
Seminggu berlalu sejak kejadian dimana Nara memarahi kedua sahabatnya itu. Kini kedua sahabatnya itu semakin menjauh darinya. Nara tau, jika ia sudah bertindak terlalu keras pada kedua sahabatnya itu. Tapi ia bisa apa? Dikala hatinya sedang gundah, malah di buat kesal oleh sahabatnya sendiri.
Hari ini semua sekolah sudah libur bagi yang kelas tiga karena sudah selesai mengikuti ujian akhir. Kini, Nara sedang bersiap untuk berangkat menuju bandara bersama Mami dan Papi Gilang.
Kedua orang tuanya itu sudah menginap dirumahnya agar tidak terlalu jauh bolak balik ke rumah mereka. Karena jarak dari rumah mereka ke bandara Kualanamu lumayan jauh.
Sementara dari tempat Nara, lumayan dekat walau harus menyita waktu sekitar satu jam juga. Tapi masih lumayan ketimbang rumah Mami dan Papinya.
''Sudah siap?'' tanya Papi Gilang sembari mendekati putri bungsunya itu dan membawanya ke tepi meja ruang tamu. Karena Mami Alisa sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga.
''Sudah Pi. Udah Mi. Biar Adek aja yang nerusin. Mami bersiap aja dulu. Kita makan bersama ya?'' lirihnya mendadak sendu.
Papi Gilang memeluknya dengan erat. ''Sudah.. jangan sedih gitu ah. Mau adek kalau Gading juga ikutan sedih karena melihat wajahmu yang mendadak sendu begini??''
Nara menggeleng, ia memaksakan senyum. Walau hatinya sedang gelisah tidak menentu dan entah karena apa. Yang jelas di dalam pikirannya saat ini adalah sang suami tercinta nan jauh disana sedang bertugas menjaga perbatasan.
''Iya Nak.. jangan sedih gitu ih. Mami nggak suka!'' ketus Mami Alisa pura-pura kesal pada putri bungsu nya itu.
Nara terkekeh, Papi Gilang pun ikut terkekeh. ''Tuh, kalau ratu Papi udah ngambek kayak gitu, itu artinya kamu tidak boleh sedih lagi. Mau di kacangan hingga seminggu oleh ibunda ratu mu??'' goda Papi Gilang pada Mami Alisa.
PLAKK..
''Hahaha... beneran ngamuk sayang ibunda ratu mu ini! hahaha...'' kata Papi Gilang semakin gencar menggoda Mami Alisa.
__ADS_1
Nara tertawa terbahak melihat Mami Alisa memukuli sang Papi hingga berulang kali. Tapi pukulan itu hanya seperti kilasan saja buat Papi Gilang. Nara tertawa melihat kedua orang tua nya itu.
''Hemm.. andai Abang disini. Abang jadi pulang kan ya? Adek kangen banget sama Abang. Tapi tak apalah. Bulan depan kan abang udah pulang? Adek berharap, kalau Abang akan hadir saat acara perpisahan adek nanti. Semoga saja..'' lirih Nara dalam hati.
Hati dan pikiran berkelana tapi bibir menunjukkan senyum manis kepada kedua orang tuanya.
Mulut tertawa hati menangis.
Inilah yang Nara rasakan saat ini. Papi Gilang dan Mami Alisa tau jika Nara sedih karena memikirkan Ali. Tapi mereka bisa apa?Jika Nara sendiri tidak ingin menceritakan masalah nya pada kedua orang tua nya itu??
Papi Gilang dan Mami Alisa saling pandang kemudian menghela nafas panjang. Setelahnya mereka berdua sarapan pagi karena keberangkatan mereka ke Jakarta tengah hari nanti. Pukul sebelas siang. Dan akan sampai di Jakarta pukul satu lewat sedikit.
Selesai makan, Mami Alisa dan Papi Gilang yang masih memakai kain sarung dan baju batik biasa, kini masuk ke kamar mereka untuk mandi dan bersiap.
Sementara Nara menyiapkan bekal serta semua piring itu ia bersihkan. Hingga ketika Mami dan Papinya turun, semua itu sudah beres.
