mengorbankan hidupnya demi Kinara.


"Sungguh beruntung suami kamu mendapatkan wanita seperti mu, Nara. Maafkan aku yang mencoba untuk merebutmu darinya. Benar katamu, tidak ada yang salah dengan umur. Umur bisa saja berbeda selisih tetapi yang membuat diri kita dewasa bukanlah umur. Tetapi pribadi kita sendiri. Maaf.. jika aku melakukan kesalahan ini. Aku berdoa semoga kamu berbahagia dengan suami mu. Dan aku pun akan di kirimkan seorang wanita yang shalihah sama sepertimu, Kinara.." gumam Adam di dalam hati.

__ADS_1


Ia tersenyum melihat kebersamaan Kinara dan Ali.


"Kinara, Bang Ali. Maafkan saya sebelumnya. Saya tidak bermaksud ingin mengambil posisimu. Sekarang saya baru sadar. Jika posisimu tidak akan tergantikan dengan yang lain. Terimakasih Nara. Hari ini kamu dan suami mu sudah memberikan pelajaran berharga untukku. Maafkan kesalahanku, Bang Ali. Kami sekeluarga mohon maf yang sebesar-besarnya karena telah mencoba mematahkan semangat dan kebahagiaan Kinara yang sebenarnya kebahagiaan itu ada pada suaminya. Baiklah. Kami harus pulang sekarang. Akan kami kirimkan surat undangan nanti saat saya menikah!" kelakaranya dan ditertawai oleh semua orang.


Tetapi tidak dengan Kinara. Ia menatap Adam dengan sendu. Ali memegang kedua tangannya. Kinara tersenyum.


"Maafkan aku Adam. Bukan aku tidak ingin menerima mu. Tetapi inilah takdir ku. Ku harap kamu mengerti. Dan kamu secepatnya menikah dengan seseorang yang lebih baik dariku.."


Adam tersenyum, "Tentu. Ayo pi, mi. Kita pulang. Kami pamit Bang Lana, Om tante, dan Bang Ali. Nyonya dan Tuan Raja. Saya pamit! Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikum salam.. Maafkan kami tuan Sudirman." jawab papi Gilang dengan memeluk Jendral Sudirman dengan erat.

__ADS_1


"Tak apa tuan Gilang. Berarti kita tidak berjodoh. Mana tau nanti cucu kita pula yang berjodoh?" kelakarnya yang disambut tawa oleh semau yang ada disana.


Keluarga Jendral Sudirman pun pulang dengan tangan hampa, tetapi merasa bahagia karena suami Kinara sudah kembali lagi.


__ADS_2