Penantian Kinara

Penantian Kinara
Sarapan Pagi kesiangan


__ADS_3

Ali mengurai pelukannya dari tubuh Kinara, ''Kita sarapan?''


Kinara terkekeh, ''Makan siang kali, Abang!''


Ali tertawa. ''Sarapan pagi yang sudah kesiangan sayang. Sini duduk.'' Ali menarik tangan Kinara untuk di sofa kamar mereka berdua.


Kinara tersenyum, ''Terimakasih suamiku, maaf tidak bisa masak sarapan pagi untukmu,''


Ali terkekeh, ''Tak apa sayang. Masih ada sisa makanan tadi malam yang masih bisa kita makan berdua. Tidak baik membuang makanan kan? Selagi makanan itu masih bisa untuk kita makan, apa salahnya?''


''Benar sekali! Mami pun sering ngomong kayak gitu. Contohnya nasidingkn tadi malam yang tidak habis. Mami sering kali membuat nya menjadi nasi goreng Irak Atik telur untuk kamu semua. Papi tidak pernah marah. Malah Papi senang kalau Mami sering masak makanan seperti itu. Kata Papi, Papi dulu jatuh cinta sama Mami bukan hanya dari wajah dan juga hatinya. Tapi juga dari makanan yang Mami sering masak saat Papi berkunjung ke rumah Mami dulu saat kak Annisa masih bayi.'' Cerita Kinara pada Ali.


Ali tersenyum dan mengangguk, ''Kamu benar. Abang salut sama Papi. Padahal kalau di pikir kan, Mami itu lebih tua kan ya dari Papi? Apa Papi tidak merasa kalau dirinya menyukai tante-tante begitu?''


Kinara tertawa mendengar ucapan Ali. ''Sbang ada-ada saja omongan nya. Kalau Papi dengar, Abang bakalan di marahin karena mengatai Mami Tante-tante!''

__ADS_1


Ali yang sedang menyuapi Kinara msjdn pun ikut tertawa. ''Haha.. kamu sayang. Ini kan lagi dirumah kita?? Bukan dirumah Papi! Abang sangat ingin mendengar kisah tentang mereka berdua dari kamu versi Mami. Kalau versi Papi, Abang udah pernah dengar dari bang Lana saat di perbatasan dulunya saat pertama kali bertemu.''


Kinara tersenyum dengan mulut terus mengunyah makanan yang Ali supir dengan tangannya langsung. ''Tentu, setelah kita sarapan pagi yang sudah kesiangan ini adek ceritakan sama Abang versi Mami!''


Ali mengangguk setuju. Mereka berdua makan dengan lahap dengan sisa nasi uduk yang sudah Kinara panaskan di dalam cosmos. Sebelum tadi malam mereka mulai bertempur.


Selesai makan, Kinara mencuci piring makan mereka dibantu Ali. Setelahnya mereka kembali duduk di ruang tamu yang masih bertabur bunga mawar merah dan juga tirai-tirai tipis yang melambai-lambai.


Kinara duduk lesehan dilantai yang beralaskan Ambal beludru miliknya. Sementara Ali mendekati jendela dan membuka tirai itu hingga terlihat Jiak diluar matahari sudah begitu terik panasnya.


Ali mendekati Kinara dan merebahkan dirinya dipangkuan Kinara yang saat ini sedang berselimut sembari mengupas buah jeruk dan apel yang Ali inginkan.


''Ah.. sedapnya kalau sudah punya istri! Ayo, ceritakan sama Abang bagaimana pertama kali pertemuan Mami sama Papi versi Mami!''


Kinara tertawa. ''Penasaran banget ya?''

__ADS_1


''Hooh.''


''Baiklah, ehem kita mulai ya? Pertama kali Mami ketemu Apoi itu saat mereka di usir pergi oleh ayah Emil karena Mami sudah di berikan pada malam itu. Mami membawa ketiga anaknya yang saat itu baru lahir, entah kemana. Tujuan Mami saat itu harus pergi. Tapi tidak ingin kembali ke ruang Kakek yang ada di Aceh.'' Kinara menghela nafas sesak


Ali mengelus tangan Kinara dengan lembut, ''Kalau tidak sanggup, jangan diceritakan! Cukup sampai disini saja..'' lirih Ali tidak tega melihat mata Kinara yang mulai berkaca-kaca.


Kinara menggeleng dan tersenyum, ''Tak apa Bang. Abang harus tau seperti apa kejadian kedua orang tua kiat bertemu dulu. Kehidupan percintaan mereka berdua itu tidaklah mulus. Begitu banyak rintangan nya salah satunya Opa dan Oma kita!''


Ali terkejut. ''Kok bisa?!''


Kinara tersenyum namun, sendu. ''Saat itu Mami membawa ketiga anak nya tanpa arah dan tujuan. Mereka berjalan terus setelah tiga kali turun angkot waktu itu. Hingga tiba di perberhentian angkot terakhir, Mami memilih berjalan kaki. Tapi bang Lana saat itu sangat kehausan. Ia meminta kami untuk membeli air minum dan Roti. Mami menyuruh kak Ira, tapi Abang yang memaksa beli. Hingga bang Lana menyeberang jalan raya untuk membeli roti di warung seberang jalan itu.''


''Bang Lana membeli roti di warung itu dengan cepat. Namun, karena penjualnya sudah tua, jadi agak lambat mengembalikan uang kembalian pada bang Lana. Bang Lana cemas saat itu ketika melihat anak sekolah begitu banyak di luar warung itu. Karena panik, Abang segera berlari dan menuju seberang sana. Tapi yang tidak di duga, Abang dihadang oleh si kepala tawuran dan dipukuli olehnya hingga jatuh tersungkur. Hiks..'' Kinara terisak.


''Sudah.. jangan dilanjutkan. Udah, Abang nggak mau kamu nangis kayak gini.''

__ADS_1


''Hiks, tak apa bang. Adek harus cerita sama Abang. Ini pengalaman Mami yang menjadi pedoman adek di dalam berumah tangga.'' Ucap Kinara walau dengan terisak-isak.


__ADS_2