''Ayo kita berangkat. Mobil kita udah nunggu di depan!'' kata Papi Gilang pada Nara.
Nara mengernyitkan dahinya. ''Mobil? Bukannya Abang yang antar kita ya?''
Papi Gilang tersenyum, ia menuntun putri bungsunya itu untuk keluar. ''Supir Papi dan juga Abang mu sedang kerumah kakak ipar mu Tiara. Entah apa yang terjadi dengan mereka berdua hingga harus berpisah seperti itu. Hah. Cobaan lagi untuk anak-anak Papi. Semoga ujian ini bukan makin membuat kalian terpuruk. Tapi malah sebaliknya. Ya? Kamu dengar? Adek harus kuat dengan apapun yang terjadi. Ambil hikmah dari semua kejadian yang sedang menimpa rumah tangga mu. Sama seperti Abang mu saat ini.''
Nara tersenyum, ''Tentu Pi. Apapun itu, adek harus seperti Mami. Mami pedoman adek dalam berumah tangga. Mami banyak mengajarkan ilmu kepada adek saat Papi kerja.''
__ADS_1
Papi Gilang menoleh pada Nara, ia tersenyum dan mengangguk. ''Iya kah? Setau Papi enggak deh. Malahan ada Papi yang selalu ngingetin kamu??'' goda Papi Gilang pada Nara.
Tujuannya satu. Yaitu Mami Alisa. Nara tertawa saat melihat Mami Alisa mencebik. Sedang Papi Gilang langsung ngeloyor masuk dan duduk di depan bersama supir rental yang akan mengantar mereka menuju ke bandara Kuala namu.
Nara sering tertawa saat bersama kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Ali disana. Apalagi saat ini ada Fatir, prajurit baru yang di utus untuk menemani Lana dan Ali.
''Kamu kuat Ali. Abang yakin itu. Cuma sebulan lagi kok. Masa' iya pengantin baru wajahnya kusut saat pulang nanti? Yang ada nantinya malah Abang di tuduh membuat kamu badmood kayak gini hingga wajah di tekuk masam kayak jeruk nipis! Kecut! Nggak enak banget di pandang! Kalau ada Gading disini, sudah habis kamu di ganggu olehnya! Hadeuuhh.. kasihan sekali bocah itu! Mana sakitnya di bagian penerus bangsa lagi! Ck. ck. ck. Kasihan...'' lirih Lana pura-pura sedih.
Fatir tertawa terbahak sedangkan Ali terkekeh melihat wajah Lana yang dibuat se iba mungkin.
''Hanya ini yang bisa Abang lakukan untukmu dek. Semoga suami kamu sanggup bertahan. Sebulan lagi kok. Hanya saja Abang merasa aneh dengan nya.
Kenapa ia selalu menghindar saat duduk dengan kami di camp? Ia lebih senang duduk sendiri dan merenung. Ia selalu melihat wajahmu melalui ponsel miliknya.
Andai disini ada signal, pastilah wajah keruh Ali bisa jernih lagi. Ck. Mana Abang juga kangen sama kakak mu Dek! Hadeeeuuhh .. setelah tugas ini selesai Abang tidak mau lagi pergi meninggalkan kalian semua! Hadeeeuuhh .. sangat menyiksa euuyy..! '' bisik Lana dalam hatinya saat melihat Ali tertawa karena lelucon dari Fatir.
Mimpi.
Merupakan tabir rahasia yang tidak kita ketahui arti dari maksudnya. Saat mimpi itu terjadi, kita baru sadar. Jikalau mimpi itu merupakan petunjuk untuk kejadian di masa depan untuk kita.
Entah baik dan buruk cuma Allah lah yang tau. Kita sebagai manusia tetap harus percaya kepada Allah. Semua itu petunjuk dari Allah.
Hanya saja kita tidak tau dan tidak paham arti maksud dari mimpi itu sebelum terlihat dan terjadi pada kita.
__ADS_1
Begitu juga dengan Ali. Mimpi buruk itu terus menggentayangi hidupnya beberapa bulan ini. Berulang kali melupakan, tetap saja mimpi itu selalu muncul di benaknya.
Seakan nyata semua itu akan terjadi di depan matanya.